COMMUNITY FORUM

Consistency in Maintaining the Ecosystem of Film Community in Indonesia

by Arief Akhmad Yani, Said Nurhidayat, Mohammad Reza Fahriyansyah Aulia Rizky, Fauzi Rahmadani, Takdir Saputro

 

A film festival is an important part of film ecosystem (Production, Distribution, Exhibition, and Appreciation). A film festival is often able to bring together the activists coming from various sectors or fields—the organizer—and the audiences.

With Fluidity (to be fluid) as its theme, the 12th Jogja-NETPAC Asian Film Festival tries to maintain its consistency in becoming a medium for the film ecosystem itself. Through several attractive programs carefully arranged every year, JAFF tries to continuously a space for discussions regarding the film industry. It is highly expected that, through JAFF Community Forum, a network connecting the many fronts of the industry can be created.

The growth and development of film communities, whether realized or not, can enhance Indonesian film industry dynamically. They are indeed the vanguard of Indonesian film industry. Through Presentasi Komunitas, we can find out the extent to which film activities in several regions in Indonesia have developed. In this program, the chosen communities will talk about the programs they have.

To repeat the golden age that the Indonesian film industry had few decades ago, many alternative spaces need to be developed. One of the examples is the open air cinema. Layar Nusantara is a community screening Indonesian movies in various regions in the country that do not have the luxury of enjoying cinemas. Its activities are presented as fun fairs inviting the audiences to join a nostalgic moment through the open air cinema. Layar Nusantara will talk about ways of managing sponsors so as to achieve a more economically promising production, both for the activists and the film itself, as well as improving the economy of the locals.

Organizing film activities is not just about the projector, the screen, and the audience. There are many other things requiring attention, so it is no wonder that people often forget a thing or two. Before the film is seen by the audience, usually an announcement is required to invite the audience to come, and recent technological development has made this particular field improved rapidly. Yes, we are talking about publicity. Sometimes it is perceived as something trivial and not worth paying attention to, whereas it is actually a significant aspect determining whether a film is successful or not in the market. A session from GoodWork will give an introduction on the work of a publicist and film promotion scheme.

Participation in a film festival could serve as distinct charm and prestige for the activists. This is because a film festival can be used as a stepping stone to reach a higher level and serve as a achievement parameter measured from the awards received. A festival is a way of boasting one’s success that can bring together filmmakers and producer in a meeting, a meeting that may lead into a lucrative transaction.

Submitting his or her films to many competition festivals, the filmmakers are fully aware that not every movie will be screened or pick its way through the curatorial system and thematic selection. Therefore, for the movies not accepted in the festival, a big question remains, “What is the fate of the movies that do not qualify for the festival? Don’t they deserve an interaction with the audiences?” Sampah Festival is the place to have an inter-festival discussion which talk about the movies that do not make it through curatorial process and competition. Those movies are independently screened by JAFF Community Forum to answer the big question.

An appreciation is very important for a film. A filmmaker will be extremely delighted if his/her work becomes a popular topic within the society, both generally and academically. The most expected appreciation will be one coming from a critic, a film review. Community Forum presents a program called Nonton Film Di Venue which gives the audiences a chance to watch movies at JAFF venues. Furthermore, Nulis Yuk! is presented as a writing workshop intended as a sharing of knowledge about film appreciation and film festival.

This year, Community Forum tries to bring together communities that are more diverse than before. This meeting is expected to enable the communities to collaborate by making collective works.

Long Live Film Community!

Konsistensi dalam Mempertahankan Ekosistem Komunitas Film di Indonesia

Oleh Arief Akhmad Yani, Said Nurhidayat, Mohammad Reza Fahriyansyah Aulia Rizky, Fauzi Rahmadani, Takdir Saputro

 

Festival film adalah salah satu bagian penting dari ekosistem perfilman (Produksi, Distribusi, Ekshibisi, dan Apresiasi). Tidak jarang sebuah festival film mampu mempertemukan para penggiat dari berbagai sektor atau bidang, yang bertindak sebagai penyelenggara, dan penikmatnya atau penonton itu sendiri.

 

Dengan Fluidity (mencair) sebagai tema, Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-12 berupaya untuk tetap konsisten menjadi wadah bagi ekosistem perfilman. Melalui beberapa program yang menarik dan disusun secara saksama tiap tahunnya, JAFF mencoba tetap memberikan ruang berbagi dan diskusi yang berkaitan dengan dunia perfilman. Harapan besar dari festival ini adalah terbentuknya jejaring yang menghubungkan banyak lini industri perfilman melalui Community Forum JAFF.

