ASIAN PERSPECTIVES

Asian Cinema, A Thousand Faces

oleh Ismail Basbeth dan Reza Fahriyansyah

In line with our belief underlying the Asian Feature program, we apply the same spirit as the life of Asian Perspectives, a non-competition program consisting of Asian fictions, both features and shorts. This program is the new face of a program previously known as the Non-Competition Asian Feature that has existed since the very beginning of the festival. This program will focus on Asian fictions from the rookies, the well-known filmmakers, and also films by maestros demonstrating the diversity of form, development, and vision of the future of Asian cinema from many perspectives.

By recognizing the director’s personal perspective in comparison to the collective perspective of a particular territory, the artistic identity of that director’s unique personality will be obvious. The stronger the artistic identity, the more it affects the development of the film industry and film discourse within local and global frameworks, also the more influences it has on fellow filmmakers, film critics, and film enthusiasts, and audiences. By this fact, the director’s name will turn into a commercial commodity which might determine whether or not the audiences come to the cinema (or alternative screening spaces), whether or not the film becomes the trending topic in film discourse. Although, not all unique directors will have wider audience around the globe, at least the film fans and aficionados will assist the establishment of a commercial product which can be served as a commodity with certain economic value; it is to ensure that the directors can get on with their life and make the best films in the future.

Jogja-NETPAC Asian Film Festival takes the position as the one connecting diverse and “fluid” audiences, activists, and Asian filmmakers. Such relationship is presented in our diverse programs with different frameworks in order to see and follow the development of Asian cinema closely and personally, also to capture various films emerging in multi-perspective and diverse political, economic, art and cultural situations.

Through the films in this program, we desire to experience Asia’s diversity coming in the form of many aesthetic explorations. In Love and Other Cults by Eiji Uchida, we will watch a funny yet strange story about the life of Japanese teenagers. In Women of the Weeping River by Sheron Dayoc, we will find a story about a woman who is trapped in an ideological and physical warfare in Mindanao, the Philippines. In the short film Prelude to General by Pimpaka Towira from Thailand and C’est La Vie by Ratrikala Bhre Aditya from Indonesia, we will see and experience a political structural military pressure and its impact on civil society in a completely different aesthetic approach.
All films selected in this program capture Asian films with their thousand faces for the sake of practicing, experiencing, and learning the life of the diverse Asian culture.

Have a good time watching.

Sinema Asia, Beribu Wajah

oleh Ismail Basbeth dan Reza Fahriyansyah

Senada dengan keyakinan kami dalam program Asian Feature, semangat yang sama juga kami gunakan sebagai nyawa dari program Asian Perspectives yang merupakan program nonkompetisi dari film-film fiksi Asia, baik berdurasi panjang maupun pendek. Program ini adalah wajah baru dari program yang sebelumnya bernama Asian Feature Non-Kompetisi yang telah ada sejak festival ini diadakan pertama kali. Program ini akan fokus mengikuti film-film fiksi Asia dari para pendatang baru, para pembuat film yang telah dikenal sebelumnya, ataupun film-film karya para maestro yang menunjukkan keragaman bentuk, pengembangan, dan penglihatan masa depan sinema Asia dari berbagai macam perspektif.

Dengan dikenalinya perspektif personal seorang sutradara dalam perbandingannya dengan perspektif kolektif teritori tertentu, maka identitas artistik yang khas dan personal dari sutradara tersebut akan tampak. Semakin kuat identitas artistik tersebut, semakin besar pengaruhnya terhadap perkembangan industri film dan pengembangan pengetahuan film dalam kerangka lokal maupun global, juga pengaruhnya terhadap sesama pembuat film, kritikus film, penikmat, maupun penonton film. Kenyataan ini dengan sendirinya akan membuat nama sutradara tersebut menjadi komoditas dagang yang mampu memengaruhi datang atau tidaknya penonton ke bioskop (atau ruang pemutaran film alternatif), ataupun dibicarakan atau tidaknya sebuah karya dalam wilayah pengetahuan film. Meski tidak semua sutradara yang khas akan mampu memiliki penonton yang mencakup seluruh dunia, paling tidak penggemar dan penikmat filmnya akan membantu terbentuknya ceruk ‘dagang’ yang bisa dijadikan komoditas dan bernilai ekonomi, untuk membantu memastikan sutradara-sutradara tersebut dapat melanjutkan hidup dan membuat film-film terbaik selanjutnya.

