Skip links

Consent as Craft: Mendefinisikan Ulang Praktik Profesional dalam Adegan Intim

Perempuan dalam dunia film yang masih didominasi oleh laki-laki, memiliki hak untuk berkarya dan berproses dalam lingkungan yang aman dan nyaman. Tak jarang, relasi kekuasaan di dalamnya menjadi pemicu terjadinya kekerasan seksual. Hal ini mendorong lahirnya profesi Intimate Coordinator (IC) yang menjadi jembatan netral antara sutradara dan aktor.

Public Lecture kali ini menghadirkan pembicara yang sudah lama berkecimpung dalam industri seperti Hannah Al-Rashid, Kamila Andini, dan seorang Intimate Coordinator, Runny Rudyawati dan dipandu oleh seorang aktivis isu Perempuan, Kalis Mardiasih, bersama-sama mengupas tuntas tugas profesi Intimate Coordinator yang turut berkontribusi dalam membangun lingkungan yang aman dan nyaman bagi pekerja film.

Sebagai IC, Runny menjelaskan tanggung jawabnya untuk memahami capaian dari sebuah adegan intim dalam naskah, serta batasan-batasan yang disetujui oleh aktor yang memerankan karakter tersebut. IC berperan terhadap adegan keintiman, nudity, atau simulated sex dalam sebuah produksi film. Hal ini penting untuk dikomunikasikan agar berbagai pihak dalam produksi sama-sama diuntungkan.

Bukan pekerjaan yang mudah, tetapi sangat berpengaruh dalam dinamika syuting. Kamila Andini membagikan pengalaman saat ia kesulitan menerjemahkan bahasa yang terlalu frontal saat syuting adegan intim karena terkesan canggung. Di momen tersebut, IC menurutnya sangat berperan penting untuk menerjemahkan bahasa yang dinilai frontal menjadi bahasa teknis dan menjaga agar semuanya tetap profesional. 

Begitupun Hannah Al-Rashid yang mengingat kembali bagaimana dulu ia harus menjaga dirinya sendiri dari hal-hal yang tidak ia setujui untuk lakukan dalam produksi film sebelum ada IC. Menurutnya, seorang produser harus menegaskan dari awal kalau memang tidak menoleransi kekerasan seksual dalam produksi filmnya agar aktor-aktor dan pekerja film memiliki keyakinan kalau mereka dalam lingkungan yang aman dan dapat berani menentang kekerasan seksual.

Sayangnya, profesi IC masih sangat minim jumlahnya ditengah permintaan yang cukup banyak sehingga masih diperlukan sumber daya profesional di bidang ini. Runny menjelaskan kalau pelatihan dan sertifikasinya membutuhkan biaya yang tidak sedikit sehingga belum aksesibel. Dirinya berharap, di masa mendatang akan ada lebih banyak orang yang menekuni profesi ini membersamai dengan industri perfilman yang sedang bergerak ke arah yang lebih inklusif.

Penulis: Meutia Rafa Anandita

Foto: Tim Dokumentasi JAFF

Leave a comment