Tumbuh dan berkembangnya sebuah komunitas, disadari atau tidak, mampu membuat geliat perfilman Indonesia semakin dinamis. Pantas sekali jika komunitas dianggap sebagai garda terdepan perfilman Indonesia. Melalui program Persentasi Komunitas, kita dapat mengetahui sejauh apa kegiatan perfilman di beberapa daerah di Indonesia berkembang. Dalam program ini pula, komunitas yang terpilih akan membicarakan program masing-masing.

Demi mengulang kembali kejayaan film Indonesia beberapa dekade lalu, ruang-ruang alternatif masih harus terus dikembangkan. Salah satu contohnya adalah kegiatan layar tancap. Layar Nusantara merupakan komunitas yang mengupayakan pemutaran film Indonesia di banyak tempat di penjuru Nusantara yang tidak terjangkau oleh bioskop. Kegiatannya dikemas dalam bentuk pasar malam yang mengajak penonton untuk bernostalgia dengan layar tancap. Layar Nusantara akan mengulik cara mengelola sponsor dengan baik supaya produksi dapat lebih menggembirakan secara ekonomi, baik untuk pelaku maupun produksi film itu sendiri, serta meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

Penyelenggaraan kegiatan-kegiatan perfilman lebih dari sekadar proyektor, layar, dan penonton. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan, dan wajar bila terkadang ada hal yang terlupakan. Sebelum film dipertemukan dengan penonton, penyelenggara perlu membuat pengumuman, sebuah ajakan untuk menonton, dan perkembangan terkini membuat bidang ini kian berkembang pesat. Ya, ini soal publisitas. Bidang ini kadang dianggap sepele dan jarang di perhatikan, namun nyatanya ia menjadi aspek penting dalam menentukan laku atau tidaknya sebuah film di pasaran. Paparan dari GoodWork akan memberikan pengenalan tentang kerja-kerja seorang publicist dan skema promosi film.

Keikutsertaan dalam sebuah festival film dapat menjadi pesona dan gengsi tersendiri bagi para penggiat film. Itu semua karena festival film dapat menjadi batu pijakan u melangkah ke tempat yang lebih tinggi dan menjadi ukuran pencapaian lewat penghargaan yang didapatkan. Ajang ini menjadi semacam ruang pamer prestasi yang mempertemukan sineas dan produser, sebuah pertemuan yang mungkin saja akan berlanjut ke suatu transaksi bernilai ekonomi.

Memasukkan filmnya ke banyak festival kompetisi, sineas cukup sadar bahwa filmnya belum tentu akan diputar atau lolos dari sistem kurasi dan seleksi tematis. Bagi film yang tidak lolos, ada sebuah pertanyaan yang mungkin selalu menghantui, “Bagaimana nasib film-film yang tidak lolos festival? Apakah mereka tidak layak berjumpa dengan penonton?” Sampah Festival menjadi ruang diskusi antarfestival yang membahas tentang film-film yang tidak lolos kurasi dan kompetisi. Fim-film tersebut sengaja diputar secara mandiri oleh Community Forum JAFF untuk menjawab pertanyaan tentang nasib film-film yang kurang beruntung.

Apresiasi sangatlah penting bagi sebuah film. Sineas akan sangat gembira apabila filmnya menjadi bahasan/pembicaraan di kalangan masyarakat penonton, baik secara umum maupun akademis. Apresiasi yang paling diharapkan adalah apresiasi kritikus dalam bentuk ulasan film. Community Forum menghadirkan Nonton Film Di Venue sebagai sebuah program yang memberikan ruang untuk menonton film di venue JAFF. Nulis Yuk! hadir sebagai workshop menulis yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan mengenai apresiasi film dan festival film.

Community Forum tahun ini berusaha untuk mengumpulkan dan mempertemukan komunitas-komunitas yang lebih beragam dari sebelumnya. Dari sebuah pertemuan ini, diharapkan kawan-kawan komunitas bisa saling berkolaborasi dengan membuat karya bersama.

Salam Komunitas!

