COMMUNITY FORUM

Meningkatkan Kualitas Komunitas Film di Era Kemajuan Teknologi

 

Kini pergerakan komunitas film terasa semakin kuat dan tak terpatahkan, bahkan menyusup hingga ke pelosok daerah di Indonesia. Apabila dicermati melalui berbagai media online ataupun media sosial, bisa dikatakan bahwa hampir selalu ada kegiatan pemutaran film dalam bentuk pemutaran reguler maupun festival film yang digelar di setiap bulan. Ditambah lagi, kegiatan tersebut digelar secara sukarela atau lewat penggalangan dana dengan satu tujuan sederhana, yaitu menyediakan tempat bagi para sineas untuk menunjukkan karyanya. Tak jarang, forum diskusi langsung dengan para penonton secara langsung juga dilakukan.

Berawal dari mimpi dan dipacu dengan semangat berkarya, komunitas menjadi semakin produktif dalam memproduksi film dan membuka ruang pemutaran, walau terkadang hanya bermodal kenekatan yang ditopang oleh kemajuan teknologi semata. Namun, belum adanya pemetaan yang cukup valid untuk membaca fenomena muncul dan tenggelamnya komunitas film di Indonesia, segala potensi, persoalan yang dihadapi serta siasat-siasat untuk bertahan dan terus berkembang, mendorong kami untuk menghadirkan program diskusi khusus bertajuk Pemetaan Komunitas Film di Indonesia. Diskusi ini diisi oleh Cinema Poetica Research Center, sebuah lembaga kajian dan riset, dan diharapkan dapat menjadi udara segar untuk meninjau lebih lanjut peran komunitas film dalam dunia perfilman nasional.

Di era Milenial, kemunculan media-media alternatif sebagai sarana penghubung antara pelaku bisnis yang memerlukan ide atau konten video dengan komunitas sebagai penyedia konten kreatif menjadi sorotan kami selanjutnya. Untuk membicarakan hal ini kami mengundang Yoodeo dan Layaria untuk memberikan tawaran baru bagi komunitas. Selain itu, menjamurnya layar alternatif sebagai ruang yang dibentangkan oleh komunitas film demi membangun ekosistem menonton film di daerah, membuat kami tergerak untuk menyuguhkan workshop Pengelolaan Komunitas Pemutaran dengan pembicara dari Kolektif yang bertujuan untuk memberikan pendidikan film non-formal bagi komunitas.

Kami juga mendapatkan dukungan tambahan lewat kehadiran Kaninga Cinema yang akan mengajak komunitas film untuk membuat bioskop berkonsep mikrosinema atau bioskop mini dengan memanfaatkan ruang-ruang kosong di berbagai daerah seperti balai desa, gedung serbaguna hingga gedung olahraga dan mengubahnya menjadi tempat menonton film. Nantinya diharapkan bahwa permasalahan kekurangan ruang memutar dan ruang menonton dapat teratasi.

Ketika ruang untuk memutar sudah diperbanyak, maka kualitas film pun juga harus ditingkatkan. Oleh karena itu, workshop Journey From Camera to Screen dari Focused Education kami berikan sebagai bentuk upaya menjaga dan meningkatkan kualitas film yang diproduksi.

Tanpa menghilangkan agenda rutin dari forum komunitas, presentasi komunitas tahun ini akan dihadiri oleh 6 Komunitas dari 5 Pulau di Indonesia, yakni Beta Films Ambon, Komunitas Kedung Kebumen, Komunitas Photography Conceptual Cinematography Banjarmasin, Ambataro Production Kendari, Ruang Film Sukabumi, dan Tanah Indie Makassar.

A. Yani, Fauzi Rahmadani, Aulia Rizky, Said Nurhidayat

Improving the Quality of Film Community in the Era of Technology

 

Nowadays, the movement of film community seems to be getting stronger and overwhelming. It even penetrates the remote areas of Indonesia. If observed through various online media or social media, one can almost say that there is always a screening held, both in the form of regular screening and film festival, every month. Moreover, those activities are held through voluntary efforts or fundraising with a simple purpose of providing room for filmmakers to present their films. Direct discussion fórum with the audience are often done as well.

Started with a dream and encouraged by the spirit to create, communities become more productive in producing films or providing spaces for screening, though sometimes it is merely fueled by technology-powered recklessness. However, the absence of valid mapping that can be used in reading the ups and downs of Indonesian film communities, their potentials, the problems they face and the strategies to survive and continually develop encourage us to create a discussion program entitled Pemetaan Komunitas Film di Indonesia (Mapping Film Communities in Indonesia). The discussion will have Cinema Poetica Research Center, a research and study center, as its speaker. We hope that it can bring some fresh air and become a space to have a further observation on the role of film community within the world of national film.

In the era of Millenials, the emergence of alternative media as a medium to connect businessman who needs idea or video content with community as the creative content provider becomes our next concern. To discuss this, we invite Yoodeo and Layaria to give the communities some new offers. Furthermore, the increasing number of alternative screens as spaces offered by the film community in order to create regional film-watching ecosystem inspires us to hold a workshop entiled Pengelolaan Komunitas Pemutaran (Screening Community Management) from Kolektif which is aimed to provide non-formal film education for the community.

We also receive additional support from Kaninga Cinema that will invite film communities to create movie theaters implementing the concept of micro-cinema or mini cinema by using various ‘vacant’ places such as village hall, multi-purpose buildings, and sport center and turning them into screening venues. It is hoped that the problem regarding the lack of screening and film-watching spaces can be solved.

