Lebih Bebas dalam Batas, JAFF20 Soroti Peluang Jangka Panjang Film Pendek
Di hari keempatnya, JAFF20 menghadirkan beberapa highlight terhadap film pendek, yang menjadi bagian penting dalam industri perfilman. Berjiwa eksperimental, film pendek dirasa dapat merepresentasikan nilai budaya yang bebas dari batasan-batasan yang mengekang. Dalam Jogja-NETPAC Asian Festival (JAFF) 2025 yang telah mencapai usia dua puluh tahun, film pendek dirayakan melalui berbagai program, salah satunya adalah Hong Kong Film Gala Presentation.
Program kolaborasi JAFF20 dengan Asian Film Awards Academy (AFAA) ini menyajikan kompilasi empat film pendek dalam program Short Films Compilation yang ditayangkan pada hari keempat festival. Penonton diberikan kesempatan untuk menikmati deretan film pendek AI Niente (Lo Lam, 2023), In The Midst of the Ocean (Stephanie Kay, 2018), The Apple of My Eye (Ivan Cheung, 2024), dan Tomatoes Are Poisonous (Ivan Cheung, 2024). Sutradara Ivan Cheung yang berkesempatan hadir dalam pemutaran tersebut terpukau dengan respons positif penonton dalam menerima dua karyanya yang digarap dalam keterbatasan produksi.
Meneruskan komitmennya, JAFF20 dan Vidio menggelar Special Vidio Talks Film Pendek pada hari kedua festival, untuk mendorong perkembangan film pendek. Program spesial ini menjadi bentuk dukungan Vidio kepada sineas muda Indonesia untuk terus berkembang. Termasuk dengan menghadirkan Kompetisi Film Vidio yang telah diikuti lebih dari 700 peserta. Ajang pencarian ide film pendek yang memberikan dukungan dana produksi dan pendampingan ini bertajuk “Film Pendek: Laboratorium Loncatan Ide, Kreatif, dan Cerita Masa Depan”. Kompetisi ini diharapkan menjadi wadah inspiratif untuk menyoroti peluang berkembangnya ide sederhana menjadi karya yang berdampak dan mencerminkan masa depan perfilman Indonesia, dimentori oleh Khozy Rizal, Mira Lesmana, dan Yandy Laurens.
Khozy Rizal yang memulai debut dalam industri film melalui film pendek Annisa (2018) membagikan pengalamannya yang tidak linear dengan industri perfilman. Sekalipun telah mempunyai ketertarikan terhadap film, latar belakang Khozy Rizal bukanlah dari studi film. Namun demikian, hal tersebut tidak menghalanginya dalam memberanikan diri membuat film berbekal ponsel dengan kru tunggal, hanya dirinya, sehingga berhasil menembus festival film internasional, Mobile Film Festival pada 2018.
Sejalan Khozy Rizal, produser film drama remaja ikonik Ada Apa dengan Cinta (2002), Mira Lesmana, memberikan dorongan dalam menginisiasi film pendek. Baginya, film pendek merupakan ruang menemukan bakat baru dan strategi keberlanjutan industri. Film pendek bahkan dapat dinilai sebagai “kartu nama” yang menjadi bukti konsep untuk melanjutkan karir di industri perfilman.
Sutradara Yandy Laurens yang melejit sejak debut penyutradaraan film panjangnya, Keluarga Cemara (2018), juga memulai perjalanannya melalui film pendek. Dimulai dari hal-hal personal yang paling dekat dengannya, Yandy Laurens cenderung mengangkat kehidupan pribadinya dalam film. Melalui film pendek, ruang aman untuk eksperimental dan tumbuh tanpa tekanan lebih memungkinkan untuk dapat diwujudkan. Film pendek, pada akhirnya, mewujudkan kebebasan dalam keterbatasannya. Kompleksitas yang dimiliki film pendek justru mendorong sineas untuk dapat bertumbuh melalui eksperimen yang lebih panjang.
Jangan lewatkan deretan kompilasi film pendek pilihan lainnya di JAFF20, di antaranya:
Kamis, 4 Desember | Empire XXI Studio 3 | 12.30 WIB
Kamis, 4 Desember | Empire XXI Studio 3 | 18.15 WIB
Kamis, 4 Desember | Empire XXI Studio 4 | 00.15 WIB
Kamis, 4 Desember | Empire XXI Studio 5 | 23.30 WIB
Penulis: Shofiatunnisa Azizah, Meutia Rafa Anandita
Foto: Tim Dokumentasi JAFF


