Workshop Collaboration JAFF – Papermoon Puppet Theatre

Video Bumper Artists: Kana Ote, Bayu Prihantoro, Loeloe Hendra, Doni Maulistya, Papermoon Puppet Theatre team

 

Tahun ini, JAFF berkolaborasi dengan Papermoon Puppet Theatre sebagai konsistensi JAFF untuk selalu berinteraksi dengan bentuk-bentuk seni lain. Kolaborasi antara JAFF dan Papermoon Puppet Theatre akan menghasilkan video bumper dan pertunjukan tari dan boneka. Video dan pertunjukan tersebut akan disajikan pada penyelenggaraan Jogja-NETPAC Asian Film Festival dan Pesta Boneka tahun ini. Proyek kolaborasi ini melibatkan beberapa seniman, seperti: Kana Ote, Bayu Prihantoro, Loeloe Hendra, dan Doni Maulistya.

This year, JAFF is collaborating with Papermoon Puppet Theatre to show its consistency in interacting with other forms of art. The collaboration between these two will give birth to video bumper as well as dance and puppet performance. The video and performance will be presented during the course of this year’s Jogja-NETPAC Asian Film Festival and Pesta Boneka. This project involves several artists such as: Kana Ote, Bayu Prihantoro, Loeloe Hendra, and Doni Maulistya.

Papermoon Puppet Theatre

Papermoon Puppet Theatre

 

Papermoon Puppet Theatre adalah sebuah kelompok teater boneka yang didirikan oleh Maria Tri Sulistyani (ilustrator, penulis, dan pemain teater) dan Iwan Effendi (perupa). Sejak tahun 2006, pasangan ini telah bereksperimen dengan pertunjukan boneka. Berbasis di Yogyakarta, Papermoon menggunakan teknik mixed-media untuk menciptakan karya-karya yang imajinatif mengeksplorasi identitas dalam masyarakat. Papermoon Puppet Theatre telah mempersembahkan karya-karya mereka di Indonesia, New York, Rhode Island, Philadelphia, Washington DC, Iowa, Easton, Baltimore- Amerika Serikat, Amsterdam-Belanda, Yokohama-Jepang, India, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Melbourne dan Darwin-Australia.

______________________________

Papermoon Puppet Theatre is a puppet theatre group established by Maria Tri Sulistyani (illustrator, writer, and theatre actress) and Iwan Effendi (visual artist). Since 2006, the couple have been experimenting with puppet performances. Based in Yogyakarta, Papermoon employs a mixed-media technique to create imaginative works exlploring identities of the society. It has presented its works in Indonesia, New York, Rhode Island, Philadelphia, Washington DC, Iowa, Easton, Baltimore- United States of America, Amsterdam-Netherland, Yokohama-Japan, India, South Korea, Malaysia, Singapore, Melbourne, and Darwin-Australia.

Kana Ote

Kana Ote

Dancer

Kana Ote adalah seorang penari kelahiran Hamamatsu, Jepang dan merupakan lulusan dari Conservatoire National Supérieur de Musique et de Dance de Lyon pada tahun 1999. Saat ini ia mengajar Gaga dan praktek Ilan Lev di Tokyo dan seluruh Jepang. Pada tahun 2010, ia menerima hibah dari Pola Art Foundation (Jepang) untuk belajar Gaga dengan Batsheva Dance Company di Tel Aviv, Israel. Pada tahun 2005, ia mulai bekerja sebagai penari freelance di Eropa, berpartisipasi dalam proyek-proyek dari Compagnia Zappala Danza, Compagnie Lingga, Marcel Leemann Fisik Dance Theater, dan Ventura Dance Company, sementara juga menari dengan Ballet Bern dan Carte Blanche.

_________________________

 

Kana Ote is a dancer who was born in Hamamatsu, Japan. She graduated from Conservatoire National Supérieur de Musique et de Dance de Lyon in 1999. She is currently teaching Gaga and Ilan Lev practice in Tokyo and other cities in Japan. In 2010 she received a grant from Pola Art Foundation (Japan) to learn Gaga with Batsheva Dance Company in Tel Aviv, Israel. In 2005 she started working as a freelance dancer in Europe, participating in numerous projects from Compagnia Zappala Danza, Compagnie Lingga, Marcel Leemann Fisik Dance Theater, and Ventura Dance Company, all the while dancing under Ballet Bern, and Carte Blanche.

Loeloe Hendra

Loeloe Hendra

Filmmaker

Seorang sutradara yang memulai debutnya saat ia masih belajar di Fakultas Televisi, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta dan kini telah membuat beberapa film pendek, seperti Aku Bukan Ismail (2009)—masuk dalam Jogja-Asian Netpac Film Festival [2009]—dan Toilet (2011)—masuk dalam nominasi Ladrang Award di Solo Film Festival 2012. Loeloe juga pernah menjadi asisten sutradara Garin Nugroho dalam film Mata Tertutup (2011) dan Soegija (2012). Film terbaru yang ia sutradarai, Onomastika, telah telah memeroleh berbagai capaian seperti ditampilkan dalam Bali International Film Festival, masuk menjadi salah satu Best Film Nomination dalam Ladrang Festival Film Solo 2012, menjadi Film Pendek Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2014, masuk dalam Official Selection Generation Kplus Berlinale German 2015, masuk dalam Short Film Festival, Tokyo 2015, dan masuk dalam Official Selection Singapore International Film Festival 2015.

