PUBLIC LECTURE

A NOTE ON PUBLIC LECTURE

 

 

Fluidity, the theme brought forward by JAFF this year, can be interpreted as the flexibility of cinema and its surroundings, including the development of scientific researches on film itself. Thus, in the current edition of Public Lecture, JAFF attempts to connect the ideas circling around films by presenting six seminar sessions and ten research abstracts in the corridor of film discourses.

This year, Public Lecture is presented by the collaboration between JAFF and Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (Centre for Southeast Asian Social Studies Gadjah Mada University). We strive to look closely on the issues of identity contained within short films under the theme ASEAN Identity in Short Film. All this time, ASEAN is more frequently understood as a merely economic region, while putting aside its cultural aspects. As a region possessing a high cultural diversity, it is a challenge to build a certain identity of ASEAN. Beforehand, it is important for us to be in the same frequency concerning what the meaning of ASEAN identity exactly is. And how does such identity emerge in the form of short film?

Last year, in Public Lecture, we presented a number of themes regarding Asia Pacific. We realized that a lot of things were left undiscussed. Hence, this year we come up with a theme about Asia Pacific Film in Digital World. We expect that it will be the theme through which the curiosity left by the discussion a year ago can be satisfied. At once, it aims at examining how the Asia Pacific films adapt and take the opportunities offered in the digital era for the sake of their advancement.

Not merely discussing the other regions, this year we take a look at a particular phenomenon occurring in Indonesian cinema. In Indonesian Film Audience, we are going to discuss how Indonesian film audience keeps the country’s film industry going. In addition to occupying screening spaces, Indonesian film audience are getting more active in responding to the works via social media. Consequently, the interaction between filmmakers and the audience may pop out just anywhere.

Other than discussing the audience, we give a space as well for the filmmakers through the discussion themed Distribution and Film Funding. Through the discussion, we expect that the filmmakers, both novices and professionals, will be aware of the importance of distribution and capable of arranging distribution and funding strategies for the film projects they are working on. Hence, the films may have a certain sustainability.

Interaction between film and other forms of art is inevitable.  Under the theme Film and Performance Art, we are about to look at the intersections of the two forms of art. The collaboration of the two may even create a new form of art as presented in Nyai by Garin Nugroho. Such a new form opens up to the opportunity of idea development both of film and of performance art. It does not rule out the possibility of another interaction between film and other forms of art in the future.

Public Lecture consistently creates a space of interaction between film and literacy through book discussions. This time, we facilitate such space by organizing the Book Discussion: New Indonesian Cinema & Film, Ideologi dan Militer. These two books are relevant since they discuss Indonesian cinema in certain periods. Film, Ideologi, dan Militer (Film, Ideology, and Military) talks about how films were utilized as propaganda tools back then. While New Indonesian Cinema reviews the condition of Indonesian cinema in the more contemporary era.

Other than six seminar sessions, JAFF in collaboration with PSSAT UGM organized Call for Research Poster that invited the researchers focusing on cinema studies. They are going to present their researches during the implementation of Public Lecture activities. By these presentations, we really hope that JAFF’s audience may enjoy an outright festival.

Dyna Herlina

Chief of Public Lecture

CATATAN PUBLIC LECTURE

 

 

Tema fluidity yang diusung JAFF tahun ini bisa dimaknai fleksibilitas sinema dan segala sesuatu yang melingkupinya termasuk dengan perkembangan riset ilmiah tentang film itu sendiri. Karenanya di Public Lecture edisi kali ini, JAFF berupaya menghubungkan gagasan-gagasan yang ada di seputar film dengan menyajikan enam sesi seminar dan sepuluh presentasi abstrak riset dalam koridor wacana periflman.

Tahun ini, JAFF bekerjasama dengan Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada (PSSAT UGM) dalam penyelenggaraan Public Lecture. Kami berupaya melihat masalah identitas dalam film pendek yang akan dibahas dalam tema ASEAN Identity in Short Film. Selama ini ASEAN lebih sering dimaknai sebagai satu kawasan ekonomi saja sedangkan aspek budayanya kerap kali luput. Sebagai kawasan yang memiliki diversitas budaya yang tinggi, membangun identitas ASEAN menjadi tantangan yang harus dihadapi. Sebelumnya, penting untuk sependapat tentang seperti apakah yang dimaksud dengan identitas ASEAN itu sendiri? Dan bagaimana itu muncul dalam bentuk film pendek?