 

PARTICIPANTS OF COMMUNITY FORUMS

 

Sinema Melayu – Pekanbaru, Riau

 

Sinelayu is a film community and at the same time a learning space founded in Jakarta by several Melayunese-Indonesian persons who love audiovisual media. Currently, Sinelayu is organized by two students of the Faculty of Film and Television, Jakarta Art Institute, namelu Ahmad Syafiq and Muthi’ah Khairunnisa. The recently established Sinelayu will focus on film production and appreciation with the theme regarding Melayunese culture.

 

 

 

Sinelayu adalah sebuah komunitas film dan juga sebuah ruang belajar yang didirikan di Jakarta oleh beberapa orang asal Melayu Indonesia yang mencintai media audiovisual. Saat ini Sinelayu dimotori oleh dua orang mahasiswa FFTV Institut Kesenian Jakarta, yaitu Ahmad Syafiq dan Muthi’ah Khairunnisa. Sinelayu yang baru dirintis ini akan fokus bergerak di produksi dan apresiasi film dengan tema masyarakat Melayu.

 

 

Cine Club Sumbawa – Nusa Tengara Barat

Cine Club is a Student Activity Unit (UKM) in Universitas Teknologi Sumbawa (UTS). Cine Club was established on 1 December 2015 as a manifestation of UTS students’ passion in cinematography. Cine Club aims to introduce films to UTS Students and the general public of Sumbawa people. Aside from that, it wants to promote high appreciation towards film making process, considering that there are neither cinemas nor other media that can screen movies in Sumbawa.

Cine Club has regular and annual programs. One of its regular programs is the Bioskop Jumatan. Bioskop Jumatan is a screening and discussion program held every Friday. Meanwhile for its annual programs, Cine Club has a short film production and screening programs held in schools (Cineclub Goes to School) and villages.

 

Cine Club adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Teknologi Sumbawa. Cine Club berdiri pada tanggal 1 Desember 2015 atas dasar kecintaan mahasiswa UTS terhadap sinematografi. Cine Club bertujuan mengenalkan film kepada para mahasiswa UTS serta masyarakat Sumbawa. Selain itu komunitas ini juga ingin menumbuhkan daya apresiasi yang tinggi terhadap proses pembuatan film, mengingat di Sumbawa belum terdapat bioskop ataupun wadah untuk memutar film itu sendiri.

Cine Club memiliki program kerja reguler dan juga tahunan. Salah satu program regulernya adalah Bioskop Jumatan. Bioskop Jumatan merupakan agenda pemutaran sekaligus diskusi film yang diadakan setiap hari Jumat. Untuk program tahunan, Cineclub menjalankan produksi film pendek serta menggelar pemutaran film di sekolah-sekolah (Cine Club Goes to School) dan desa-desa.

BaileDOC – Ambon

BaileDOC is a film community based in Ambon, Maluku Province. Since 2012, BaileDOC has been contributing to cinema in the fields of appreciation, film workshop, and film production. In the field of appreciation, the community launched NgoFi (Ngobrol Film), a program to screen the works of Indonesian filmmakers and to discuss them publicly. BaileDOC actively holds workshops at many schools and universities in Ambon. The community also makes and procedures several documentaries and a short fiction, namely Abdau (doc., 2012), Merah Saga (doc., 2014), Hana (fic., 2016), and Pendayung Terakhir (doc., 2017). BaileDOC is frequently involved in many social campaigns and provides documentation for those events, such as Festival Orang Basudara (Asian Foundation), Reaching Out the Boundaries (Dompet Dhuafa), Poetry on the Street (Ambon Bergerak). It also cooperates with several organizations and production houses, among others Gambar Bergerak, Fourcolours Film, Institute for Preservation of Cultural Heritage, Women Across the Globe, PUSAD Paramadina, etc.

 

BaileoDOC merupakan komunitas film yang berbasis di Kota Ambon, Provinsi Maluku. Sejak didirikan pada tahun 2012, BaileoDOC telah berkontribusi pada tiga bidang perfilman, yakni apresiasi, workshop film, dan produksi film. Di bidang apresiasi, komunitas ini meluncurkan program NgoFi (Ngobrol Film) dan menampilkan karya film sineas tanah air untuk didiskusikan bersama publik Ambon. Di bidang workshop film, BaileDOC aktif menggelar workshop ke banyak sekolah dan universitas yang ada di Ambon. Di bidang produksi, komunitas ini aktif membuat dan memproduseri beberapa film dokumenter dan fiksi pendek, seperti dokumenter Abdau (2012), dokumenter Merah Saga (2014), fiksi Hana (2016), dan dokumenter Pendayung Terakhir (2017). BaileoDOC aktif pada kampanye-kampanye sosial dan membantu menyediakan dokumentasi pada kegiatan-kegiatan tersebut, di antaranya Festival Orang Basudara (Asian Foundation), Reaching Out the Boundaries (Dompet Dhuafa), Poetry on the Street (Ambon Bergerak); dan telah bekerja sama dengan beberapa organisasi dan rumah produksi seperti, Gambar Bergerak, Fourcolours Film, Balai Pelestarian Cagar Budaya, Women Across the Globe, PUSAD Paramadina, dan lain-lain.