_________________________

 

A director who started his debut when he was studying at the Faculty of Television, ISI (Indonesian Institute of the Arts) Yogyakarta and now has made a number of short films such as Aku Bukan Ismail (2009)—included in Jogja-Asian Netpac Film Festival [2009]—and a short film entitled Toilet (2011) nominated in Ladrang Award in Solo Film Festival 2012. Loeloe has ever become the assistant for director Garin Nugroho in the film Mata Tertutup (2011) and Soegija (2012). The most recent film he directed, Onomastika, has achieved many accomplishments such as screened in the Bali International Film Festival, becoming Best Film Nomination in Ladrang Festival Film Solo 2012, and becoming the Best Short Film in Indonesia Film Festival 2014, included in Official Selection Generation Kplus Berlinale German 2015, Short Film Festival, Tokyo 2015, and Official Selection Singapore International Film Festival 2015.

Bayu Prihantoro

Bayu Prihantoro

Filmmaker

Bayu Prihantoro Filemon adalah seorang alumnus dari Asian Film Academy, sebuah program belajar yang digelar oleh Busan International Film Festival. Ia pernah terlibat sebagai seorang sinematografer di banyak film seperti: Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya, Istirahatlah Kata-Kata, dan Kisah Cinta yang Asu. On the Origin of Fear adalah debutnya sebagai sutradara.

_________________________

 

Bayu Prihantoro Filemon is an alumnus of Asian Film Academy, a learning program held by Busan International Film Festival. He has been involved as a cinematographer in many films such as: Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya, Istirahatlah Kata-Kata, and Kisah Cinta yang Asu. On the Origin of Fear is his directorial feature debut.

Doni Maulistya

Doni Maulistya

Visual Artist

Doni Maulistya lahir di Yogyakarta pada tahun 1987. Ia adalah seorang perupa muda yang mengawali perjalanan artistiknya sebagai seniman berbasis fotografi dan memiliki ketertarikan pada ‘visual storytelling’. Ia pernah mengenyam pendidikan di jurusan fotografi ISI Yogyakarta, mengikuti pendidikan non formal fotografi di Siem Reap, Kamboja (2008), dan Foundry Photo Workshop di Istanbul, Turki (2010). Tahun 2015 lalu, ia mengkuti program residensi seniman ‘Kerjasama: Residensi Resiprokal’ yang diselenggarakan oleh tiga institusi seni: Asialink (Australia), Rumah Seni Cemeti (Indonesia) dan Artback NT (Australia). Dalam program ini ia tinggal selama 1,5 bulan di Alice Springs, Australia, dan 1,5 bulan di Yogyakarta, Indonesia.

Sejalan dengan proses kekaryaannya sebagai seniman seni rupa kontemporer, ia mulai mempertanyakan posisinya sebagai seniman di dalam konstelasi sistem sosial dan terus menerus berada di dalam negosiasi dinamis dan tegangan-tegangan antara “lama dan baru”. Bagi Doni proses negosiasi merupakan proses pembentukan formasi indentitas yang akan terus menerus berlangsung di rentang sejarah manusia. Ia juga menyadari bahwa sebuah medium bukanlah bahasa artistik yang tunggal. Ia memperluas eksplorasi di dalam fotografi, demikian juga dengan medium-medium lain di balik (beyond) fotografi. Oleh karena itulah, di dalam proses kekaryaan, ia selalu tergerak untuk membicarakan narasi-narasi mengenai sejarah, tradisi, dan dimensi dialektika di antara sistem sistem sosial.

.

_________________________

 

Doni Maulistya was born in Yogyakarta in 1987. He is a young visual artist starting his artistic journey as a photography-based artist that has a deep interest in ‘visual storytelling’. He studied in the photography department of the Indonesian Art Institute of the Arts Yogyakarta, a non-formal photography education in Siem Reap, Cambodia (2008), and Foundry Photo Workshop in Istanbul, Turkey (2010). In 2015, he participated in an artist residency program entitled ‘Kerjasama: Residensi Resiprokal’ held by three art institutions: Asialink (Australia), Cemeti Art House (Indonesia), and Artback NT (Australia). In this residency, he stayed in Alice Springs, Australia, for 1.5 months and for another 1.5 months in Yogyakarta, Indonesia.

While having a creative process as a contemporary visual artist, he begins to question his place as an artist within the constellation of social system and constantly finds himself within a dynamic negotiation and tensions between “the old and the new”. For Doni, negotiation is the process of creating identity formation that will keep happening throughout the course of the history of mankind. He also realizes that a medium is not a singular artistic language. He expands his exploration in photography, as well as other media existing beyond photography. Thus, in his creative process, he is always moved to speak about the narration of history, tradition, and the dialectic dimension among social systems.