Jogja-NETPAC Asian Film Festival meletakkan dirinya sebagai penghubung antara penonton, pelaku, dan pembuat film Asia yang begitu beragam dan “cair”, yang terpapar pada program-program yang juga beragam dan berbeda bingkai demi melihat dan mengikuti perkembangan film-film Asia secara dekat dan personal, demi menangkap berbagai macam film yang lahir dari situasi politik, ekonomi, seni dan budaya yang juga beragam dan multiperspektif.

Melalui film-film dalam program ini, kami berharap kita mampu mengalami Asia yang beragam dalam eksplorasi estetis yang juga beragam. Pada film Love and Other Cults karya Eiji Uchida kita disuguhi sebuah kisah yang begitu lucu sekaligus janggal tentang kehidupan remaja di Jepang. Dalam film Women of the Weeping River karya Sheron Dayoc kita mendapati kisah seorang perempuan yang terjebak dalam perang ideologis dan fisik di Mindanao, Filipina. Dalam film pendek Prelude to General karya Pimpaka Towira dari Thailand dan C’est La Vie karya Ratrikala Bhre Aditya dari Indonesia, kita akan melihat dan mengalami tekanan struktural militer yang politis—dalam pengaruhnya pada kehidupan sipil dengan pendekatan estetis yang sama sekali berbeda.
Seluruh film dalam program ini dipilih untuk menangkap film-film Asia yang memiliki beribu wajah, demi menghayati, mengalami, dan mempelajari kehidupan serta budaya Asia yang beragam pula.

Selamat menyaksikan.

FEATURES

A Letter to the President


Roya Sadat/83 minutes/2017/Kazakhstan/Fiction

Kupal

Kazem Mollaie/81 minutes/2017/Iran/Fiction

Last Laugh

Zhang Tao/82 minutes/2017/China/Fiction

Love and Other Cults

Eiji Uchida/95 minutes/2016/Japan/Fiction

Sound of Silence

Bijukumar Damodaran/89 minutes/2016/India/Fiction

Sveta

Zhanna Issabayeva/95 minutes/2017/Kazakhstan/Fiction

The Children of Genghis

Zolbayar Dorj/101 minutes/2017/Mongolia/Fiction

Village Rockstars

Rima Das/87 minutes/2017/India/Fiction

 

 

Women of the Weeping River

Sheron Dayoc/146 minutes/2016/ Philippines/Fiction

 

SHORTS

 

C’est La Vie

Ratrikala Bhre Aditya/19 minutes/2017/Indonesia/

 

 

Journey to the Darkness

Mohammad Mozafari/20 minutes/2017/Indonesia, Iran/Fiction

 

Online Shopping

Ghasideh Golmakani/15 minutes/2017/Iran/Fiction

 

Prelude to General

Pimpaka Towira/11 minutes/2016/Thailand/Experimental

 

Strnge Plce

Chloe Yap Mun Ee/29 minutes/2016/Malaysia/Fiction

 

The Eternal Journey

Sunil Pandey/15 minutes/2016/Nepal/Fiction

 

The Hose

Mansour Forouzesh/14 minutes/2015/Iran/Fiction

 

The Illusion Seller


Sharofat Arabova/22 minutes/2017/Tajikistan/Fiction

The Silence of the Dogs

Hyun Cheol Park/20 minutes/2017/Korea/Fiction