Skip links

Kata Mereka soal JAFF20

Di artikel khusus filmmakers interview ini, empat sutradara film Indonesia berbagi pandangan tentang kedekatan dan hubungan mereka dengan Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF), khususnya di edisi ke 20 tahun ini karena menjadi sebuah ruang yang bukan hanya menayangkan film, tetapi juga menghidupkan kembali energi kreatif para pelaku industri perfilman.

Joko Anwar, sutradara film-film ternama seperti Siksa Kubur (2024), Perempuan Tanah Jahanam (2019), Pengabdi Setan (2017),  hampir tak pernah absen hadir di JAFF. Ia menyebut tahun ini sebagai salah satu momen dengan antusiasme paling tinggi. “Setiap tahun pasti datang, tapi tahun ini energinya luar biasa. Ada JAFF Market. Jadi, aku datang (ke JAFF Festival) lebih enak, pure buat nonton,” ujarnya. Karena baginya, hal paling ditunggu dari JAFF adalah pengalaman menonton film yang berbeda, bukan sekadar pengalaman menonton bioskop yang biasa tapi juga ada kesan hangat sebagai festival.

Sutradara muda Aco Tenriyagelli yang pertama datang ke JAFF pada 2018, merasakan pertumbuhan pribadinya seiring berkembangnya festival. “Setiap tahun semakin membahagiakan karena aku tumbuh bareng JAFF. Dari Layar Komunitas 2018, Asian Perspectives 2019, dan berkembang terus sampai akhirnya tahun ini film panjangku terpilih menjadi closing film JAFF,” ungkapnya. Penayangan perdana film panjang pertamanya, Suka Duka Tawa sebagai film penutup JAFF20 menjadikan momen dua dekade JAFF punya arti khusus baginya. Aco berharap, ia bisa terus produktif dan terus tumbuh bersama JAFF.

Sementara itu, Teddy Soeriaatmadja (The Architecture of Love/2024, Something in the Way/2013, Lovely Man/2011), sudah beberapa kali datang ke JAFF, bahkan pernah menjabat sebagai juri serta menayangkan film-filmnya di festival ini. Baginya, JAFF selalu membawa energi baru. “Menyambut JAFF itu selalu excited. Sebagai filmmaker, datang ke JAFF itu semacam recharge. Energi yang aku dapat di sini penting banget dan bisa jadi inspirasi,” ujarnya. Teddy menambahkan bahwa setiap kali kembali dari JAFF, ia selalu terdorong untuk membuat film baru karena melihat karya-karya yang ia tonton dan atmosfer festival yang begitu hidup. “Saya tahu JAFF dari zaman masih belum sebesar ini. Saya ngikutin perkembangannya, dan berharap kedepannya JAFF bisa jauh lebih besar lagi. Aku percaya JAFF akan menjadi salah satu festival yang sangat penting di dunia,” tambahnya.

Sutradara Hanung Bramantyo (Gowok/2025, Ipar adalah Maut/2024, Ayat-Ayat Cinta/2008) turut berbagi pandangannya setelah baru saja mengunjungi JAFF Market, yang menurutnya jauh lebih ramai dari tahun sebelumnya. Mengikuti JAFF sejak awal berdiri, ia melihat bagaimana pertumbuhan dua dekade festival ini sebagai hasil dari konsistensi dan kerja keras panitia, terutama Direktur Festival JAFF, Ifa Isfansyah, dan Direktur Eksekutif JAFF, Ajish Dibyo. “Dulu JAFF itu sederhana, satu tempat, belum seramai sekarang,” kenangnya. Harapannya pun tetap sama, JAFF terus konsisten dan mampu menumbuhkan regenerasi sineas. 

Jangan lewatkan pengalaman berfestival dan mengalami pengalaman sinematik menonton film-film pilihan dari sinema Asia, hanya di JAFF yang berlangsung sampai 6 Desember 2025. Informasi dan jadwal lengkap program JAFF20 bisa ditemukan di  jaff-filmfest.org dan media sosial @jaffjogja.

Penulis: Zahratul Istifaizzah
Foto: Tim Dokumentasi JAFF

Leave a comment