JAFF - Indonesian Screen Awards

A NOTE ON JAFF INDONESIAN SCREEN AWARDS

THIS IS THE CINEMA WE MUST DEFEND

By Ifa Isfansyah

Reasonably, a film festival should be responsible for the development of cinema in which the festival is conducted. Since the very beginning, JAFF strives to hold on to the commitment of supporting Indonesian cinema. No matter what happens to Indonesian cinema, either good or bad, this is the cinema we should defend.

JAFF constantly provides spaces for Indonesian films. Even more spaces for the films hardly meeting the audiences. Indonesian cinema should be diverse, just as its languages, cultures, and humans. To shape the culture of watching cinema and to celebrate the diversity of cinema among our society will be a very arduous work when we rely only on mainstream theatres.

In previous recent years, JAFF has consistently arranged The Face of Indonesian Cinema program as a space dedicated to the films with exceeding achievements in the industry. The achievements might refer to the number of viewers, production values, and even technical accomplishments. This very program grows, both in terms of the quantity of audience and the forms of the film. We have found that many Indonesian films spawned by established directors with the utmost results could not be accomodated in JAFF’s main program (competition). Whereas, in each year, it is not rare to find films with such performance. Starting from this year, JAFF is developing the old program into the one of competition. To take this even further, this year will be the very first time for us to bestow our appreciation, not merely toward the film’s accomplishments, but also toward the Director, the Scriptwriter, the Actor, and the Cinematographer.

Thus, how should we comprehend these accomplishments in an objective manner? Enlisted films in the competition program will be graded by three foreign jury members who have deep discernment of Indonesian film industry. This year, we choose Gertjan Zuilhof, Kim Young Woo, and Maggie Lee. Gertjan is a former programmer of International Film Festival Rotterdam who has been long focusing on Indonesian cinema. Kim Young Woo, serving as the programmer of Busan International Film Festival working on the Asian region, has been following Indonesian cinema for years. Meanwhile, Maggie Lee, an international film journalist, frequently writes on Indonesian films at any chance. To broaden the opportunity for Indonesian films and to measure the improvement, we initiate the program by only selecting films with one country of origin: Indonesia.

This program is an appreciation toward all figures who have dedicated their thoughts, time, and power for the sake of the cinema that is supposed to be our own home. The cinema we must defend, no matter what: Indonesian cinema.

CATATAN JAFF INDONESIAN SCREEN AWARDS

INILAH SINEMA YANG HARUS KITA BELA

Oleh Ifa Isfansyah

Sudah seharusnya sebuah festival film bertanggung jawab terhadap perkembangan sinema di mana festival film tersebut berada. Sejak awal JAFF berlangsung, komitmen untuk terus mendukung perkembangan sinema Indonesia diusahakan untuk selalu dijaga. Apa pun yang terjadi dengan sinema Indonesia, baik dan buruknya, itulah sinema yang harus kita bela.

JAFF selalu memberi ruang untuk film-film Indonesia, terutama ruang lebih untuk film-film yang tidak mudah bertemu dengan penontonnya. Sinema Indonesia sudah seharusnya beragam, seperti halnya dengan bahasanya, budayanya, dan manusianya. Sangat berat untuk membangun budaya menonton dan merayakan keberagaman sinema jika hanya mengandalkan jaringan bioskop utama.

Tahun-tahun sebelumnya JAFF konsisten dengan program The Faces of Indonesian Cinema sebagai ruang untuk film-film yang mempunyai pencapaian lebih dalam industri, baik dalam hal pencapaian penonton, nilai produksi, hingga capaian teknisnya. Program tersebut berkembang, baik dalam jumlah penonton maupun bentuk filmnya. Perkembangan itu membuat banyak film Indonesia yang dibuat oleh sutradara mapan dengan hasil yang maksimal justru tidak mendapat ruang di program utama (baca: kompetisi) JAFF, padahal tiap tahunnya, capaian film seperti itu tidak sedikit. Mulai tahun ini JAFF mengembangkan program tersebut menjadi program kompetisi. Bahkan untuk pertama kalinya kami mencoba memberikan apresiasi bukan hanya untuk capaian film, namun juga untuk sutradara, penulis skenario, aktor, dan sinematografer.

Lalu bagaimana kami mencoba membaca capaian-capaian ini agar menjadi objektif? Daftar film yang masuk dalam program kompetisi ini akan dinilai oleh tiga juri asing yang memahami industri film Indonesia. Tahun ini kami memilih Gertjan Zuilhof, Kim Young Woo, dan Maggie Lee. Gertjan adalah mantan programmer di Internasional Film Festival Rotterdam yang sudah lama sekali berfokus pada film Indonesia. Kim Young Woo, sebagai programmer Busan Internasional Film Festival untuk wilayah Asia, telah bertahun-tahun mengikuti perkembangan film Indonesia. Maggie Lee adalah jurnalis film internasional yang dalam setiap kesempatan selalu menulis tentang film Indonesia. Untuk memberi ruang lebih bagi film Indonesia dan mengukur perkembangannya, kami mengawali program baru ini dengan hanya memilih film-film dengan satu negara produksi: Indonesia.

Program ini adalah bentuk apresiasi terhadap semua insan yang telah mendedikasikan pikiran, waktu, dan tenaga untuk sinema yang seharusnya menjadi rumah kita. Sinema yang seperti apa pun perkembangannya wajib kita bela. Sinema Indonesia.

FEATURES

Aisyah Biarkan Kami Bersaudara

Herwin Novianto/110 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Bukaan 8

Angga Dwimas Sasongko/105 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Cek Toko Sebelah

Ernest Prakasa/104 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Galih & Ratna

Lucky Kuswandi/112 minutes/2017/Indonesia/Fiction

My Generation

Upi Avianto/104 minutes/2017/Indonesia/Fiction

 

Negeri Dongeng

Anggi Frisca/104 minutes/2017/Indonesia/Documentary

 

Night Bus

Emil Heradi/139 minutes/2017/Indonesia/Fiction

 

Posesif

Edwin/102 minutes/2017/Indonesia/Fiction

 

Satu Hari Nanti

Salman Aristo/122 minutes/2017/Indonesia/Fiction

 

The Gift

Hanung Bramantyo/116 minutes/2017/Indonesia/Fiction

 

SHORTS

Joko

Suryo Wiyogo/22 minutes/2017/Indonesia/Fiction

 

 

Kisah di Hari Minggu

Adi Marsono/8 minutes/2017/Indonesia/Fiction

Mesin Tanah

Wimar Herdanto/16 minutes/2016/Indonesia/Fiction

 

Pranata Mangsa

Ninndi Raras/13 minutes/2017/Indonesia/Fiction

 

 

Regards from the Southern Crab

Zhafran Solichin/20 minutes/2017/Indonesia/Fiction

 

Sepanjang Jalan Satu Arah

Bani Nasution/16 minutes/2016/Indonesia/Documentary

 

 

Songbird: Burung Berkicau

Wisnu Surya Pratama/25 minutes/2017/Indonesia/Documentary

 

 

The Nameless Boy

Diego Batara Mahameru/6 minutes/2017/Indonesia/Hybrid

 

Munggah Kaji

Rivandy Adi Kuswara/29 minutes/2017/Indonesia/Fiction