When the number of rooms for screening has been doubled, film quality should also be improved. Therefore, a workshop entitled Journey From Camera to Screen from Focused Education is given as an effort to preserve and improve the quality of the films produced.

Without erasing community forum’s routine agenda, this year’s community presentation will be attended by 6 communities from 5 islands in Indonesia, namely Beta Films from Ambon, Komunitas Kedung from Kebumen, Komunitas Photography Conceptual Cinematography from Banjarmasin, Ambataro Production from Kendari, Ruang Film Sukabumi, and Tanah Indie from Makassar.

Arief A. Yani, Fauzi Rahmadani, Aulia Rizky, Said Nurhidayat

PARTICIPANTS OF COMMUNITY FORUMS

1. BETA FILMS

screen-shot-2016-11-21-at-10-33-08-pm

Beta Films merupakan komunitas yang didirikan pada akhir Desember 2014, atas inisiatif Piet Manuputty. Ia adalah salah seorang anak muda yang pada mulanya bergelut dalam salah satu komunitas teater Secangkir di Kota Ambon. Ia kemudian hijrah dan memilih film sebagai medium untuk berkreasi. Beta Films saat ini bergerak dalam produksi film pendek dan program pemutaran film.

Beta Films is a film community which was established at the end of December 2014 and initiated by Piet Manuputty. He initially struggled in a theater community, Secangkir, located in Ambon City. He then moved out and chose film as a medium for creation. Beta Films is currently engaged in the production of short films and screening program.

2. PCC BANJARMASIN

pcc-banjarmasin

PCC Banjarmasin (Photography Conceptual Cinematography) berdiri sejak awal 2012. Komunitas ini awalnya fokus pada Photography Conceptual. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini akhirnya memiliki 2 divisi yaitu divisi fotografi dan divisi film pendek.

PCC Banjarmasin (Photography Conceptual Cinematography) was established at the beginning of 2012. This community was initially focused on Conceptual Photography. Over time, the community finally has two divisions, namely photography division and short film division.

3. TANAH INDIE MAKASSAR

logo_tanahindie_-_copy

Tanah Indie merupakan lembaga nirlaba yang didirikan sejak 1999. Lembaga ini mengutamakan programnya pada kajian & diskusi/seminar, lokakarya, pameran, perisalahan dan penerbitan bertopik beragam ekspresi dan perkembangan masyarakat kota mutakhir. Kegiatan Tanah Indie lainnya adalah gerobak bioskop Dewi Bulan, yaitu sebuah program dengan konsep layar tancap yang diadakan setiap bulan. Selain itu program lainya adalah pameran serta kerja kolaborasi yang berkaitan seni dan wacana kebudayaan.

Tanah Indie is a nonprofit organization, established in 1999. It conducts and holds studies and discussions/seminars, workshops, exhibitions, treaties and publication on various topics related to expressions and the development of the current urban communities. Tanah Indie also holds ‘cinema wagon’ called Dewi Bulan, a monthly open-air cinema program. Other programs are exhibition and other related collaborative work of art and cultural discourse.

4. AMBATARO PRODUCTION KENDARI

Ambataro Production adalah komunitas film Sulawesi Tenggara yang berdiri sejak 2009 yang saat ini berdomisili di Kota Kendari. Sebagai komunitas film, Ambataro Production berperan aktif dalam mengembangkan dan memajukan kegiatan perfilman di Sulawesi Tenggara.

Established in 2009, Ambataro Production is a Southeast Sulawesi film community, currently residing in Kendari City. As a film community, Ambataro Production has actively participated in developing and promoting the films from Southeast Sulawesi.

5. RUANG FILM SUKABUMI

ruang-film-sukabumi

Ruang Film Sukabumi merupakan penggiat film yang berbasis komunitas dan menjadi identitas perfilman Sukabumi, Jawa Barat. Komunitas ini bermarkas di Jl. Prana No.8A Cikole Sukabumi. Kegiatannya tidak jauh dari nonton
film, diskusi film, memutarkan film untuk warga Sukabumi (layar tancleb). Para anggota pun memiliki kegiatan membuat film pendek bersama-sama. Komunitas ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi anak muda Sukabumi. Didirikan pada 17 Agustus 2014 oleh Agus Permana, kegiatannya meliputi: Workshop Film, Produksi Film, Pemutaran Film, dan Perpustakaan Film.

Ruang Film Sukabumi is a community-based film activist group and a representative of Sukabumi, West Java, cinema. This community is located in Jl. Prana No.8A Cikole Sukabumi. They hold film screening, film discussion, and open-air cinema for Sukabumi people. The members also actively produce short films together. This community is expected to be a forum for young people in Sukabumi. Founded on 17 August 2014 by Agus Permana, their activities include Film Workshop, Film Production, Film Screenings and Film Library.

6. KOMUNITAS KEDUNG

komunitas kedung

Komunitas Kedung merupakan wadah untuk mengembangkan bakat dan minat terhadap film, video dan berbagai bentuk seni kontemporer dan seni media baru yang dijalankan secara gotong royong dan nirlaba.

Komunitas Kedung is a place to develop talent and interest in film, video and other forms of contemporary art and new media art; it is non-profit and run in mutual cooperation manner.

WORKSHOP & DISCUSSION

PUBLIC PRESENTATION