LAYAR KOMUNITAS

Keanekaragaman Bentuk Film Pendek Indonesia

Komunitas film di Indonesia mengalami perkembangan pesat sejak pasca 1998 hingga saat ini. Banyak komunitas film bermunculan dari dalam lingkup pendidikan (SMP, SMA, Universitas) dan dari luar lingkup pendidikan. Mereka datang dari banyak tempat, mulai dari kota hingga pelosok Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Komunitas film menjadi salah satu pilihan tempat belajar bersama untuk merespon isu melalui medium film dan mengasah kemampuan dalam dunia perfilman. Berdasarkan hal tersebut, kami mencoba memberikan program baru yang terintegrasi langsung dengan Forum Komunitas JAFF 2016, yaitu program Layar Komunitas.

Layar komunitas merupakan program yang juga dibentuk JAFF untuk mengelola dan memberi konteks yang lebih luas untuk film pendek Indonesia. Film-film dalam program Layar Komunitas kali ini mencoba untuk memunculkan keberagaman tipe film dan bentuk sinema yang kental dengan berbagai tawaran estetik.

Film Halmahera: Pongana Mo Nyawa (Udaya Pusthikaswasti/Indonesia) dan Reform (M.Ramza Ardyputra/Indonesia) merupakan film animasi yang memberikan sudut pandang yang cukup kuat untuk melihat isu sosial dengan penceritaan dan karakter yang menarik. Kemudian kisah percintaan dalam artian yang sangat luas dalam film Jeni Lova (Roufy Nasution/Indonesia), Pelacur & Seekor Anjing (Orizon Astonia/Indonesia), Ketaman Asmoro (Rivandy Adi Kuswara/Indonesia) serta Malam Ini, Judul Akan Segera Diumumkan (Hibatullah Billy/Indonesia) memberikan tawaran estetik yang beragam melalui struktur penceritaannya. Begitu juga film Kremun (Wisnu Kusuma/Indonesia), Fantastic Nite (Zidny Nafian/Indonesia), Seperti Sepi yang Paling Sepi (Erlangga Fauzan/Indonesia) yang bisa memberikan sudut pandang untuk melihat permasalahan antara manusia dengan manusia lainnya serta dengan lingkungan tempatnya tinggal. Terakhir adalah film Thirty Five of Pleasure (Hakim M. Irsyad/Indonesia), sebuah film dokumenter yang memperlihatkan bagaimana pekerja jasa layar tancap masih ada dan bertahan hingga saat ini.

Semoga keanekaragaman bentuk film pendek Indonesia dalam program Layar Komunitas kali ini bisa menjadi layaknya komunitas film yang mampu menjadi tempat belajar film bersama.

Selamat menonton keberagaman bentuk dari film-film pendek Indonesia.

Mohammad Reza Fahriyansyah

Programmer

The Diverse Forms of Indonesian Shorts

 

Film community in Indonesia undergoes a considerable development from post-1998 until today. Many film communities emerge among the scholars (middle school, high school, university) and those who are not. They come from many places, from the cities to the remote corners of Indonesia, from Sabang to Merauke. Film community becomes one of the many choices in learning collectively in responding certain issues through the medium of film and to improve skills related. In light of that, we try to give a new program that is directly integrated into Forum Komunitas JAFF 2016:  Layar Komunitas program.

Layar Komunitas is a program formed by JAFF to manage and to provide a broader context for Indonesian short films. This time, the films in this program are trying to present diverse film types and forms of cinema that are rich with many aesthetics offering.

Halmahera: Pongana Mo Nyawa (Udaya Pusthikaswasti/Indonesia) and Reform (M.Ramza Ardyputra/Indonesia) are animated films giving a strong point of view to perceive social issues presented through interesting story telling and characters. A love story in a very broad sense in several films such as Jeni Lova (Roufy Nasution/Indonesia), Pelacur & Seekor Anjing (Orizon Astonia/Indonesia), Ketaman Asmoro (Rivandy Adi Kuswara/Indonesia) and Malam Ini, Judul Akan Segera Diumumkan (Hibatullah Billy/Indonesia) are offering various aesthetics through their narrative structure. Meanwhile, films like Kremun (Wisnu Kusuma/Indonesia), Fantastic Nite (Zidny Nafian/Indonesia), Seperti Sepi yang Paling Sepi (Erlangga Fauzan/Indonesia) provide a point of view to observe issues happening between men and other men, as well as between them and the environtment they live in. Finally, Thirty Five of Pleasure (Hakim M. Irsyad/Indonesia), is a documentary that shows how layar tancap (mobile open air cinema) workers remain exist and survive until now.

Hopefully, the diverse forms of short films presented in this year’s Layar Komunitas program can play the same role as a film community that is able to provide a collective film learning space.

Hope you enjoy watching various forms of Indonesian short films.

Mohammad Reza Fahriyansyah

Programmer

Fantastic Nite

Zidny Nafian/11 minutes/2016/Indonesian/Fiction

Halmahera: Pongana mo Nyawa

Udaya Pusthikaswasti/3 minutes/2016/Indonesian/Animation

Jeni Lova (The Irrational Romance)

Roufy Nasution/20 minutes/2016/Indonesian/Fiction

Ketaman Asmoro (Make a Living for a Shake of Noise)

Rivandy Adi Kuswara/13 minutes/2015/Indonesian/Fiction

Kremun (Drizzle)

Wisnu Kusuma/14 minutes/2016/Indonesian/Fiction

Pelacur dan Seekor Anjing (A Prostitute and a Dog)

Orizon Astonia/18 minutes/2016/Indonesian/Fiction

Reform

Ramza Ardyputra /6 minutes/2016/Indonesian/Animation

Thirty Five of Pleasure

Hakim M. Irsyad /13 minutes/2016/Indonesian/Documentary

Seperti Sepi yang Paling Sepi (The Quiet Silence)

Erlangga Fauzan /22 minutes/2016/Indonesian/Fiction

Malam Ini, Judul Segera Diumumkan (Tonight, The Title Will Soon To Be Announced)

Hibatullah Billy/07 minutes/2015/Indonesian/Fiction