21+
NEXT STEP STUDIO INDONESIA (Anthology): Holy Crowd, Original Wound, Annisa, Mothers Are Mothering
67 menit | 2026 | Indonesia | Drama | Bahasa Indonesia
SINOPSIS
Holy Crowd: Setelah Ratna (30) bangkit dari kematian saat pemakamannya sendiri, tubuhnya yang tak lagi bergerak secara misterius mulai mampu menyembuhkan orang lain. Kejadian ini membuat suaminya, Arif, terseret menjadi pusat perhatian di tengah kehebohan yang kian memuncak. Ketika penduduk desa, orang-orang yang ingin mengambil keuntungan, dan para pemuka agama mulai berdatangan, keyakinan dan eksploitasi saling berbenturan, sementara keajaiban tersebut semakin sulit dikendalikan.
Original Wound: Setelah ibu mereka meninggal, sepasang kakak beradik tetap tinggal di rumah yang selama ini berada di bawah kendali sang ibu. Keduanya berusaha memahami kenangan yang saling bertentangan tentang kekerasan dan kasih sayang yang pernah mereka alami. Seiring berjalannya waktu, ritual, tubuh, dan ingatan saling berkelindan, hingga duka mereka perlahan mengungkap ikatan yang lebih dalam dan sulit dilepaskan, bahkan setelah sang ibu tiada.
Annisa: Di sebuah kompleks perumahan yang padat, Annisa, seorang remaja tunanetra berusia 14 tahun, mengenali dunia di sekitarnya terutama melalui suara. Di tengah hiruk-pikuk perayaan hari nasional di lingkungannya, ia menemukan cara tak terduga untuk membuat suaranya didengar dan merebut kembali tempatnya di tengah keramaian.
Mothers Are Mothering: Nia (50), seorang perempuan yang terjebak dalam pernikahan penuh kekerasan, menghadapi pergulatan batin ketika hasrat, kenangan, dan ritual saling berkelindan. Pertemuannya kembali dengan mantan kekasih membangkitkan keintiman yang pernah mereka miliki, tetapi juga menyadarkannya bahwa kekerasan dan keterkungkungan masih membayangi hidupnya. Ketika batas antara kenyataan, halusinasi, dan mitos mulai kabur, ia berusaha mencari jalan keluar untuk terakhir kalinya, meski kebebasan terasa semakin sulit diraih.
JADWAL
KREDIT
| Rumah Produksi | KawanKawan Media |
| Produser | Yulia Evina Bhara, Amerta Kusuma, Dominique Welinski (Co-Producer), Fanni Mardhotillah (Co-Producer), Nazira C. Noer (Co-Producer), Hannan Cinthya (Co-Producer) |
| Sutradara | Holy Crowd: M. Reza Fahriyansyah, Ananth Subramaniam | Original Wound: Shelby Kho, Sein Lyan Tun | Annisa: Reza Rahadian, Sam Manacsa | Mothers Are Mothering: Khozy Rizal, Lam Li Shuen |
| Penulis Skenario | Holy Crowd: M. Reza Fahriyansyah, Ananth Subramaniam | Original Wound: Shelby Kho, Sein Lyan Tun | Annisa: Reza Rahadian, Sam Manacsa | Mothers Are Mothering: Khozy Rizal, Lam Li Shuen |
| Penata Kamera | Holy Crowd: Vera Lestafa | Original Wound: Vera Lestafa | Annisa: Faozan Rizal | Mothers Are Mothering: Deska Binarso |
| Penata Artistik | Sigit D. Pratama |
| Penyunting | Carlo Francisco Manatad |
| Pemeran Utama | Holy Crowd: Prilly Latuconsina, Yusuf Mahardika, Yudi Ahmad Tajudin, Arswendy Bening Swara | Original Wound: Agnes Naomi, Omara Esteghlal, Vivian Idris | Annisa: Choirunnisa Fernanda, Nazira C. Noer, Shakeel Fauzi | Mothers Are Mothering: Happy Salma, Asmara Abigail, Yudi Ahmad Tajudin |
| Filmografi Sutradara | - |
| Penghargaan dan Prestasi |
|
| Kontak | official@kawankawan.media |
BIOGRAFI SUTRADARA
Reza Fahriyansyah, Ananth Subramaniam (Holy Crowd)
Reza Fahriyansyah adalah penulis dan sutradara asal Indonesia. Film pendeknya, Rest in Peace, diputar di Clermont-Ferrand Film Festival 2019, World Cinema Amsterdam Film Festival 2019, dan Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018. Dua film pendek berikutnya, West Love (2021) dan Golden Age (2021), juga terpilih untuk diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Film pendek terbarunya, Dancing Color, tayang perdana dalam program Pardi di Domani di Locarno International Film Festival 2022. Film tersebut kemudian terpilih untuk diputar di QCinema IFF 2022, Hanoi IFF 2022, JAFF 2022, dan Tampere IFF 2023, serta meraih penghargaan Film Pendek Terbaik di Festival Film Indonesia 2022. Saat ini, ia tengah mengembangkan film panjang perdananya, UNHOLY, melalui Red Sea Lodge. Proyek tersebut meraih penghargaan Best Project di Bangkok Asian Project Market 2025.
