Skip links

Dua Puluh Tahun JAFF: Tumbuh, Bertransformasi, Mengenang

Ifa Isfansyah

Direktur Festival

Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk sebuah festival yang lahir dari obrolan kecil, kerja komunitas, dan semangat gotong-royong. Namun dua puluh tahun juga terasa sangat singkat ketika kami menyadari betapa banyak hal yang belum kami selesaikan. Di titik inilah JAFF berdiri: merayakan perjalanan yang sudah ditempuh, sambil menatap pekerjaan rumah yang terus bertambah.

Sejak 2006, JAFF tumbuh seperti pohon yang kami tanam bersama, bertambah besar, lebih rindang, dan semakin banyak cabang yang harus dirawat. Di usia dua dekade ini, JAFF bukan lagi festival kecil di Yogyakarta, tetapi sebuah festival yang konsisten memperjuangkan identitas sinema Asia, menguatkan komunitas film, dan terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Namun, seiring pertumbuhan itu, kami berkali-kali menoleh ke belakang, dan berkali-kali juga disadarkan pada satu kenyataan yang tidak bisa ditawar: arsip adalah pekerjaan terbesar ekosistem sinema kita yang masih terbengkalai.

Di usia yang bahkan belum terlalu tua dibanding festival-festival internasional yang lain, kami sudah kesulitan menemukan materi film-film JAFF edisi awal. Betapa rapuhnya sejarah ketika ia tidak dijaga. Tahun ini, JAFF memutar film Asrama Dara, sebuah karya penting yang berhasil direstorasi dan didigitalisasi oleh Yayasan Usmar Ismail bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan. Sebuah contoh yang menunjukkan bahwa ketika negara, lembaga, dan individu bertemu dalam visi yang sama, sejarah dapat diselamatkan. Namun pada saat yang sama, kami harus mengimpor Opera Jawa dari Eropa. Film pembuka JAFF pertama pada tahun 2006, karya pendiri festival ini sendiri, yang ironisnya lebih terjaga di luar negeri dibanding di tanah kelahirannya. Kontras ini bukan sekadar catatan kecil; ini adalah alarm besar bahwa ekosistem kita masih jauh dari siap menjaga warisan sinema kita sendiri. Dua puluh tahun ini akhirnya menegaskan satu hal: masa depan sinema tidak bisa dipisahkan dari cara kita menjaga masa lalunya.

JAFF terus tumbuh, lebih besar, lebih kompleks, dan lebih menuntut. Kami memperluas program, menghadirkan JAFF Market, dan membangun ekosistem yang lebih terintegrasi. Tetapi di tengah dinamika itu, kami tetap mempertahankan nilai-nilai yang sejak awal menjadi fondasi festival ini: keberpihakan terhadap komunitas, inklusivitas sebagai prinsip, serta langkah-langkah kecil menuju keberlanjutan lingkungan.

Inklusivitas bukan lagi jargon bagi JAFF, tetapi sikap yang kami coba terapkan secara konkret: dari aksesibilitas program hingga cara festival membuka ruang bagi suara-suara yang terpinggirkan. Di saat yang sama, kami juga berusaha memperkecil jejak ekologis festival, memulai dari hal yang paling mungkin: mengurangi material yang tidak perlu, menata ulang alur produksi, dan menanamkan kesadaran bahwa festival film juga harus bertanggung jawab pada lingkungan.

Langkah-langkah ini kecil, tetapi penting. Karena perubahan, seperti juga festival, selalu dimulai dari yang paling sederhana.

Merayakan 20 tahun JAFF bukan hanya tentang melihat kembali apa yang telah kami kerjakan, tetapi juga tentang menyiapkan pondasi untuk dua puluh tahun berikutnya. Bukan hanya tentang merayakan pertumbuhan, tetapi juga tentang mengakui kekeliruan, kekurangan, dan hal-hal yang harus diperbaiki.

Tahun ini, JAFF ingin mengajak semua pengunjung untuk menelusuri kembali akar festival ini, bukan dalam rangka nostalgia, tetapi sebagai upaya memahami dari mana kita datang dan ke mana kita ingin pergi. Sebab tanpa akar yang kuat, pertumbuhan hanya akan menjadi perluasan tanpa arah.

Dengan segala perubahan, tantangan, dan mimpi yang masih panjang, kami berharap JAFF terus menjadi rumah bagi para pembuat film, penonton, dan siapa pun yang percaya bahwa sinema Asia layak dirayakan, dipertahankan, dan diwariskan.

Selamat datang di JAFF ke-20.

Mari merayakan perjalanan ini bersama-sama, sambil menjaga apa yang perlu dijaga, dan membangun apa yang masih harus dibangun.