Skip links

JAFF20 x Lab Laba-Laba: Satu Suara Meraih Cita-Cita Pengarsipan

Sesuai komitmen JAFF untuk memulai kerja-kerja pengarsipan, Jogja-Netpac Asian Film Festival ke-20 (JAFF20) berkolaborasi dengan Lab Laba Laba membawa audiens menyaksikan 2 film eksperimental lewat proyektor dan seluloid film dalam format 16mm dan Super8 di Artotel Suites Bianti pada (04/12). Pengalaman ini dipresentasikan oleh Lab Laba Laba yang sejak tahun 2014, bersama seniman yang terhimpun di dalamnya, menghidupi kembali kantor arsip tua yang sepi di Perusahaan Film Nasional (PFN) dan merestorasi arsipnya. Rizki Lazuardi dan Edwin sebagai figur dibalik layar Lab Laba Laba, memberikan pemaparan tentang restorasi film.

Karya restorasi yang pertama ditampilkan berjudul Cerita Tentang Eyang Putri Seno Sastroamidjojo (1978) oleh Marselli Soemarno dan From The Cartridges Of Seno Gumira Ajidarma (1978) oleh Seno Gumira Ajidarma. Keduanya merupakan alumni Institut Kesenian Jakarta (IKJ) yang sama-sama suka membuat karya kolaborasi. Film ini kemudian sampai ke tangan Rizki Lazuardi untuk ia pecahkan misterinya, yang menurutnya cukup membingungkan karena termasuk karya eksperimental tanpa tujuan yang jelas.

Berasal dari arsip yang acak, film-film itu—saat digabungkan—menggambarkan seorang nenek yang diyakini bernama Eyang Putri Seno Sastroamidjojo duduk di ruangannya sambil asyik membaca majalah dewasa dengan alunan radio tua yang membacakan berita. Sebuah kombinasi situasi yang unik dan cukup membuat penonton resah. Diselingi dengan potret stasiun kereta, keadaan menjadi kontras karena hanya menyorot satu tempat. Uniknya, Rizki Lazuardi mengatakan bahwa, bahkan, Marseli dan Seno saja tidak ingat mereka pernah membuat film tersebut. 

Film berikutnya adalah Dajang Soembi: Perempoean Jang Dikawini Andjing (2004) garapan Edwin. Edwin dan kawan-kawannya pada saat itu merasa percaya diri mengadaptasi gaya German Expressionism ke dalam cerita rakyat tersebut dan menayangkannya dengan 16mm Film seluloid. “Dibuat ala-ala Caligari gitu hahaha,” ujar Edwin. Totalitas, mise en scene dalam film tersebut dibangun layaknya teatrikal, begitu juga dengan alunan piano yang turut membangun suasana di dalamnya. 

Menariknya, Film Dajang Soembi punya kisah tragis di baliknya. Setelah mencoba produksi menggunakan 16mm second dari Ukraina, mereka gagal dalam proses developing gambar sebab kurangnya pengalaman dari para kru. Meski begitu, film Dajang Soembi bisa diselamatkan dengan memindahkan film terlebih dahulu ke mini-DV lalu diproyeksikan di tembok untuk kemudian direkam lagi.

Setelah sesi pemaparan dan diskusi, acara ditutup dengan optimisme dari Lab Laba Laba yang melihat bahwa meskipun peminat dari film restorasi tidak banyak, mereka akan senantiasa bereksperimen dengan restorasi film dan melestarikannya.

Penulis: Meutia Rafa Anandita, Gulma Zahra Auradatu

Foto: Tim Dokumentasi JAFF

Leave a comment