Menelisik Akar, Melampaui Nostalgia
Budi Irawanto
Presiden Festival
Menempuh perjalanan panjang menuntut kita mengambil jeda sejenak dan merenungkan apakah kita berada di jalur yang benar. Selain itu, perjalanan yang panjang dan meletihkan kadangkala menjadikan tujuan utama kita mengabur. Demikian pula, dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) yang kedua puluh ini menjadi penanda renungan atas perjalanan kami sejauh ini. Sepanjang sejarah JAFF, banyak hal turut membentuk bagaimana JAFF diorganisasikan, mulai dari disrupsi teknologi digital, profil audiens baru dan kebiasaan menontonnya, keragaman dan kekayaan ekspresi sinematik film Asia, serta, yang tak kalah pentingnya, lanskap sosio-politis Asia yang kerap diwarnai kemelut.
Oleh karena itu, saat JAFF meniti dekade kedua, tema ‘Transfiguration’ menggarisbawahi transformasi dari praktik masa lalu demi mendekatkan pada cita-cita festival. Ini memantik refleksi yang mendalam dan inovasi yang didorong baik oleh kekuatan eksternal maupun internal. Dinamika dari kekuatan eksternal menjadi keniscayaan bagi festival untuk menjelmakan nilai-nilai yang diusungnya sebagai ‘festival yang aman, hijau dan inklusif’ beriringan dengan pasar film lewat JAFF Market sembari secara konsisten mengakomodasi identitas festival yang terus berkembang.
Selama dua puluh tahun, JAFF telah menapaki perjalanan simbolis dari tunas menjadi sebatang pohon. Karenanya, JAFF mengajak penonton untuk melacak akarnya saat malam pembukaan sebagai titik tolak menuju ke fase berikutnya. Ajakan menilik masa lalu merupakan penegasan bahwa perkembangan awal kami menjadi landasan keberadaan kami hari ini. Lebih jauh, audiens diajak untuk menelaah keberadaan kami hari ini dan membayangkan masa depan yang lebih baik lewat ingatan historis, kadangkala dengan mengapropriasi dan mengimajinasikan anasir-anasir masa lalu untuk diterapkan pada masa kini.
Film pembuka JAFF bakal dipertunjukkan dalam format 35mm—merujuk saat pertama kali kami memutar film pada 2006. Dalam maknanya yang lebih luas, pengunjung dipandu untuk menimbang permulaan JAFF yang berangkat dari komunitas film di Yogyakarta hingga akhirnya meluas ke Asia. Lebih dari sekadar nostalgia, penekanan pada masa lalu menjadi titik balik untuk mengonstruksi masa depan yang lebih baik serta berakar pada identitas kami sebagai festival yang berbasis komunitas. Tahun ini, kami berikhtiar merevaluasi nostalgia sebagai kekuatan kreatif yang berorientasi ke masa depan dan bukan sekadar mendambakan masa lalu yang tak bisa diulang kembali.
Pada akhirnya, transformasi yang dilakukan JAFF tak bisa hanya dimaknai sekadar sebagai perubahan semata. Alih-alih, ia melambangkan bagaimana festival mengalami transfigurasi dari mekarnya sinema Asia yang mesti dipupuk dan dirawat sebagaimana tanaman di kebun pembibitan. Penulis Amerika, Kilroy J. Oldster, pernah menulis begini, “Transfigurasi diri itu menyakitkan karena melambangkan tumbuhnya sayap-sayap halus yang memberikan ruang bagi jiwa yang terluka.” Barangkali transfigurasilah yang memungkinkan JAFF mengangkasa menuju festival yang lebih baik serta berdampak.
