Lagu-Lagu di Jalan Kecil
Philip Cheah
Kurator Festival
Film klasik karya Satyajit Ray, Pather Panchali (1955), menempati tempat yang istimewa di hati saya. Seperti banyak orang yang tumbuh bersama dunia sinema, saya selalu ingin berbagi pengalaman itu dengan orang lain. Sebelum menjadi pembuat film, Ray turut mendirikan Calcutta Film Society pada tahun 1947, tak lama setelah India merdeka. Ketika Festival Film Internasional India pertama digelar pada tahun 1952, lembaga kecil itu diajak turut menyusun programnya. Dari kelompok kecil yang dulu berjuang, lahirlah gerakan yang mengubah arah perfilman India.
Demikian pula, novel Pather Panchali karya Bibhutibhushan Bandyopadhyay yang ditulis pada tahun 1929, tak akan disangka suatu hari akan diadaptasi Ray menjadi film. Pather Panchali, atau Lagu Jalan Kecil, ditakdirkan menjadi salah satu dari 100 film klasik terbesar sepanjang masa. Bagi saya, jalan sinema dipenuhi lagu-lagu seperti itu. Lagu-lagu tentang keajaiban kecil dalam hidup yang terus mengiringi langkah saya di jalan-jalan kecil sinema.
Dua puluh tahun lalu, saya menapaki jalan kecil lainnya di Yogyakarta. Atas dorongan sahabat saya, Garin Nugroho, saya bergabung dengannya dan sekelompok pembuat film muda yakni Budi Irawanto, Ifa Isfansyah, Ajish Dibyo, Ismail Basbeth, Yosep Anggi Noen, dan Dyna Herlina untuk merintis Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Festival itu kemudian dirancang melalui lokakarya selama lebih dari satu tahun persiapan.
Selama bertahun-tahun, saya dan Garin berdiskusi tentang hubungan antara yang lokal dan yang global, dan bagaimana keduanya bisa hidup sejajar. Arus globalisasi telah menyeragamkan kebudayaan, namun dari tempat-tempat seperti Yogyakarta, warna dan benih baru justru tumbuh, menghidupkan kembali keberagaman yang nyaris pudar. Itulah Yogyakarta dua puluh tahun lalu. Siapa yang bisa mengira kalau kesadaran baru terhadap sinema daerah akan mendorong banyak sineas muda Yogyakarta kembali ke kampung halamannya, berkarya di luar Jakarta, dan membangun ekosistem film yang mandiri. Siapa yang menyangka festival kecil bernama JAFF yang terseok secara finansial di lima belas tahun pertama dapat mempertahankan kekuatannya?.
Saya menemukan jalan kecil itu lagi tahun ini, saat berkunjung ke Festival Film Kwanteo di Shantou, Guangdong, Tiongkok Selatan. Festival ini dipimpin dua sahabat lama saya, Chen Gong Ming dan Chen Bai Qi, bersama sekitar dua puluh relawan muda. Tahun ini mereka merayakan ulang tahun ke-10 festival, yang dikenal sebagai ruang lahirnya New Wave Cinema Chaoshan sejak 2015. Wilayah Chaoshan—yang meliputi Shantou, Jieyang, dan Chaozhou—adalah tempat asal penutur bahasa Teochew. Dari sinilah muncul tokoh-tokoh perintis perfilman Tiongkok seperti Zheng Zhengqiu, pelopor sinema Tiongkok modern, dan Cai Cusheng, pelopor realisme sosial. Keduanya menunjukkan bahwa akar sinema Tiongkok sesungguhnya tumbuh dari selatan, terutama dari masyarakat Teochew yang sering berpindah untuk menghindari bencana dan mencari peluang baru. Mereka bermigrasi ke Nanyang, atau sekarang disebut Asia Tenggara, mereka mendarat di Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Indonesia.
Saya teringat fakta ini ketika menonton Common Paper (2025), film yang melibatkan sinematografer sekaligus asisten sutradara Teochew, Wei Zhuang. Film ini bercerita tentang seorang gadis yang berhenti berbicara karena trauma, dan menampilkan adegan tak biasa: para tokohnya menonton potongan dari Opera Jawa (2006) karya Garin Nugroho. Wei bercerita bahwa sutradara film ini, Zhang datang ke Yogyakarta untuk pertama kalinya dan sebelum berangkat, kelompoknya memutuskan untuk menonton Opera Jawa, film Indonesia pertama yang mereka saksikan. Pengalaman itu begitu membekas hingga mereka mengutipnya dalam film. Common Paper dan Opera Jawa adalah cerminan satu sama lain: keduanya menggunakan simbol dan metafora untuk berbicara ketika kata-kata tak lagi cukup.
Gelombang sinema regional Asia terus bergerak tanpa henti. Dari Yogyakarta yang tumbuh selama dua dekade, dari Filipina sejak 2008, hingga Chaoshan yang kini berusia sepuluh tahun. Semuanya menandai saat-saat ketika Asia saling menyapa satu sama lain. Inilah lagu-lagu di jalan kecil, lagu-lagu tentang Asia yang berbicara kepada dirinya sendiri.
