Merayakan Keragaman Sinema Asia lewat Tubuh, Tradisi, Restorasi, dan Aksi
Memasuki hari ke-6, berikut beberapa rekomendasi program pilihan di JAFF20.
DUA FILM INDONESIA DI PROGRAM KOMPETISI
Masuk dalam program kompetisi Indonesian Screen Awards, Dancing With The Body (Lenggak-Lenggok) (Andi Imam Prakasa, 2025) dan A Thousand Shades of Purnama (Seribu Bayang Purnama) (Yahdi Jamhur, 2024), menghadirkan dua pendekatan berbeda dalam memperlihatkan hubungan manusia dengan tubuh, tradisi, dan ruang hidupnya.
Dancing With The Body membawa penonton memasuki kehidupan para penari Jaipong yang gigih menjaga tradisi di tengah tekanan ekonomi dan perubahan zaman. Melalui gestur tubuh, tarikan vokal, hingga lirih sinden, film ini menjadi potret intim tentang keteguhan perempuan-perempuan penjaga seni tradisional yang perlahan terpinggirkan. Karya ini diputar pada Kamis, 4 Desember 2025 pukul 12.45 di Empire XXI Studio 5.
Sementara itu, A Thousand Shades of Purnama menghadirkan drama rural yang menyentuh tentang Putro Purnama, seorang pemuda yang kembali ke desa dan berusaha menghidupkan kembali metode pertanian alami di tanah keluarganya. Konflik keluarga, rivalitas lama, dan kisah cinta yang rumit membuat perjuangannya menjadi cermin dari dinamika sosial dan idealisme yang terus diuji. Film ini tayang pada Kamis, 4 Desember 2025 pukul 14.45 di Empire XXI Studio 5.
THE KILLER, FILM LAGA KLASIK DARI HONG KONG
Jamis, 4 Desember 2025 | Empire XXI Studio 3 | 15:30 WIB
Dari etalase Hong Kong Film Gala Presentation, JAFF20 dan Asian Film Awards Academy (AFAA) menghadirkan The Killer, salah satu karya paling ikonik dari kolaborasi John Woo dan Chow Yun-fat. Film penuh gaya ini mengikuti perjalanan seorang pembunuh bayaran yang tanpa sengaja membutakan seorang penyanyi bernama Jennie. Diliputi rasa bersalah, ia mengambil pekerjaan tambahan untuk membiayai operasi sang penyanyi, sementara dua polisi memburunya dan perlahan mulai memahami sisi humanis di balik sosoknya. Sebuah karya klasik yang menegaskan gaya khas Woo: pertemuan antara kekerasan yang estetis, drama moral, dan koreografi aksi yang tak lekang oleh waktu.
PUBLIC LECTURE:
JAFF X LAB LABA LABA — ON RESTORATION
Kamis, 4 Desember | Edelweis Room, ARTOTEL Suites Bianti | 14:00–16:00 WIB
Menyambut ulang tahun ke-10, Lab Laba Laba memamerkan 2 karya yang telah diperbaiki, yang sebelumnya terabaikan atau belum selesai secara teknis, serta sebuah artefak visual yang mencerminkan semangat zaman para mahasiswa film pada akhir tahun 1970-an. Dibuat dalam format 16mm dan Super8, film-film ini diproduksi dalam lingkungan akademik. Menggunakan peralatan dari departemen film Institut Seni Jakarta. Pemulihan film mahasiswa juga bertujuan untuk memperluas diskusi seputar praktik pemulihan film saat ini di Indonesia yang sebagian besar didorong oleh motif komersial atau kebijakan budaya. Program ini memamerkan tiga karya, Dajang Soembi: Perempoean Jang Dikawini Andjing (Edwin, 2004), Cerita Tentang Eyang Putri Seno Sastroamidjojo (Marseli Soemarno, 1978), dan Waiting (Seno Gumira Ajidarma, 1978).
Menghadirkan dua figur penting sebagai pembicara, Rizki Lazuardi, seniman dan kurator yang dikenal atas eksplorasinya terhadap relasi kuasa dalam praktik pengarsipan, serta Edwin, sutradara Indonesia dengan reputasi internasional yang juga turut merestorasi salah satu karyanya dalam program ini. Keduanya akan membahas bagaimana proses restorasi bukan hanya soal teknis pemulihan gambar, tetapi juga refleksi terhadap sejarah, konteks sosial, dan memori kolektif sinema Indonesia.
Rangkaian lengkap jadwal pemutaran dan kegiatan JAFF20 dapat diakses melalui laman resmi jaff-filmfest.org dan media sosial @jaffjogja.




