Sekapur Sirih Menteri Kebudayaan
Dr. Fadli Zon, M.Sc.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia
Dua dekade perjalanan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) merupakan bukti komitmen dan konsistensi dalam merawat ruang dialog kebudayaan melalui sinema. Sejak pertama kali digelar pada tahun 2006, JAFF telah bertransformasi menjadi sebuah panggung perayaan film Asia, sekaligus ruang pertukaran gagasan, ekspresi, dan nilai-nilai kemanusiaan yang memperkaya khazanah budaya kita. Edisi ke-20 ini menandai tonggak sejarah penting: perjalanan dua puluh tahun sebuah festival yang lahir dari semangat komunitas, tumbuh menjadi institusi budaya, dan kini berdiri sebagai salah satu festival film paling berpengaruh di Asia.
Tema tahun ini, “Transfiguration”, mencerminkan semangat perubahan yang menandai kematangan ekosistem budaya dan sinema. “Transfiguration” berbicara tentang bagaimana karya budaya, kreativitas, dan inovasi sinema terus berubah bentuk menjadi kekuatan yang lebih matang, adaptif, dan berdampak luas bagi publik serta ekosistem budaya Indonesia. Tahun ini, JAFF hadir dengan skala yang semakin besar dan beragam, menghadirkan 227 film dari 43 negara. Antusiasme para pembuat film juga tercermin dari jumlah pendaftar yang mencapai 894 film, lebih tinggi dibanding tahun lalu. Pertumbuhan ini menunjukkan dinamika positif ekosistem film Indonesia dan Asia, sekaligus meningkatnya kepercayaan komunitas internasional terhadap kualitas kuratorial dan ekosistem budaya yang berkembang di Indonesia.
Indonesia adalah bangsa dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Sebagai negara mega-diversity, Indonesia dihuni oleh 1.340 kelompok etnis, 718 bahasa daerah, dan ribuan ekspresi budaya yang hidup dan berkembang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Dalam hal ini, sinema memiliki peran strategis dalam menampilkan kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia, mulai dari tradisi lokal, bahasa daerah, hingga ekspresi seni yang hidup di berbagai penjuru Nusantara. Selain menjadi cermin identitas dan penjaga memori kolektif bangsa, sinema juga memperkuat rasa cinta dan nasionalisme terhadap budaya bangsa, sehingga generasi muda dan masyarakat luas semakin memahami, menghargai, dan bangga pada warisan budaya Indonesia.
Saya berharap semakin banyak karya sinema yang diproduksi oleh sineas Indonesia dapat mengangkat kekayaan budaya bangsa, tidak hanya di layar nasional tetapi juga di pentas internasional. Melalui karya-karya ini, Indonesia dapat memperkenalkan nilai-nilai, tradisi, dan identitas bangsa sebagai bagian dari diplomasi budaya, sekaligus menegaskan posisi Indonesia di dunia sebagai negara yang kaya akan budaya, kreatifitas, dan kearifan lokal yang universal.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Kebudayaan berkomitmen memastikan bahwa warisan budaya Indonesia tidak hanya terjaga, tetapi juga dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat jati diri bangsa, mempererat persatuan nasional, dan berkontribusi bagi peradaban dunia. Komitmen ini sejalan dengan amanat Undang–Undang Dasar 1945 Pasal 32 ayat (1), yang menyatakan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
Melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, khususnya di bawah Direktorat Film yang membidangi perfilman, Kementerian Kebudayaan berkomitmen memperkuat fondasi dan tata kelola perfilman nasional yang lebih terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan, agar sinema Indonesia dapat tumbuh sebagai kekuatan budaya sekaligus pilar penting pembangunan bangsa.
Ke depan, kita perlu melihat budaya bukan hanya sebagai warisan, tetapi sebagai masa depan. Budaya adalah sektor hulu yang mengalirkan nilai, cerita, dan kearifan lokal ke berbagai sektor hilir seperti pariwisata, industri kreatif, desain, teknologi, dan ekosistem digital. “Culture for the Future”, bermakna bahwa kebudayaan adalah kekuatan dinamis, kreatif, dan transformatif yang membentuk arah pembangunan Indonesia. Di tengah arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang begitu cepat, ada satu pegangan yang tak boleh kita lepaskan: kebudayaan sebagai kompas peradaban.
Dengan kolaborasi lintas sektor yang inklusif, saya yakin Indonesia bukan hanya menjadi rumah kebudayaan dunia, tetapi juga kekuatan ekonomi budaya global. Dalam konteks ini, JAFF menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat mampu menghidupkan nilai-nilai kebudayaan melalui inovasi dan kerja bersama yang berkelanjutan.
Kementerian Kebudayaan menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berperan menjaga konsistensi dan integritas JAFF hingga memasuki dua dekade. Semoga festival ini terus menjadi ruang transfigurasi budaya—yang mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan, karya menjadi inspirasi, dan pertemuan menjadi jembatan persaudaraan antarbangsa. Selamat atas perjalanan dan pelaksanaan JAFF ke-20, festival yang lahir dari insan perfilman Indonesia dan menempatkan Indonesia dalam konstelasi perfilman global. Semoga sinema Asia, khususnya Indonesia, terus menjadi sumber cahaya yang menuntun kita memahami dunia dengan keindahan, keberagaman, dan empati.
Mari kita semua berperan aktif dalam melestarikan kebudayaan untuk membangun Indonesia yang lebih maju, kreatif, dan berdaya saing. Terus jaga, rawat, dan majukan budaya kita—karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan akar budayanya.