Njagong Film – Jawa Timur

Njagong Film is established due to two concerns: the absence of cinema in Lumajang and the lack of quality spectacle in our mainstream media. Since 2015, Njagong Film has held around 10 screenings in open spaces such as the City Forest Park, Cafe, and areas belonging to the communities in Lumajang. Even until now, Njagong Film still chooses to operate independently.

 

Berdirinya Njagong Film didasari oleh keresahan atas ketiadaan bioskop di Lumajang dan minimnya tontonan bermutu di media arus utama kita. Sejak 2015, kurang lebih sudah sepuluh pemutaran film dilakukan oleh Njagong Film di ruang-ruang terbuka seperti, Taman Hutan Kota, Cafe, dan juga ruang-ruang milik komunitas yang ada di Lumajang. Sampai saat ini upaya swadaya adalah pilihan Njagong Film dalam menjalankan aktivitasnya.

Popsicle UMN – Jakarta

Popsicle is a film community founded by film-loving students at Universitas Multimedia Nusantara in 2011. Popsicle holds exhibition events such as screenings and discussions open for the general public.

 

Popsicle adalah sebuah komunitas film yang didirikan oleh mahasiswa/i pecinta film Universitas Multimedia Nusantara pada tahun 2011. Popsicle bergerak dalam bidang ekshibisi dengan melakukan pemutaran film dan juga diskusi yang terbuka untuk umum.

Viddsee Subbers – Jakarta

Viddsee Subbers Indonesia is a community consisting of a group of Indonesian subtitle makers. The community was born out of the audiences’ fondness towards short films available on Viddsee online platform and also the desire to help others in enjoying foreign short films with Indonesian subtitles.

The community now has 26 members who have been connected to each other through social media since March 2017. They are working together to create and check other subtitles, both Indonesian and English. The members of this community come from various educational backgrounds and can be traced back to various regions in Indonesia and even abroad.

 

Viddsee Subbers Indonesia beranggotakan banyak pembuat subtitle Indonesia. Komunitas ini lahir dari kecintaan para penonton terhadap film pendek yang ada di platform online Viddsee dan keinginan untuk membantu penonton lain menikmati film-film pendek asing dengan subtitle bahasa Indonesia.

Komunitas ini kini telah beranggotakan 26 orang yang terhubung melalui media sosial sejak Maret 2017. Mereka semua saling bekerja sama untuk membuat dan bahkan saling memeriksa subtitle bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Para anggota komunitas ini berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan tersebar di berbagai daerah di seluruh penjuru Indonesia dan luar negeri.

 

WORKSHOP

NULIS YUK!

This is a writing program that includes writings in the form of resume or review. The products of this program will be criticisms, opinions, and suggestions for movies that had been watched, as well as reviews about film festival experience.

Program menulis yang mencakup penulisan dalam bentuk resume, ulasan, atau resensi. Produk yang akan dihasilkan adalah kritik, opini, dan saran untuk film-film yang ditonton serta ulasan tentang pengalaman yang berkaitan dengan festival film.

Ayu Dyah Cempaka

Speaker

PUBLIC PRESENTATIONS

Novi Hanabi

Speaker

Dipo Alam

Speaker

PANEL DISCUSSION

LAYAR KOMUNITAS

A SPACE FOR AND FROM INDONESIAN FILM COMMUNITY

By  M. Reza Fahriyansyah

L[/dropccap]ayar Komunitas is back this year bringing the same spirit from film diversities to and from the Indonesian film communities. Film communities’ fluidity in every situation and condition is able to describe certain regions through the creation process, either production, appreciation, exhibition, or distribution process. In this program, clearly, we try to understand the results of the film production created by Indonesian film communities. Basically, film community always searches for film references, either for creating their works or building a network among communities. Thus cooperation is established, enabling them to exchange information through film.

