fluidity

The 12th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) chooses “Fluidity” as its theme. Like the nature of fluid (water), this theme underscores the state of Asian cinemas that keep changing and evolving yet retaining their core character. While socio-cultural transformations are inevitable, it is undeniable to preserve the true nature of Asian cinema.

Fluidity can be interpreted as the flexibility of cinema in embracing many fields of arts. As is well known, cinema has long been dubbed as “the seventh arts,” but the way cinema mixes with other arts cannot be determined with ease.  In other words, cinema continues to expand constantly from its beginning to its contemporary context in terms of forms and contents due to the response to technological changes and socio-political circumstances as well as the result of the interaction with the wider world.

Therefore, JAFF 2017 will expand the networks of artistic collaboration with other artists such as music composer, costume designer and the like.  Furthermore, JAFF is currently including the Pacific (or in the broader sense  “Oceania”), which perhaps, the term fluidity can be attributed to the role of water part (maritime area) as a connector among islands and their inhabitants in that region.

Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-12 memilih “Fluidity” sebagai tema festival.  Sebagaimana hakikat cairan  (air), tema ini menggariskan kondisi sinema Asia yang senantiasa berubah dan berkembang kendati tetap mempertahankan karakter utamanya. Sementara transformasi sosio-kultural merupakan kenyataan yang tak terelakkan, sulit ditampik keniscayaan mempertahankan karakter sejati sinema Asia.

Fluidity bisa dimaknai sebagai fleksiblitas (kelenturan) sinema dalam berhadapan dengan beragam cabang seni. Kita tahu, sinema telah lama disebut sebagai “cabang seni ketujuh,” tetapi bagaimana proses film bersenyawa dengan cabang seni lain kerapkali tak gampang dipastikan. Dengan kata lain, sinema terus-menerus meluas, baik bentuk maupun muatannya, sejak ia lahir hingga konteks sekarang sebagai bentuk respon terhadap revolusi teknologi dan perubahan situasi sosio-kultural serta buah dari interaksi sinema dengan dunia yang lebih luas.

Karena itu, JAFF 2017 akan memperluas jaringan kolaborasi artistiknya dengan pelbagai seniman seperti penggubah musik, penata busana dan sebagainya. Di samping itu, ketika JAFF meluaskan cakupannya hingga ke wilayah Pasifik (atau dalam istilah yang lebih luas “Oceania”), maka istilah fluidity bisa dilekatkan pada wilayah perariran (maritim) yang menjadi penghubung pulau-pulau beserta penghuninya di kawasan itu.

JAFF 2017, BERKEMBANG DALAM FLUIDITY

erhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-12 pada tanggal 1–8 Desember 2017 tidak terasa sudah semakin dekat. Taman Budaya Yogyakarta, Cinema XXI, CGV Cinemas, hingga Taman Tebing Breksi akan menjadi saksi semaraknya salah satu festival yang...

read more

HENING, MENHUNJAM LUKA NAMUN MEMUKAU PENONTON

Pemutaran perdana di Indonesia Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak (07/11) sukses membuka perjalanan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-12. Film ini berhasil menjaring animo dan tanggapan positif dari masyarakat.

read more

DARI JOGJA UNTUK FILM ASIA

Ada pembaruan yang pantas diketahui publik terkait pelaksanaan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-12, yakni kemunculan program Asian Perspectives. Tahun sebelumnya, program itu berupa satu program non-kompetisi di bawah naungan program Asian Feature. Namun, perubahan itu tidak sekadar memberi nama tanpa makna, melainkan mendeskripsikan dedikasi JAFF untuk dunia perfilman Asia.

read more

Founded by:

logo_jaff-jogja  

JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL
Jl. Kebun Raya 41A, Rejowinangun, Kotagede, Yogyakarta, Indonesia 55171
Phone: +62.274.387872 | Email: info@jaff-filmfest.org
© 2017 Jogja-NETPAC Asian Film Festival. All Rights Reserved.
Dev by: zulfan