LIGHT OF ASIA 

Film Pendek dan Realitasnya

 

Dari awal kemunculan film, berbagai eksperimentasi medium film telah dilakukan, bahkan hingga melampaui batasan medium film itu sendiri. Lampauan batasan tersebut membawa film hadir sebagai medium yang  bisa mengungkap realitas. Realitas tersebut hadir secara bersamaan menggugah segala unsur inderawi dan perasaan kita. Saat menonton film mungkin kita akan menangis, marah, benci, senang dan tertawa. Caranya yang begitu universal membawa kita berdialog dan menyelami realitas yang kadang belum kita jumpai. Namun dengan caranya sendiri film bisa memberikan dampak pengalaman emosi dan ekspresi serupa yang dirasakan oleh siapapun dari belahan dunia manapun. Hal itu terjadi sebagai proses auto-ludic dimana film bermain dengan unsur paradoksal yang terjadi saling bergantian, subjek-objek, universal-khusus, baru-lama, dll. Proses tersebut justru meperlihatkan kita pengalaman baru bisa saja hadir dari kegelisahan akan banyak hal.

Film Asia dengan perspektifnya yang khas disetiap wilayah, justru menampakan kegelisahannya yang hadir dari berbagai konteks sosiologis, politis, dan filosofisnya. Kegelisahan yg hadir dari konteks tersebut justru menjadi proses pencarian jawaban akan masalah yang timbul.

Film-film pada program ini menyuguhkan perspektif khas sekaligus universal mengenai tanah dan kedirian / keakuan / eksistensial. Hal tersebut justru saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Kegelisahan itu yang justru tampak nyata ingin digaris bawahi sebagai pengalaman harian yang sudah, sedang dan akan dihadapi manusia. Mereka tidak hadir sebagai kepura-puraan semata tetapi hadir sebagai sesuatu yang nyata dalam setiap kehidupan dengan cerita yang berbeda.

Selanjutnya, semua film dalam program ini tidak hanya berusaha untuk memanjakan imajinasi kita pada permainan indah visual gambar gerak saja, tetapi mendaratkan kita pada perspektif mendasar mengenai kedirian kita yang justru timbul dari kegelisahan.

Akhir kata, Selamat menonton film-film dalam program ini dan selamat menyelam dalam realitas-realitas lain yang muncul dalam setiap filmnya.

Reza Fahri & Iyustinus Kristianto

Programmer

BLENCONG & STUDENT AWARDS

Nhà Ngoại (Grandma’s Home)

Nguyen Hoang Bao Anh/32 minutes/2018/ Vietnam/ Documentary

Elinah

Ninndi Raras/19 minutes/2018/ Indonesia/Fiction

The Moon is Bright Tonight

Abinash Bikram Shah/15 minutes/2018/Nepal & Myanmar/Fiction

House No. 15 (Don’t Forget to Wear A Smile)

Aryo Danusiri/5 minutes/2018/Indonesia & USA/Documentary

Kampung Tapir

Aw See Wee/17 minutes/2017/ Malaysia/Fiction

Saad’s Olive Tree  

Ahmad Zayeri /24 minutes/2017/ Iran/Fiction

Maja’s Boat

Wahyu Utami/15 minutes/2017/ Indonesia & Germany/Documentary

Kembalilah Dengan Tenang (Rest in Peace)

Reza Fahriyansyah /25 minutes/2018/ Indonesia/Fiction

Baga’t Diri Tuhay Ta’t Pamahungpahung (The Imminent Immanent)

Carlo Francisco Manatad/15 minutes/2018/Philippines, Singapore, Italy/Fiction

Kado (A Gift)

Aditya Ahmad/15 minutes/2018/ Indonesia/Fiction

Sambhavtaha (Probably)

Gaurav Madan /23 minutes/2017/ India/Fiction

Face Death with Wirecutter

Sarwar Abdullah/36 minutes/2017/Iraq/Documentary