Sinema selalu memiliki cara unik untuk membekukan waktu, menjadi saksi bisu atas duka personal, tragedi kemanusiaan, hingga perjuangan mempertahankan tanah leluhur. Pada hari keenam perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) ke-20, benang merah tentang “memori” dan “kebenaran” terjalin kuat melalui tiga film yang menjadi sorotan utama: Summer’s Camera, Put Your Soul on Your Hand and Walk, dan Gestures of Care. Ketiganya, meski berangkat dari medium dan latar budaya berbeda, sama-sama menggunakan kamera sebagai alat untuk berdamai, bersaksi, dan melawan lupa.
Perjalanan emosional dibuka lewat Summer’s Camera (2025), sebuah karya fiksi dari sutradara Divine Sung yang menyoroti proses penerimaan diri seorang remaja bernama Summer pasca kepergian ayahnya. Film ini tidak hanya berbicara tentang duka, tetapi juga tentang bagaimana fotografi menjadi medium rekonsiliasi. Dalam sesi tanya jawab, terungkap bahwa Summer, yang awalnya berhenti memotret setelah kematian ayahnya, kembali mengangkat kamera peninggalan sang ayah saat jatuh cinta pada Yeonwoo. Namun, pencarian visual ini justru menuntunnya pada rahasia masa lalu sang ayah yang ternyata memiliki kekasih laki-laki. Divine Sung dengan jeli menggambarkan transformasi pandangan Summer—dari yang semula melihat ayahnya hanya sebagai sosok berjarak, menjadi manusia utuh yang ia terima apa adanya. “Fotografi adalah sesuatu yang bisa membuat memori stand still. Cahaya dalam film itu menggambarkan memori ini nanti bisa menjadi memori baik untuk dikenang kembali,” ungkap sang sutradara, menekankan bahwa pada akhirnya, Summer berdamai dengan duka dan identitas ayahnya, serta identitasnya sendiri, melalui lensa kamera.
Jika Summer’s Camera menggunakan kamera untuk menyembuhkan luka personal, dokumenter Put Your Soul on Your Hand and Walk menggunakannya sebagai senjata melawan penghapusan sejarah di tengah genosida. Disutradarai oleh Sepideh Farsi, sineas kelahiran Iran yang berbasis di Paris, film ini menghadirkan arsip korespondensi digital yang menyayat hati antara dirinya dan Fatima Hassouna, seorang perempuan Palestina di Gaza. Selama lebih dari 200 hari, mereka bertukar pesan visual yang merekam kehidupan sehari-hari di bawah gempuran bom, menjadikan teknologi digital sebagai jembatan rapuh namun vital bagi kemanusiaan. Namun, narasi film ini berubah drastis menjadi sebuah elegi abadi ketika komunikasi terputus akibat tewasnya Fatima dalam serangan Israel pada 16 April 2025. Karya yang telah memenangkan penghargaan Gold Hugo di Chicago International Film Festival ini berdiri sebagai monumen ingatan; bahwa di balik angka-angka korban perang, ada jiwa-jiwa yang pernah bercerita, bermimpi, dan mempertaruhkan nyawa mereka untuk didengar. Farsi berhasil mentransfigurasi isu politis yang keras menjadi kisah persahabatan yang intim, membuktikan bahwa sinema mampu menembus tembok perbatasan yang paling kokoh sekalipun.
Semangat untuk merekam realita yang terancam punah juga bergema dalam Gestures of Care (2025), sebuah dokumenter karya antropolog Aryo Danusiri yang menyoroti resistensi masyarakat adat Dayak di Kalimantan Tengah menghadapi kebakaran hutan. Berbeda dengan Farsi yang merekam dari jauh, Aryo terjun langsung melalui pendekatan etnografi visual untuk membongkar stigma bahwa peladang berpindah adalah penyebab kebakaran, dan justru menyoroti peran “Masyarakat Peduli Api” serta para perempuan adat yang gigih mengurus lahan. Dalam diskusinya, Aryo menjelaskan pendekatan multimodalitas yang ia gunakan, di mana riset tekstual dan penggarapan visual berjalan simetris dan non-hierarkis. “Artistic intervention semacam ini justru mengungkap area baru yang sebelumnya tak terpikirkan oleh tim riset di lapangan—seperti food estate,” jelas Aryo. Film ini memperlihatkan bagaimana api, yang dulunya kawan dalam pertanian, kini menjadi musuh yang memaksa masyarakat adat membangun “dunia-dunia baru” lewat kerja keras mereka setiap hari.
Fiksi remaja yang intim, dokumenter perang yang getir, dan etnografi lingkungan yang kritis membuktikan bahwa sinema di JAFF 20 bukan sekadar hiburan, namun merupakan “gestur kepedulian” itu sendiri: sebuah usaha terus-menerus untuk merawat ingatan, memberi wajah pada yang tak terlihat, dan menyuarakan kebenaran di tengah dunia yang terus berubah.
Penulis: Gulma Zahra Auradatu, Pulung Aruna Bhumi, Shofiatunnisa Azizah
Foto: Tim Dokumentasi JAFF



