Mbah Sri, seorang nenek tua berumur 90 tahun lebih yang menyusuri perjalanan panjang demi mencari sang suami yang telah lama meninggalkannya. Pawiro Sahid, suami mbah Sri adalah seorang anggota TNI yang pada masa agresi militer Belanda ke-2 berjuang melawan para penjajah. Itulah alasan mengapa mbah Sri ditanggalkan oleh suami. Sekian lama setelah perang usai, Pawiro tidak pernah muncul dan tidak ada kabar sama sekali.

Pawiro yang seorang pejuang, memang bisa gugur kapan saja di medan perang. Kabarnya Pawiro sudah meninggal ditembak oleh tentara Belanda. Mbah Sri berusaha mencari makam tempat dimana Prawiro dikuburkan. Satu per satu sahabat mbah Sri sudah tiada dan dimakamkan bersebelahan dengan suaminya masing-masing, tersisa dirinya dengan pencarian makam suami tercinta. Walaupun sudah lama meninggalkan dirinya, mbah Sri berharap jika dia sudah tidak ada di dunia nantinya, dia bisa beristirahat dengan tenang di sebelah kuburan orang yang dicintainya.

Berbekal dari informasi yang tak utuh, mbah Sri berusaha mencari dimana makam suaminya dari seorang tentara veteran yang dia temui dan ternyata mengenal Pawiro. Tentara veteran itu juga mengetahui dimana Pawiro ditembak. Berbagai makam sudah dia kunjungi demi menemukan batu nisan dengan nama suaminya. Tidak hanya mbah Sri, sang anak pun juga turut serta melakukan percarian karena dirinya yang sering menghilang. Mbah Sri yang pergi tanpa pamit dari rumah, berjalan seorang diri menyusuri makam. Hal inilah yang membuat anak mbah Sri mencari dirinya.

Makam demi makam telah dia kunjungi tanpa ada hasil sama sekali. Makam Muktilaya yang menjadi salah satu pencarian mbah Sri akhirnya membuahkan hasil dengan bertuliskan Ki Pawiro Sahid yang mati di tahun 1985 di batu nisan. Mbah Sri pun langsung tak sadarkan diri didepan makam suaminya. Setelah diketahui makam Prawiro bersebelahan dengan makam seorang wanita lain, mbah Sri dengan kenyataan yang menyakitkan itu tetap tegar dan kuat. Dia membuat sepetak lahan makamnya sendiri yang tidak bersebelah dengan makam sang suami yang tidak dia harapkan pada awalnya. Bagi mbah Sri, perjalanannya mencari makam sang suami ini tidak sekadar menjadi perjalanan menyusuri sejarah cintanya, tapi juga menyusuri luka-luka sejarah bangsanya.

“Ziarah adalah perjalanan lahir untuk menuju ke dalam batin, ziarah bukanlah selalu konteks orang mati tetapi masa lalu juga bisa kita ziarahi”, ujar BW Purba Negara sang sutrada film saat ditanya tentang judul film Ziarah. Film yang ditayangkan sore hari 1 Desember 2016 di Empire XXI ini berhasil membuat penasaran penonton dengan ludesnya tiket dalam sekejap. Penonton rela mengantri panjang demi menyaksikan film Ziarah dalam festival film di 11th Jogja-Netpac Asian Film Festival.

Dalam sesi tanya jawab setelah pemutaran film, BW Purba Negara menjawab kalau film ini sebenarnya ditujukan untuk orang yang suka menonton wayang sampai semalam suntuk, saat ada penonton yang bertanya untuk siapa film ini ditujukan. Ide Ziarah sendiri muncul karena Purba sering bertemu dengan orang-orang tua yang bercerita tentang masa lalu. Untuk pemilihan pemeran dalam Ziarah menampilkan para pemain yang benar-benar berusia lanjut yang sesuai dengan naskah yaitu 90 tahunan lebih. Inilah yang menjadi tantangan tersendiri dalam proses pembuatan film Ziarah.

Salma Durroh S