Pada pagelaran Public Lecture tahun lalu kami telah menyajikan tema seputar Asia Pasifik. Kami menyadari ada banyak hal yang belum dibicarakan pada tahun lalu. Untuk itu kami membawa tema Asia Pacific Film in Digital World. Harapannya tema ini bisa melunasi rasa ingin tahu yang belum terpenuhi di tahun lalu. Sekaligus melihat bagaimanakah film dari wilayah Asia Pasifik mampu beradaptasi dan memanfaatkan peluang di era digital untuk kemajuannya.

Tidak hanya tema-tema di region lain, tahun in kami juga melihat ada fenomena unik dari sinema tanah air. Lewat Indonesian Film Audience kita akan membahas bagaimana penonton film Indonesia mampu menjadi penggerak indutri film di tanah air. Selain mengisi bangku pada ruang-ruang putar, penonton film Indonesia juga semakin aktif dalam merespon karya pembuat film melalui media sosial. Sehingga ruang interaksi antara pembuat film dan penonton bisa muncul di mana saja.

Selain penonton, kami juga mencoba memberikan peluang bagi pembuat film melalui tema Distribution and Film Funding. Harapannya melalui tema ini, para pembuat film baik pemula maupun profesional sadar akan pentingnya distribusi dan mampu membuat strategi distribusi dan pendanaan bagi proyek film yang mereka miliki. Sehingga kesinambungan karya dari pembuat film bisa terbentuk.

Interaksi film dengan bentuk kesenian lain adalah hal yang tidak bisa dihindari. Pada tema Film and Performance Art kami megajak melihat singgungan antara film dengan seni pertunjukkan. Bahkan kolaborasi keduanya mampu menciptakan bentuk baru dalam kesenian sebagaimana yang ditampilkan dalam Nyai karya Garin Nugroho. Bentuk baru ini membuka peluang perkembangan gagasan baik bagi film maupun seni pertunjukkan itu sendiri. Ini juga tidak menutup kemungkinan singgungan film dengan kesenian lain kedepannya.

Public Lecture memiliki tradisi untuk menciptakan ruang interaksi antara film dan literasi lewat diskusi buku. Tahun ini kami mencoba membuka kembali ruang tersebut dengan mengadakan Book Discussion: New Indonesian Cinema & Film, Ideologi dan Militer. Kedua buku ini penting karena membahas sinema Indonesia pada periode tertentu. Film, Idelogi dan Militer membahas bagaimana film di masa lalu dijadikan alat propaganda. Sedangkan New Indonesian Cinema membaca kondisi perfilman Indonesia di era yang lebih kontemporer.

Selain 6 sesi seminar, JAFF bersama PSSAT UGM menyelenggarakan Call For Research Poster yang menghadirkan peneliti-peneliti yang berfokus pada kajian sinema. Mereka akan mempresentasikan penelitiannya selama rangkaian Public Lecture digelar. Melalui persembahan ini kami berharap publik JAFF mampu menikmati rangkaian festival dengan sajian yang komplet.

Wednesday, December 6, 2017 | 13.00 – 15.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

Wregas Bhanuteja

Speaker

Amanda Nell Eu

Speaker

Tuesday, December 5, 2017 | 09.00 – 11.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

Maggie Lee

Speaker

Reza Rahadian

Speaker

Maxine Williamson

Speaker

Tuesday, December 5, 2017 | 13.00 – 15.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

David Hanan

Speaker

Budi Irawanto

Speaker

Lisabona Rahman

Speaker

Eko Prasetyo

Speaker

Wednesday, December 6, 2017 | 09.00 – 11.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

Anocha Suwichakornpong

Speaker

Agung Sentausa

Speaker

Sabrina Baracetti

Speaker

Monday, December 4, 2017 | 09.00 – 11.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

Tony Rayns

Speaker

Rukman Rosadi

Speaker

Garin Nugroho

Speaker

Monday, December 4, 2017 | 13.00 – 15.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

Hanung Bramantyo

Speaker

Dyna Herlina

Speaker

Meiske Taurisia

Speaker

Monday, December 4, 2017 | 11.00 – 12.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

Monday, December 4, 2017 | 15.00 – 16.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

Tuesday, December 5, 2017 | 11.00 – 12.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

Wednesday, December 5, 2017 | 11.00 – 12.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

Wednesday, December 5, 2017 | 15.00 – 16.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

Ade Nuriadin

Presenter

Annita

Presenter

Hanifa Eka Ramadhyani

Presenter

Joseph T Salazar

Presenter

Lidia Nofiani

Presenter

M. Hutomo Syaputra

Presenter

Nor' Anira Haris

Presenter

Novia Puspa Sari

Presenter

Putri R.A.E Harbie

Presenter