Skip links

Dewan Juri

01/ THE JURY

Hanoman Award

Hanoman Award adalah program kompetisi film panjang yang ditujukan bagi sutradara berpengalaman dan bakat-bakat muda yang akan membentuk masa depan sinema Asia. Pemenang utama akan menerima penghargaan Golden Hanoman, sementara runner-up akan dianugerahi Silver Hanoman.

Riar Rizaldi

Riar Rizaldi adalah seorang seniman dan pembuat film. Karya-karyanya mengeksplorasi hubungan antara sains, teknologi, buruh, dan alam, serta pandangan dunia yang saling bertentangan, sinema genre, dan berbagai kemungkinan fiksi teoritis. Karya-karyanya telah ditayangkan di berbagai festival film internasional (termasuk Berlinale, Locarno, IFFR, FID Marseille, Viennale, BFI London, Cinema du Réel, Vancouver, dan lainnya), serta di Singapore Biennale (2025), Thailand Biennale (2025), Museum of Modern Art New York (2024), Whitney Biennial (2024), Taipei Biennial (2023), Istanbul Biennial (2022 & 2025), Venice Architecture Biennale (2021), Biennale Jogja (2021), Centre Pompidou Paris (2021), Galeri Nasional Indonesia (2019), serta berbagai ruang dan institusi lainnya. Pameran tunggal dan program fokus terbarunya telah dipresentasikan antara lain di Museum MACAN, Jakarta (2026); Almanac, Turin (2025); Gasworks, London (2024); Institute of Contemporary Arts, London (2024); Z33 – House for Contemporary Art, Design & Architecture, Hasselt (2024); Centre de la Photographie Genève (2023); dan Batalha Centro de Cinema, Porto (2023).

Dita Gambiro

Dita Gambiro adalah seorang production designer, art director, dan seniman visual asal Indonesia yang berdomisili di Jakarta. Karya filmnya mencakup Penyalin Cahaya, Like & Share, Sore, dan Four Seasons in Java, di mana ia merancang lingkungan visual serta spasial untuk setiap film tersebut. Pada tahun 2024, ia terpilih untuk berpartisipasi dalam Berlinale Talents Production Design Studio di Berlin International Film Festival.

Shan Zuolong

Shan Zuolong adalah produser film asal Tiongkok yang pada 2026 diundang untuk bergabung dengan Producers Branch di Academy of Motion Picture Arts and Sciences. Selama satu dekade terakhir, hampir seluruh film yang diproduksinya terpilih untuk diputar di berbagai festival film internasional bergengsi, seperti Cannes, Venesia, dan Berlin, serta mendapat distribusi internasional. Karya-karyanya sebagai produser utama antara lain Resurrection (Special Prize, Cannes Competition 2025), Long Day’s Journey Into the Night (Un Certain Regard, Cannes 2018), Kaili Blues (Best Emerging Director, Locarno 2015), The Botanist (Grand Prix, Berlinale Generation 2025), Love is a Gun (Lion of the Future Best Debut, Venesia 2023), dan The First Taste of Loneliness (Busan Award for Best Actor and Artistic Contribution, Busan 2026). Ia juga menjadi produser eksekutif The Water Murmurs, yang meraih Short Film Palme d’Or di Cannes 2022.

02/ THE JURY

NETPAC Award

NETPAC Award bertujuan untuk menggali beragam perspektif Asia melalui karya pertama atau kedua dari sutradara-sutradara yang memiliki potensi untuk membentuk masa depan sinema Asia.

Julita Pratiwi

Julita Pratiwi, yang akrab disapa Juju, adalah peneliti film independen, pendidik, dan arsiparis media. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana dengan konsentrasi Studi Sinema di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), sebelum menamatkan studi magister di New York University dengan fokus pada Moving Image Archiving and Preservation. Ia menyelesaikan studi magisternya pada 2024 dengan dukungan Beasiswa Pendidikan Indonesia. Minat penelitiannya mencakup perkembangan estetika film, sejarah perfilman, serta pelestarian film di Indonesia. Ia juga merupakan salah satu pendiri sekaligus peneliti di kolektif Kelas Liarsip dan aktif sebagai anggota komite Women Film History International. Saat ini, Juju adalah pengajar paruh waktu studi teori dan kajian film di SAE Institute Jakarta.