Ananth Subramaniam adalah pembuat film asal Malaysia keturunan Tamil yang karya-karyanya mengeksplorasi identitas leluhur, budaya Tamil, dan hubungan keluarga melalui perpaduan berbagai genre. Pada 2025, film pendeknya, BLEAT!, menjadi film pendek Malaysia pertama yang terpilih di Cannes melalui program La Semaine de la Critique dan meraih Queer Palm 2025. Karya lainnya meliputi The House of Brick and Stone, yang tayang perdana di Fantasia Film Festival dan BIFAN, serta Liar Land, yang meraih Special Mention Prize di Locarno Film Festival. Saat ini, ia tengah mengembangkan film panjang perdananya, Pray To The Thunder, dengan dukungan dari Cannes Semaine de la Critique NEXT STEP, Berlinale Talents Tokyo, SGIFF Asian Producers Network, dan Full Circle Lab. Proyek tersebut telah meraih Bucheon Award di BIFAN NAFF Project Market, Grand Prize Award di BAFF SEAPITCH, serta Production Award di QCinema Project Market. Ananth juga merupakan salah satu pendiri Idio Sync Inc, sebuah inisiatif sekaligus rumah produksi yang berfokus pada pengembangan kisah-kisah yang berakar pada budaya Tamil.
Shelby Kho, Sein Lyan Tun (Original Wound)
Shelby Kho adalah pembuat film dan penulis asal Indonesia yang gemar mempersonifikasikan perasaan dan mengandalkan intuisi dalam proses kreatifnya. Ia telah menulis dan menyutradarai sejumlah film pendek, termasuk OCEAN, yang tayang perdana di Singapore International Film Festival (2023), dan I Took A Nap and I Miss You, yang diputar di Minikino (2022). Kedua karya tersebut mencerminkan ketertarikannya pada trauma antargenerasi dan luka emosional, tema-tema yang terus ia eksplorasi dalam proyek-proyek berikutnya. Salah satunya adalah film panjang perdananya yang tengah dikembangkan, TERBAKAR, yang meraih Most Promising Project Award di SGIFF Southeast Asian Film Lab 2023 dan melanjutkan pengembangannya di Red Sea Film Festival. Ia juga tengah mengerjakan novel pertamanya. Saat ini, Shelby menempuh program Master of Fine Arts di bidang Penulisan Fiksi di Columbia University sekaligus menjabat sebagai Managing Editor di Columbia Journal.
Sein Lyan Tun adalah pembuat film pendatang baru asal Myanmar yang kini tinggal di Recollets Residency, Paris. Film pendeknya, Everybody’s Gotta Love Sometimes, terpilih dalam kompetisi Wide Angle Asian Short Film di Busan International Film Festival 2023 dan meraih Sonje Special Mention Award. Film pendek lainnya, Late Blooming In A Lonely Summer Day, juga terpilih dalam berbagai ajang internasional, termasuk Internationale Kurzfilmtage Winterthur di Swiss, Clermont-Ferrand International Short Film Festival di Prancis, dan Locarno Filmmakers Academy. Film pendek terbarunya, One Tropical Rain of Love and Guilt, terpilih untuk berkompetisi di Clermont-Ferrand International Short Film Festival 2026.
