Skip links

Ikatan Darah dan Masa Depan Film Genre Laga Indonesia

Setelah World Premiere di Fantastic Fest Austin, Amerika Serikat, film Ikatan Darah (Sidharta Tata, 2025) tayang perdana untuk wilayah Indonesia di JAFF20. Penayangan Ikatan Darah disambut antusias. Sejak pintu studio dibuka, para penonton sudah terlihat mengantri karena penasaran dengan garapan film laga terbaru dari sutradara Sidharta Tata.

Sepanjang sesi pemutaran, beberapa penonton berulang kali terlihat tegang menyaksikan momen-momen menegangkan. Selain menyuguhkan aksi pertarungan, film ini juga menyelipkan isu-isu sosial yang dekat dengan masyarakat seperti masalah kemiskinan, hutang piutang, tapi juga drama hubungan kakak-adik dan sahabat.

Ikatan Darah bercerita tentang Mega, seorang mantan atlet Pencak Silat yang karirnya terhenti karena cedera. Hidupnya menjadi tambah berantakan ketika keluarganya terkena masalah hutang kakaknya, Bilal, yang jumlahnya besar. Ketika sekelompok preman datang menagih, Bilal membunuh salah satu dari preman tersebut dan berujung dengan teror tiada henti. Mega berusaha mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi kakaknya.

Pada saat sesi tanya jawab, beberapa penonton mengungkapkan kekagumannya pada  film ini, terutama terhadap aksi pertarungan yang dilakukan oleh para aktor. Salah satu dari mereka bahkan mendeklarasikan bahwa Ikatan Darah merupakan film laga Indonesia terbaik saat ini. Ada penonton yang kagum dengan kebiasaan Sidharta Tata menggunakan teknik long-shot untuk merekam sebuah aksi pertarungan intens. Di film Ikatan Darah ini, Tata menyatakan hanya melakukan dua kali retake untuk adegan dengan teknik long-shot.

Lebih lanjut, Sidharta Tata mengakui bahwa persiapan yang dilakukan oleh para aktor untuk mendalami perannya memakan waktu selama tiga hingga empat bulan. Di akhir sesi tanya jawab, sempat disinggung terkait isu sosial yang diangkat oleh Sidharta Tata dalam Ikatan Darah. “Ya di film ini kita memang memasukkan beberapa isu sosial yang dekat dengan masyarakat agar penonton sendiri bisa ikut merasakan cerita yang dibawakan di film ini. Jadi, ya nikmati saja sebagai sebuah hiburan semata,” ujarnya. Terakhir, dia berpesan dan berharap untuk sinema Indonesia agar film bergenre laga seperti ini dapat berkembang dan diminati banyak masyarakat Indonesia pada umumnya.

Dalam JAFF 20, Ikatan Darah hadir sebagai representasi dari wajah sinema Indonesia hari ini yang penuh gairah dan responsif terhadap beragam permasalahan. Film Ikatan Darah masuk dalam kategori program kompetisi Indonesian Screen Awards.

Penulis: Hasan Daffa’ Abdillah
Foto: JAFF Documentation Team

Leave a comment