Nguyên Lê

Nguyên Lê adalah kritikus film, jurnalis, dan penerjemah dwibahasa Vietnam-Inggris. Ia tergabung dalam berbagai asosiasi kritikus film, termasuk FIPRESCI dan International Cinephile Society. Melalui tulisan dan penerjemahan takarir, ia terus berupaya memperluas pengenalan dan apresiasi terhadap sinema Vietnam dan diaspora Vietnam. Tulisan-tulisannya telah dimuat di berbagai media, seperti FANGORIA, Slashfilm, Texas Observer, Vietcetera, Saigoneer, dan Awards Watch. Melalui penerjemahan takarir, Nguyên turut memperkenalkan film-film Vietnam, seperti The Last Wife, Detective Kien, Betting With Ghost, dan The Sisters, kepada penonton internasional, serta film-film dari berbagai negara, seperti Perfect Days, Die My Love, Better Man, City of Wind, dan The Substance, kepada penonton lokal. Nguyên juga menjadi konsultan sinema Vietnam untuk Far East Film Festival di Udine, Italia. Bagi mereka yang mengenalnya, Nguyên adalah sosok yang sangat yakin bahwa suatu hari nanti film-film Vietnam akan menjadi bagian dari Criterion Collection.

Manotham Theamtheabrat

03/ THE JURY

Blencong Award

Ini adalah program kompetisi untuk film pendek Asia yang berkesempatan bersaing memperebutkan Blencong Award untuk film pendek Asia terbaik.

Hindia

Setelah bertahun-tahun bekerja keras hingga berhasil membawa bandnya, .Feast, ke kancah musik nasional, Daniel Baskara Putra mulai merintis proyek solonya, Hindia, pada akhir 2018. Setelah merilis beberapa lagu secara terbatas, ia kemudian mendedikasikan tahun 2019 untuk menggarap album debutnya. Ditulis di tengah masa-masa sulit dalam kehidupan pribadinya, lagu-lagu Hindia merefleksikan masa lalu dan masa kini, sekaligus membuka jalan menuju masa depannya. Meski liriknya sangat personal, single-single awal seperti “Evaluasi” dan “Secukupnya” mendapat sambutan luar biasa dari pendengar, membuat konser-konser perdana Hindia langsung dipadati penonton.
Perpaduan antara perkembangan musikal yang konsisten, refleksi diri yang jujur, dan semangat untuk terus membuka jalan baru menempatkan Hindia di garis depan industri musik Indonesia saat ini. Tak banyak yang menyangka Baskara Putra akan menjalani karier solo secara paralel sebagai Hindia, apalagi meraih kesuksesan yang lebih besar melalui album debutnya yang kini dianggap klasik, Menari dengan Bayangan, serta album keduanya yang ambisius dengan durasi dua kali lebih panjang, Lagipula Hidup Akan Berakhir. Sementara itu, Lomba Sihir, yang awalnya merupakan band pengiring Hindia dan hingga kini masih menjadi tempat Baskara berkiprah, juga telah berkembang menjadi salah satu nama penting di industri musik Indonesia.
Di luar proyek musiknya sendiri, Hindia juga dikenal sebagai kolaborator yang banyak dicari. Ia telah menulis, memproduksi, dan/atau terlibat dalam lagu-lagu berbagai musisi, mulai dari nama-nama legendaris seperti Iwan Fals, Dewa Budjana, dan Armand Maulana hingga musisi papan atas dari generasi yang sama, seperti Bernadya, Idgitaf, dan Nadin Amizah. Kiprahnya juga mencakup kolaborasi internasional. Mixtape Doves, ’25 on Blank Canvas turut mengantarkannya meraih penghargaan Album of the Year 2025 di AMI Awards, sementara lagu hitnya, “everything u are”, mendapat pengakuan dalam kategori Top Indonesian Music di Music Awards Japan.
Dengan sederet pencapaian, nominasi, dan penghargaan dari ketiga proyek musiknya, lebih dari 6 miliar streaming, serta basis penggemar setia di seluruh Asia Tenggara yang selalu menantikan setiap karyanya, Hindia telah menjadi salah satu sosok yang paling banyak diperbincangkan di industri musik Indonesia. Ditambah lagi, pernyataan-pernyataannya yang kerap memicu perdebatan sengit di media sosial, rasanya masih banyak yang bisa dibicarakan tentang Hindia—termasuk oleh Hindia sendiri.

 

Aditya Ahmad

Aditya Ahmad is an Indonesian filmmaker whose works are driven by themes of identity, longing, and emotional complexity, often told through intuitive, intimate storytelling. His short film On Stopping the Rain (Sepatu Baru) received a Special Mention at the 64th Berlinale Generation. He later made A Gift (Kado), a short inspired by a real-life conversation with his non-actor protagonist, which won Best Short Film in the Orizzonti section at the 75th Venice International Film Festival. He also works across documentary, series, and TV commercials, and occasionally serves as a cinematographer and editor. He is an alumnus of the Asian Film Academy (2014), Berlinale Talents (2015), and Locarno Filmmakers Academy (2024). He took part in La Résidence du Festival de Cannes and TorinoFilmLab ScriptLab 2025 to develop his debut feature film.