Khozy Rizal, Lam Li Shuen (Mothers Are Mothering)
Reza Rahadian adalah aktor dan pembuat film asal Indonesia. Ia mulai dikenal luas melalui perannya dalam film Woman with a Turban (2009) dan sejak itu telah membintangi lebih dari 70 film serta meraih lima Piala Citra. Ia mengawali kiprahnya sebagai sutradara melalui film pendek Sebelah (2011) dan terpilih mengikuti Berlinale Talents pada 2016. Film panjang perdananya sebagai sutradara, On Your Lap, tayang perdana di Busan International Film Festival 2025.
Sam Manacsa adalah pembuat film dan desainer produksi asal Filipina yang lahir di Manila pada 1994. Setelah menyelesaikan pendidikan film di University of the Philippines, ia bekerja sebagai art director dalam sejumlah film peraih penghargaan, termasuk Whether the Weather Is Fine (Kun Maupay Man It Panahon) karya Carlo Francisco Manatad. Film tugas akhirnya, If People Such as We Cease to Exist (Kung Wala Nang Tulad Natin), terpilih untuk diputar di Clermont-Ferrand International Short Film Festival 2017. Sam terpilih sebagai peserta Asian Film Academy pada 2019 dan merupakan alumni SEAFIC Seed Lab (2022). Film pendek keduanya, Cross My Heart and Hope to Die, tayang perdana di dunia dalam program Orizzonti di Venice Film Festival dan sejak itu telah meraih sejumlah penghargaan, termasuk Grand Prize di PÖFF Shorts dan Regard-Saguenay International Short Film Festival. Saat ini, ia tengah mengembangkan film panjang perdananya, The Void Is Immense in Idle Hours.
Khozy Rizal, Lam Li Shuen (Mothers Are Mothering)
Khozy Rizal adalah pembuat film yang tinggal dan berkarya di Makassar, Indonesia. Ia mulai berkarya pada 2021 melalui film pendek Makassar is a City for Football Fans, yang diputar di Sundance, BFI Flare, dan sejumlah festival film lainnya. Pada 2023, ia membuat Basri & Salma in a Never-ending Comedy, yang tayang perdana di dunia dalam Cannes Film Festival ke-76 dan menjadi film pendek Indonesia pertama yang berkompetisi memperebutkan Palme d’Or untuk kategori Film Pendek. Film tersebut kemudian diputar di lebih dari 100 festival, termasuk Sundance, Clermont-Ferrand, dan AFI Fest. Pada 2024, ia membuat film pendek Little Rebels Cinema Club, yang tayang perdana secara internasional dalam program Generation Kplus di Berlin International Film Festival 2025 dan memenangkan Crystal Bear untuk kategori Film Pendek Terbaik. Selain berkarya sebagai pembuat film, Khozy mendirikan Kinefilia, sebuah komunitas film di Makassar yang rutin mengadakan pemutaran film, lokakarya, dan festival film. Ia juga merupakan alumni Busan Asian Film Academy, Locarno Filmmakers Academy, dan Berlinale Talents. Saat ini, ia tengah mengembangkan film panjang perdananya, I Wanna Dance with Myself.
Lam Li Shuen (1996) adalah pembuat film dan seniman yang tinggal dan berkarya di Singapura. Bersama Mark Chua, yang dikenalnya saat mereka membentuk sebuah grup musik art rock, ia memulai perjalanan di dunia perfilman secara otodidak dengan membuat film-film independen bergaya lo-fi. Seiring waktu, keduanya mengembangkan gaya sinema yang memadukan fiksi spekulatif dan horor tubuh untuk mengeksplorasi kecemasan eksistensial, sejarah, dan alienasi. Film-film mereka telah diputar di berbagai festival, termasuk IFFR (2023 dan 2024), New Directors/New Films (2023), serta BFI London Film Festival (2021). Saat ini, mereka tengah mengembangkan film panjang kedua, Strange Root (Keinginan), yang terpilih untuk CineMart 2025 dan Berlinale Talents Script Station 2024. Keduanya juga telah menggelar pertunjukan sinema eksperimental dengan proyeksi film 16 mm dan Super 8 di Zurich dan Singapura, serta merilis sejumlah album sebagai duo art rock ARE.