The movies chosen this year also try to accommodate many ideas and various aesthetic achievements. A movie entitled Mencari Sulaiman by Yofri Rahmat for example; Yofri succeeds in making an action short film with a good narrative technique. Also, Ji Dullah by Alif Septian Raksono is able to capture the social phenomenon of hajj title in Maduranese society in a flickering and funny way.

Seko by Galang E. Larope tells us about an assault that almost destroyed houses in Betemele Village, Central Sulawesi by a group of terrorist, in an animation. An aesthetical game is also shown in Jendela by Randi Pratama and Carnivale by Candra Aditya. Each movie has its own peculiarity in the way it narrates the story.

Last but not least, this year we also try to provide a movie session devoted to children. Four movies will be screened in this session: Mars: Don’t Pee Randomly by M. Marhawi, an animation entitled Oh-bey by Gloria Abigail Haryono, Ayo Main! by Bambang ‘Ipoenk’ K.M, and Incang-Inceng by Kelik Sri Nugroho..

Happy watching and gathering!

 

RUANG DARI DAN UNTUK KOMUNITAS FILM INDONESIA

Oleh M. Reza Fahriyansyah

[dropcpa]L[/dropcap]ayar Komunitas kembali hadir tahun ini dengan tetap membawa semangat keragaman film dari dan untuk komunitas film Indonesia. Sifat cair yang dimiliki oleh komunitas film dalam setiap situasi dan kondisi mampu menggambarkan wilayah tertentu melalui proses pengkaryaannya, entah itu produksi, apresiasi, ekshibisi ataupun distribusi. Pada program ini jelas kami mencoba untuk membaca hasil produksi film yang diciptakan oleh komunitas atau sekiranya cocok untuk komunitas film di Indonesia. Karena pada dasarnya komunitas film selalu haus akan referensi film entah untuk berkarya atau berjejaring dengan komunitas lainnya sehingga tercipta sebuah kerja sama yang memungkinkan mereka saling bertukar informasi melalui medium film.

Film yang dipilih pada tahun ini juga tetap mencoba menangkap banyak gagasan yang diangkat dan capaian estetis yang beragam. Seperti film Mencari Sulaiman karya Yofri Rahmat Dia yang berhasil membungkus film pendek action dengan capaian yang apik dalam teknis penuturannya. Film Ji Dullah karya Alif Septian Raksono berhasil menangkap fenomena sosial tentang posisi haji dalam masyarakat Madura dengan cara yang menyentil dan lucu.

Film Seko karya Galang E. Larope menceritakan peristiwa penyerangan yang hampir meratakan rumah-rumah di desa Betemele, Sulawesi Tengah oleh kelompok teroris, dengan bentuk animasi. Permainan bentuk estetis bisa kita dapati juga pada film Jendela karya Randi Pratama dan Carnivale karya Candra Aditya yang masing-masing memiliki kekhasan tersendiri dalam menyampaikan ceritanya.
Terakhir, tahun ini kami juga mencoba menawarkan satu sesi film yang dikhususkan untuk menjangkau anak-anak sebagai penontonnya. Terdapat empat film yang kami pilih untuk sesi ini, yaitu Mars: Don’t Pee Randomly Karya M. Marhawi, film animasi Oh-bey karya Gloria Abagail Haryono, Ayo Main! karya Bambang ‘Ipoenk’ K.M, dan Incang-Inceng karya Kelik Sri Nugroho.
Selamat menonton dan selamat berjejaring!

Ayo Main! (Let’s Play!)

Bambang “Ipoenk” K.M./24 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Jendela

Hilarius Randi Pratama/36 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Ji Dullah

Alif Septian Raksono/26 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Mencari Sulaiman

Yofri Rahmat Dia/28 minutes/2017/Indonesia

Dilarang Mati

Rifqi Zarkasih/9 Minutes/2016/Indonesia/Fiction

Seko

Galang E. Larope/14 minutes/2016/Indonesia/Animation

Carnivale

Candra Aditya/38 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Anak Lanang (The Sons)

Wahyu Agung Prasetyo/15 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Mars: Don’t Pee Randomly!

Muhammad Marhawi/20 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Incang-Inceng

Kelik Sri Nugroho/25 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Harta Karung

Miftachul Rahman/15 minutes/2017/Indonesia/Documentary

Oh-bey

Gloria Abigail/6 minutes/2017/Indonesia/Animation

FUN ACTIVITY