Skip links

Membongkar Stigma, Membangun Sistem: Seruan Ruang Aman dari Kamila Andini dan Hannah Al-Rashid

Pada hari kelima JAFF20 kemarin, program Focus Group Discussion (FGD) menghadirkan sutradara Kamila Andini dan Hannah Al-Rashid, aktor dan salah satu pendiri Kawan Puan, sebuah gerakan solidaritas yang berupaya memberdayakan perempuan dan juga membantu mendanai LSM di seluruh Indonesia untuk membantu korban kekerasan. Bertempat di Edelweiss Room, ARTOTEL Suites Bianti Yogyakarta, diskusi bertajuk “Let’s Talk About It: Women, Film, and Safe Spaces” diselenggarakan khusus untuk perempuan, membahas dinamika peran perempuan di sinema Asia serta urgensi ruang aman dalam industri perfilman. Meski narasi sinema Asia banyak menonjolkan perspektif perempuan, stigma tentang pemisahan peran sutradara laki-laki dan perempuan masih mengakar, membuat label “sutradara perempuan” seolah sesuatu yang istimewa, bukan profesi yang seharusnya setara.

Dalam sesi tersebut, Kamila Andini menegaskan bahwa meski jumlah sutradara perempuan di Indonesia masih sedikit, mereka hadir dengan konsistensi dan identitas artistik yang kuat. Ia mendorong perempuan untuk bergerak perlahan namun pasti dalam memperjuangkan ruang yang solid, bebas diskriminasi, serta berani bersuara tentang ketidaknyamanan yang sering dianggap sepele, termasuk candaan yang memojokkan perempuan namun dinormalisasi oleh lingkungan kerja. Kamila juga menyoroti bagaimana rasa atau perspektif dalam pembuatan film sering terpengaruh oleh budaya tontonan yang dibentuk sutradara laki-laki, sehingga perempuan perlu terus memperkuat sudut pandangnya sendiri.

Hannah juga menyoroti dalam FGD ini untuk turut menyinggung pentingnya tindakan preventif dalam produksi, mulai dari menyadari batas kenyamanan hingga memperjuangkan SOP yang melindungi pekerja film. Ketika rumah produksi, industri, dan regulasi belum sepenuhnya berpihak, upaya untuk membangun sistem perlindungan termasuk melalui regulasi yang sudah diinisiasi Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) menjadi langkah krusial. Hannah berharap, kedepannya lebih banyak rumah produksi (PH) yang berkomitmen memperbaiki sistem, mengaktifkan hotline perlindungan, serta menciptakan ruang aman yang nyata karena para pekerja film perempuan tidak berjalan sendirian dan perjuangan kolektif inilah yang akan membuka jalan menuju industri film yang lebih berdaya dan setara.

Penulis: Zahratul Istifaizzah
Foto: JAFF Documentation Team

Leave a comment