Skip links

Mengulik Kompleksitas Perspektif Perempuan melalui Judheg, Asrama Dara, dan Renoir

Di hari kelima, JAFF20 menayangkan beberapa film yang berfokus pada karakter perempuan, di antaranya Judheg (Worn Out) (Misya Latief, 2025) yang ikut berkompetisi dalam program Indonesian Screen Awards, Asrama Dara (Girl’s Dormitory) (Usmar Ismail, 1958) yang ditayangkan dalam versi restorasi 4K untuk pertama kalinya di JAFF20, dan  Renoir (Chie Hayakawa, 2025) dari program Panorama. 

Judheg menyorot realitas pahit pernikahan dini yang masih marak di sejumlah desa. Cerita berfokus pada Warti, seorang remaja yang terpaksa memikul beban sebagai ibu, istri, sekaligus tulang punggung keluarga. Sementara itu, suaminya, Supri, tenggelam dalam judi online dan perilaku kasar. Asrama Dara, sebuah film drama klasik legendaris dari sutradara Usmar Ismail, menceritakan kisah beberapa karakter utama perempuannya dengan cerita kehidupannya masing-masing yang tinggal di sebuah asrama yang diurus oleh Bu Siti, yang memberikan figur ibu bagi mereka. Sementara itu, Renoir membawa kisah tentang Fuki, seorang gadis berumur 11 tahun dari pinggiran Tokyo yang hidup bersama ayahnya yang menderita sakit keras dan ibunya yang terus dilanda stres karena harus bekerja penuh waktu sembari merawat suaminya. Akibatnya, Fuki kurang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya, sehingga lebih suka mengeksplorasi dunianya sendiri.

Ketiga film tersebut sama-sama menceritakan bagaimana perempuan menghadapi berbagai lika-liku kehidupan yang mereka miliki. Judheg menjadi suara bagi perempuan yang memilih untuk berani keluar dari lingkaran kekerasan, meski harus menghadapi konsekuensi yang berat. Asrama Dara merupakan drama musikal dengan genre coming of age dengan plot yang sangat kompleks, dengan berfokus pada persahabatan, romansa, dan keluarga. Di sisi lain, Renoir membawa isu tentang perempuan dan anak, seperti terkait perjuangan seorang ibu dan kasus pedofilia. 

Dalam sesi tanya-jawab setelah penayangan filmnya, Judheg, Misya Latief menjelaskan bahwa film ini berangkat dari keprihatinannya terhadap banyaknya remaja putus sekolah dan kasus pernikahan dini yang berujung pada kemiskinan struktural di desanya. Ia ingin merekam kehidupan ibu-ibu muda yang terjebak beban ganda seperti mengurus rumah, bekerja, sekaligus menghadapi pasangan yang menganggur. 

Film Judheg (Worn Out) akan ditayangkan kembali di JAFF20 pada 4 Desember 2025 pukul 21.30 WIB di Empire XXI, dan Asrama Dara (Girl’s Dormitory) akan ditayangkan kembali pada 6 Desember pukul 12.45 WIB di Empire XXI. Informasi lebih lanjut dapat diakses di jaff-filmfest.org dan media sosial @jaffjogja.

Penulis: Ainani Tajriani, Hasan Daffa ‘Abdillah, Shabrina Eka Arilistya

Foto:Tim Dokumentasi JAFF

Leave a comment