Skip links

Menjaga Api di Tengah Angin

Alexander Matius

Direktur Program

Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat, apalagi di Indonesia, untuk festival film lebih sering berumur pendek. JAFF (Jogja-NETPAC Asian Film Festival) masih berdiri sampai hari ini adalah sebuah pencapaian, dengan segala luka dan tawa yang menyertainya. Dalam keterbatasan waktu dan tenaga, kami masih berusaha menghadirkan festival yang bukan hanya berlangsung, tapi juga berarti. Kebertahanan festival seperti JAFF adalah keajaiban kecil di negara yang belum benar-benar percaya pada pentingnya kebudayaan. Bertahan dua dekade di tengah gelombang bubar, pembiaran, dan pencabutan dukungan adalah hal yang langka. JAFF bertahan bukan hanya karena sistem, tapi karena orang-orang yang percaya bahwa ruang seperti ini harus ada. Festival ini bukan hanya milik pembuat film atau penontonnya, tapi juga menjadi salah satu mata dunia yang memandang Indonesia: melihat siapa kita lewat cara kita bercerita dan merayakannya.

Tahun ini jumlah pendaftar meningkat 14 persen dibanding tahun sebelumnya. Peningkatan terjadi dari film panjang non-Indonesia sebanyak 72 persen. Film-film pendek yang masuk juga semakin beragam dan matang. Hal ini menandakan bahwa generasi pembuat film baru tumbuh dengan kesadaran yang segar sekaligus kepercayaan dari pembuat film Asia untuk dapat menayangkan filmnya di JAFF. Tahun ini, JAFF menambah empat program rutin: JAFF Kids, ruang bagi anak dan orang tua untuk menonton bersama; Transcendence, wilayah bagi film-film eksperimental dan lintas medium; Soundies, yang merayakan hubungan musik dan audio-visual; serta Resonance, program baru untuk branded content dan eksplorasi narasi dari dunia industri kreatif. Di kompetisi Indonesian Screen Awards, kami juga membuka empat kategori baru: Best Production Design, Best Sound Design, Best Music, dan Best Poster sehingga apresiasi lintas departemen semakin menyeluruh. Semua ini bagian dari upaya memperluas cara kita menghargai kerja dan pencapaian sinema, tak hanya di layar tapi juga di belakangnya. Tahun ini juga terasa sebagai perjalanan yang lebih panjang dari biasanya dengan kelelahannya, kemarahannya, dan pesimisnya tapi semoga program dengan filmnya masing-masing bisa memberi makna yang baik untuk penontonnya.

Berbicara soal ekosistem, jargon bangsa yang besar mestinya punya pandangan panjang dan pengejahwantahan nyata terhadap kebudayaan. Kegagalan yang terus berulang bukan karena kita kekurangan talenta, melainkan karena dukungan yang jelas terhadap kebudayaan selalu minim, bahkan sering hilang sama sekali. Semua ingin seperti negara lain, tapi langkah menuju ke sana nyaris nol. Bagaimana mau setara dengan festival-festival dunia jika kesenian selalu ditempatkan di pinggir? Festival film seperti JAFF adalah bagian dari infrastruktur kultural, bukan sekadar acara tahunan, karena festival adalah ruang di mana narasi dan identitas negara diuji dan disebarkan ke dunia.

Dalam ekosistem film, festival juga seharusnya menjadi rumah besar, tempat semua unsur bernaung, termasuk Market yang secara langsung kehadirannya penting untuk memperkuat keberadaan festivalnya. Market penting dan ia tumbuh dari festival sebagai ruang berbeda yang saling mendukung. Festival adalah ruang kultural untuk memelihara nilai, membangun dialog, mempertemukan gagasan. Agar ekosistem ini sehat, setiap bagiannya harus tahu posisi dan tanggung jawabnya. Festival yang kokoh memberi pijakan bagi industri untuk tumbuh, bukan sebaliknya.

Esensi kuratorial JAFF adalah membaca konteks Asia, menemukan suara yang lahir dari keberanian lokal, menonton dengan kesadaran sosial, dan memberi ruang bagi film yang mungkin tak punya tempat di layar lain. Programming bagi kami bukan terbatas hanya soal jumlah penonton atau kepopuleran, melainkan soal membuka ruang dialog dan refleksi antara film, pembuat, dan masyarakat. Memperkenalkan dan memberi kesempatan.Bagi tim yang bekerja, festival ini juga ruang untuk tumbuh. Setiap tahun, orang datang dan belajar: tentang film, tentang organisasi, tentang cara bekerja kolektif, dan tentang batas-batas manusia.

Tidak semua orang akan menyukai semua hal, termasuk festival ini. Kami juga menyadari, di antara dukungan dan cinta, masih ada kekurangsukaan atau ketidaksukaan. Beberapa pandangan lahir dari kelelahan, sebagian dari jarak pandang, ada yang menilai festival ini secara ekonomi, secara elitis, terlalu bebas dan bentuk lainnya, kami memahami, membaca dan mendengarnya. Di balik semua itu, kami berterima kasih dan memastikan tidak pernah ada kesengajaan untuk melakukan kesalahan. JAFF adalah kerja kolektif yang hidup di antara keterbatasan: kerja yang bergantung pada semangat, waktu, dan kepercayaan. Festival ini tidak sempurna, tapi setiap tahun kami mencoba membuatnya lebih terbuka dan lebih dekat. Kritik selalu dibutuhkan dan disitulah festival belajar dan tumbuh.

Untuk para penonton yang datang, terima kasih telah percaya bahwa festival ini masih layak dihadiri. Untuk para pembuat film, terima kasih sudah mempercayakan karya kalian untuk ditonton di ruang ini. Untuk teman-teman yang peduli, membantu, mengingatkan, menertawakan, dan tetap hadir ketika segalanya tampak tidak mungkin, terima kasih. Dan untuk tim JAFF, yang sudah bekerja dengan cara paling gila dan paling tulus yang mungkin ada di dunia film: festival ini adalah kalian.

Dua puluh tahun JAFF bukan hanya tentang lamanya waktu, tapi tentang keyakinan untuk terus berjalan, bahkan ketika jalannya samar. Setiap tahun kami belajar menerima bahwa hal paling berharga dari festival ini bukanlah kepastiannya, melainkan keberaniannya untuk tetap ada. Selama masih ada orang yang mau menyalakan proyektor, menonton dengan hati terbuka, dan bekerja bukan demi nama, tapi karena percaya, maka JAFF akan terus hidup lebih panjang daripada umur kita kelak.