Public Lecture: “Beyond the Pitch: Understanding Funding, Festivals, Labs, Markets & International Opportunities”
This program explores the technical and strategic aspects of bringing film projects to the international market, from understanding the ecosystem of film festivals, development labs, residencies, pitching forums, and project markets to identifying the most suitable platforms for each project’s stage of development. Participants will learn how to prepare application documents and production proposals, develop budgets and financing plans, build pitching strategies, and access funding and co-production opportunities. The program focuses on navigating the processes and requirements of various international platforms to help film projects grow, secure support, and connect with potential production and distribution partners.
JADWAL
🗓️ Kuliah Umum: Rabu, 2 Desember 2026
⏰ Waktu: 10.00 – 12.00 WIB
📍 Tempat: LPP Yogyakarta
🗺️ Lokasi: https://share.google/uv8eGLjLJcCNkOJYJ
💳 Biaya Pendaftaran: Rp15.000,-
Pembicara
Khozy Rizal
Khozy Rizal memulai karirnya pada tahun 2021 dengan film pendek “Makassar is a City for Football Fans” yang ditayangkan di Sundance. Pada tahun 2023, film pendeknya “Basri & Salma in a Never-ending Comedy” tayang perdana di Cannes dan menjadi film pendek Indonesia pertama yang berkompetisi untuk Short Film Palme d’Or.
Film pendek tersebut juga ditayangkan di lebih dari 100 festival, termasuk Sundance, Clermont-Ferrand, dan AFI Fest. Pada tahun 2024, film pendeknya “Little Rebels Cinema Club” memenangkan Crystal Bear untuk Film Pendek Terbaik di program Generation Kplus – Berlin International Film Festival 2025.
Ia juga merupakan alumni Busan Asian Film Academy, Locarno Filmmakers Academy, dan Berlinale Talents. Pada tahun 2026, ia menjadi salah satu juri internasional di program Generation di Berlinale. Proyek film panjang pertamanya, “I Wanna Dance with Myself” berpartisipasi di TFL ScriptLab 2026. Di tahun yang sama, ia juga menyutradarai proyek film pendek Mothers are Mothering bersama Lam Li-Shuen sebagai bagian dari Next Step Studio Indonesia dan tayang di 65th Critics' Week, Cannes
Annisa Adjam
Annisa Adjam adalah produser film independen dan pendiri Aftersun Creative, sebuah studio penceritaan berbasis di Jakarta, serta Inteamates, sebuah kolektif kreatif yang berfokus pada seni dan isu-isu sosial. Ia meraih gelar Magister Filmmaking dari Kingston University London pada 2017.
Ia bertindak sebagai co-produser film pendek Vaterland, or A Bule Named Yanto, sebuah produksi kolaborasi Indonesia-Jerman yang memenangkan CANAL+ Award di Semaine de la Critique 2026, serta produser film pendek SAWO MATANG, sebuah produksi Indonesia-Kanada yang tayang perdana di Toronto International Film Festival 2023.
Saat ini, ia tengah menjadi ko-produser film panjang SLAUGHTERGROUND / Hujan Kematian yang diproduksi oleh Aftersun Creative. Film horor bertahan hidup yang disutradarai oleh Sidharta Tata ini diadaptasi dari komik Locust karya Iskandar Salim dan meraih sejumlah penghargaan di BIFAN NAFF Project Market, Korea Selatan, pada 2026.
Ia merupakan alumni Kyoto Filmmakers Lab 2019, BIFAN NAFF Fantastic School 2021, SGIFF Asian Producers Network 2023, and IFFR Rotterdam Lab 2025.
Aditya Ahmad
Aditya Ahmad adalah sineas Indonesia asal Makassar, Sulawesi Selatan, yang karyanya mendapat pengakuan di festival film internasional, termasuk Berlinale melalui On Stopping the Rain (Sepatu Baru) dan Venice Film Festival melalui A Gift (Kado). Berkarya di ranah fiksi, dokumenter, serial, dan iklan televisi, ia merupakan alumni Asian Film Academy, Berlinale Talents, dan Locarno Filmmakers Academy. Film panjang perdananya, Goldfish, tengah dikembangkan dan telah memperoleh dukungan serta sejumlah penghargaan internasional, termasuk di Asian Project Market 2026 di Busan.
Moderator
Mozad Irvany
Mozad merupakan lulusan Film dan Televisi yang berpengalaman sebagai pembuat film independen dan produser, dengan keterlibatan dalam berbagai proyek film fiksi dan dokumenter. Telah memproduksi film pendek dan dokumenter sembari mengembangkan film panjang pertamanya yang berjudul The Boy with His Mother’s Statue. Proyek-proyeknya telah mendapatkan pengakuan serta dukungan pengembangan dari berbagai program dan festival, termasuk Jakarta Film Week, QCinema International Film Festival, dan Minikino Film Week.