Chantana Tiprachart

Chantana Tiprachart (b. 1991, Kalasin, Thailand) is an artist and filmmaker based in Bangkok. Growing up in Isaan, her practice explores vernacular life, cultural landscapes, labour, disappearing beliefs, and everyday experiences, expanding local stories into broader social and geopolitical contexts. Working across cinema and moving-image installation, she uses surreal and fantastical approaches to reframe marginalized identities, traditions, and contemporary realities. Her debut feature film Nha Harn (2020) won Best New Director from the Bangkok Critics Assembly. Her works have been presented at Bangkok Art Biennale, Bangkok Experimental Film Festival, and Thailand Biennale Phuket.

 

04/ THE JURY

Indonesian Screen Awards

Ini adalah program kompetisi film panjang di JAFF yang ditujukan bagi sutradara berpengalaman dan bakat muda yang memegang masa depan sinema Indonesia. Kategori ini akan memberikan 5 penghargaan: Film Terbaik, Sutradara Terbaik, Cerita Terbaik, Sinematografi Terbaik, dan Penampilan Terbaik.

Sharifah Amani

Selama dua dekade, Sharifah Amani telah berkarya di dunia teater, televisi, dan perfilman Malaysia. Melalui peran-peran yang dipilihnya dengan cermat, ia turut membawa kisah-kisah lokal ke hadapan penonton internasional. Salah satu pengalaman yang paling membekas dalam perjalanan kariernya adalah kesempatan bekerja sama dengan mendiang Yasmin Ahmad, seorang pencerita ulung yang banyak memengaruhi cara Amani memandang dan mendalami seni peran.
Di luar dunia akting, Amani juga aktif sebagai pembuat film. Ia telah menulis dan menyutradarai sejumlah film pendek yang ditayangkan di berbagai ajang internasional, termasuk Roppongi Malaysian Film Week di Tokyo dan Singapore International Film Festival. Film pendek terbarunya diproduksi atas permintaan Esplanade Theatre Singapore. Dalam karya-karyanya, Amani terus menggali kisah-kisah lokal dan menghidupkannya melalui gaya penceritaan yang khas.
Amani juga pernah duduk sebagai juri di sejumlah ajang film pendek, seperti Tropfest Southeast Asia, BMW Shorties, Singapore International Film Festival, dan Next New Wave. Baik sebagai pemeran, sutradara, maupun aktivis, satu hal yang selalu menjadi pegangannya adalah keinginan untuk bercerita dan menginspirasi orang lain agar berani menyampaikan kisah mereka sendiri.

 

Tanigaki Kenji

Tanigaki Kenji adalah action director dan sutradara film asal Jepang yang dikenal melalui kiprahnya dalam sejumlah film, termasuk serial Rurouni Kenshin, Twilight of the Warriors: Walled In, dan The Furious.

Yoon Ga-eun

Yoon Ga-eun adalah sutradara film asal Korea Selatan. Ia menempuh pendidikan di bidang kajian sejarah dan agama di Sogang University, sebelum meraih gelar Master of Fine Arts (MFA) dalam bidang penyutradaraan film dari Korea National University of Arts. Film pendeknya, Guest (2011), meraih penghargaan Grand Prix di Clermont-Ferrand, sementara Sprout (2013) memenangkan Crystal Bear di Berlinale. Ia memulai debut film panjangnya melalui The World of Us (2016), yang tayang perdana di Berlinale, kemudian disusul The House of Us (2019). Film panjang ketiganya, The World of Love (2025), tayang perdana di Toronto International Film Festival dan meraih penghargaan di Pingyao International Film Festival serta Nantes Three Continents Festival. Pada 2026, ia juga menyutradarai Naturally, sebuah film pendek yang menjadi bagian dari film antologi The Time of Cinema. Melalui karya-karyanya, Yoon terus mengamati dunia anak-anak dan remaja dengan kepekaan dan ketelitian yang khas.

05/ THE JURY

Geber Award

GEBER Award diberikan kepada film Asia terbaik dari karya pertama atau kedua sutradara yang memiliki potensi membentuk masa depan sinema Asia, dipilih oleh perwakilan komunitas film dari seluruh Indonesia. Penghargaan ini merupakan pernyataan dari komunitas film Indonesia untuk menunjukkan perspektif mereka terkait isu-isu yang terpinggirkan dan/atau kontroversial.

