JAFF – ISA

JAFF Indonesian Screen Awards

PROGRAM'S NOTE: JAFF-ISA

FEATURE FILMS WORKS IN RESPONSE TO INDONESIA AUDIENCE NEEDS

2019’s Indonesian film industry is becoming lively with the presence of new screenings, from mainstream cinema, alternative cinema, film festivals which have been held consistently, or even some of streaming provider services that seem populist.

These screenings are not only important to let film meets its audiences, but also has a role to create positive energy for filmmakers in doing their creative works.

A number of films were born diversely, from the way they speak, execute, storytelling or the novelty of the themes. This has been a good response to our audience’s needs who doesn’t always need film as an entertainment but also as an education which answers our various political social matters.

JAFF Indonesian Screen Awards (ISA) is present to take some notes on those interesting matters. At least, from 7 films which has been curated to compete in this category, we can see the outlines of 2019’s Indonesian Cinema that has been told by filmmakers through their works. About how far filmmakers can meet the needs of Indonesian audiences these days.

This year, JAFF ISA presents Doremi & You, children musical drama about how great diversity is. This film, leastwise, meets the need of children as a group of people who needs a critical and educated show.

Year 2019 is also an important year of the rise of Indonesian Superhero within cinema, which is adapted from comics. Gundala is the superhero who was born and raised in a working-class society that  was oppressed by the government. He is the very first superhero, before the others. JAFF ISA brings this new superhero return to festival screening and lets him meet wider audience.

Some of sequels also emerged this year. Ideally, a good sequel is not only good at presenting new character or to continue the story but also can make the story’s universe developed. Love for Sale 2 is here to fulfill the audience’s curiosity from its first film.

Moving on to Humba Dreams that combines culture, traditional believes, technology and inter-generation perspectives without letting context of the problem go.

It is interesting to see 3 directors started their feature debut in JAFF ISA, like directors of Dua Garis Biru, Mekah I’m Coming and Susi Susanti: Love All. Each of those films have completely different approach in response to issues. From dissecting the meaning of family and sex education for early age with efficient drama, bringing ritualism which can affect someone’s life within surroundings in comical way, and bringing up on a biopic of a legendary badminton player without forgetting economy, political and social at that era.

Finally and hopefully, films in this program can also make us see Indonesian cinema this year as a whole, not only to see film as an entertainment but also with its Indonesian context that we are aware or not these days.

Happy watching!

Yulaika Ramadhani

Reza Fahri

CATATAN PROGRAM: JAFF-ISA

KERJA-KERJA FILM (PANJANG) MERESPONS KEBUTUHAN PENONTON INDONESIA

Industri perfilman Indonesia tahun 2019 makin semarak dengan kehadiran sejumlah layar-layar pemutaran baru, baik dari bioskop arus utama, bioskop alternatif, festival-festival film yang secara konsisten hadir, atau juga sejumlah layanan streaming provider yang semakin merakyat.

Layar-layar ini tidak hanya penting untuk mempertemukan film dengan penontonnya, namun juga punya andil untuk membuat sineas mendapatkan energi baik dalam melakukan kerja-kerja kreatifnya.

Sejumlah film Indonesia lahir tahun ini dengan keragamannya, baik di segi cara bertutur, eksekusi, gaya storytelling, maupun kearuan tema. Hal ini paling tidak telah menjadi sebuah respons yang baik atas kebutuhan penonton kita yang tidak melulu butuh film sebagai hiburan, namun juga film sebagai edukasi yang menjawab beragam perkara sosial politik kita selama ini.

JAFF Indonesia Screen Awards (ISA) juga hadir untuk mencatat hal-hal menarik tersebut. Paling tidak, dari 7 film yang dipilih dan berkompetisi di ajang ini, kita bisa melihat catatan singkat garis-garis besar perfilman Indonesia 2019 yang sineas narasikan melalui karya-karyanya. Tentang sejauh mana sineas mampu menjawab kebutuhan penonton Indonesia saat ini.

Pada tahun ini JAFF ISA menghadirkan Doremi & You, film musikal anak tentang indahnya keragaman. Film ini paling tidak menjawab kebutuhan anak, sebagai kelompok masyarakat yang juga perlu tontonan kritis dan mengedukasi.

Tahun 2019 juga menjadi periode penting dilahirkannya Superhero Indonesia dalam sinema, yang diadaptasi dari komik. Gundala adalah pahlawan yang lahir dari masyarakat buruh yang diinjak-injak sistem dan pemerintah. Ia digadang-gadang menjadi yang paling pertama, sebelum akhirnya dilahirkan para jagoan lainnya. JAFF ISA membawa jagoan baru ini hadir kembali di layar festival, dan mempertemukannya dengan penonton yang lebih luas.

Sejumlah film sekuel juga lahir tahun ini. Idealnya, sekuel yang baik tak hanya mampu menghadirkan tokoh atau cerita lanjutan, namun juga mampu membuat semesta ceritanya berkembang—tak hanya itu lagi-itu lagi. Dan Love for Sale 2 hadir menggenapkan rasa penasaran penonton atas film pertamanya.

Kemudian ada Film Humba Dreams yang sedikit banyak menggabungkan tentang unsur kebudayaan, kepercayaan tradisional, teknologi dan perspektif lintas generasi tanpa melepas konteks permasalahan yang terjadi di dalamnya.

Ada hal yang menarik pada tahun ini di JAFF ISA yaitu ada 3 sutradara yang memulai debut pertamanya menjadi sutradara film panjang, yaitu sutradara film Dua Garis Biru, Mekah I’m Coming, dan Susi Susanti: Love All. Masing-masing film yang mereka sutradarai memiliki pendekatan yang sangat berbeda dalam merespon isu ke dalam filmnya. Mulai dari mendedah esensi keluarga serta pendidikan seksual anak dengan drama yang sangat efisien, membawa isu ritual keagamaan yang bisa mempengaruhi kehidupan seseorang di lingkungannya dengan cara yang komikal, dan mengangkat kisah biopic perjuangan seorang pebulu tangkis legenda Indonesia tanpa melepaskan konteks kondisi ekonomi, sosial dan politik pada zaman dimana cerita itu diangkat.

Akhir kata, Semoga rangkaian film dalam program ini bisa membuat kita melihat sinema Indonesia tahun ini secara menyeluruh, tidak hanya film sebagai hiburan semata, namun dengan konteks ke-Indonesiaan yang kita sadar atau tidak masih berlangsung hingga saat ini.

Selamat menonton!

 

Yulaika Ramadhani

Reza Fahri

Dua Garis Biru

Gina S. Noer/ 112 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Humba Dreams

Riri Riza/ 76 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Gundala

Joko Anwar/ 123 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Doremi & You

BW Purbanegara/ 99 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Mekah I’m Coming

Jeihan Angga/ 93 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Love for Sale 2

Andibachtiar Yusuf/ 92 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction

Susi Susanti: Love All

Sim F/ 96 Minutes/ 2019/ Indonesia/ Fiction