Piet Manuputty

Piet Manuputty ialah seorang penulis skenario, sutradara, dan peneliti yang berdomisili di Kota Ambon. Piet telah mengerjakan beberapa proyek film pendek fiksi maupun dokumenter dan pernah terlibat dalam satu film panjang. Ketertarikannya menyentuh persilangan lintas media. Saat ini, sedang mengerjakan projek kolaborasi bersama seniman Maluku lain yang akan ditampilkan pada FKSM 2026 di Ambon. Kini, ia menjabat sebagai Direktur Moluccas Film Festival. Di sela-sela itu, ia menyibukkan waktu sebagai dosen lepas.

Evi Eliyanah

Evi Eliyanah adalah Profesor Kajian Gender di Jurusan Bahasa Inggris sekaligus Direktur Bidang Akademik di Universitas Negeri Malang. Penelitiannya berfokus pada persinggungan antara gender, budaya, dan studi kawasan (area studies), dengan perhatian khusus pada bagaimana relasi kuasa bekerja melalui produksi, sirkulasi, dan distribusi produk serta praktik budaya. Karya-karyanya mengkaji beragam fenomena budaya, terutama bagaimana gender dan struktur kekuasaan lainnya membentuk sekaligus dibentuk oleh produksi budaya dan hubungan sosial.

Lius Manajati

Lius Manajati, praktisi film dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang bekerja di persimpangan produksi, pendidikan, riset, dan pengarsipan.

Setelah lama bersinggungan dengan film, ia terhubung dengan ekosistem industri film lewat LA Indie Movie 2008, dan jejaringnya di komunitas ikut menguat. Ia terus menggarap produksi, dan dari praktik itu ia mulai bersinggungan dengan diskursus sinema. Sejak itu, di samping berproduksi, ia menekuni riset dan banyak berbagi: mendampingi pelatihan sebagai mentor dan fasilitator, pernah mengajar film di perguruan tinggi, serta kerap menjadi juri maupun kurator festival.

Kini, kerja-kerja ekosistem dan penjelajahan sinemanya berpusat di Cinemartani Film Research and Archive, kolektif independen yang ia gagas bersama kawan-kawannya untuk mempertemukan praktik sinema, riset, dan pengarsipan bersama warga dan komunitas akar rumput.

06/ THE JURY

Student Award

STUDENT AWARD diberikan kepada film pendek Asia terbaik dalam program Light of Asia. Pemenangnya dipilih oleh perwakilan mahasiswa film di Yogyakarta.

Risyad Ridha Rousydiy

Farras Sabian Rahmadyatmaja

Farras Sabian, adalah mahasiswa tingkat akhir studi Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta. Kegemaran menonton film sudah ada sejak kecil, dan semakin berkembang di bangku perkuliahan hingga menjadi sutradara serta aktif dalam berkomunitas di “Avikom Film”. Sampai sekarang, Bian masih terus mengeksplorasi proses story development, directing, dan visual treatment dalam dunia sinema.

Steven Antonio

​Steven Antonio adalah seorang sutradara, penulis skenario, dan editor yang berdomisili di Yogyakarta, sekaligus mahasiswa perfilman di Jogja Film Academy. Film pendeknya, We’re All Indigo in this Country, terpilih masuk dalam official selection KNF 2026. Karya-karyanya kerap mengeksplorasi kerentanan, kontradiksi, dan keterbatasan manusia. Ia memandang film sebagai medium bertutur untuk mengamati dunia dan memperdalam pemahaman kita tentang kemanusiaan.

Natasya Aurelia Putri

Lahir di Tasikmalaya pada 27 Maret 2007 dan tumbuh di Jakarta Selatan, Natasya Aurelia Putri telah menaruh minat pada dunia visual dan penceritaan sejak usia muda. Ketertarikannya mulai tumbuh sejak kelas 9 SMP melalui kegiatan merekam video, proses editing, dan hal kreatif lainnya. Memasuki jenjang SMK, minat tersebut semakin mengerucut pada produksi sinema, di mana ia mulai mempelajari penyutradaraan secara otodidak melalui berbagai referensi digital. Saat ini, Natasya tengah menempuh pendidikan di Program Studi D4 Produksi Film dan Televisi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, guna mematangkan visi kreatifnya di bidang penyutradaraan, penulisan, dan produksi.

 

Muhammad Ainul Yaqi