The Yogyakarta Autocartoon Animal Market

Menjelma tembok. Tembok yang cukup besar. Ketika saya datang ke Yogyakarta, saya tidak tahu apa dan bagaimana saya akan berkontribusi pada festival ini dengan gambar saya. Itu adalah bagian dari proyek ini. Saya akan tinggal lebih lama, sampai kemari bulan Oktober, dan saya meluangkan waktu untuk mencari ide. Saya berpikir untuk menyelenggarakan sebuah pameran dan membuat gambar-gambar secara langsung di tempat. Saya rasa satu atau dua gambar akan cukup untuk dipamerkan.

Saya punya pokok gagasan, sebuah tema, berdasarkan kunjungan sebelumnya. Beberapa tahun lalu, saya datang ke Yogyakarta dengan putri bungsu saya dan kami mengunjungi pasar hewan. Putri saya adalah seorang vegetarian dan pecinta binatang; dia berpikir pasar hewan adalah tempat yang cukup kejam. Saya punya sedikit ketertarikan aneh terhadap kebun binatang dan saya terpesona oleh pasar hewan itu. Jadi saya pergi ke pasar hewan lagi dan menyimpulkan: ini dia! Tempat ini adalah tempat yang paling istimewa dari kota ini. Bukan berarti saya mengenal kota ini dengan sangat  baik, tetapi sulit untuk membayangkan ada tempat lain yang begitu menakjubkan sekaligus mengejutkan.

Dari awal, saya tidak hanya ingin menggambar binatang lucu atau menggemaskan. Sisi buruk dari pasar juga harus ditampilkan. Saya mencari fotografer yang baik dan saya beruntung karena bertemu dengan Swesthi Charika, seorang fotografer yang berbakat. Dia membuat kolase dengan sangkar hewan yang bertolak belakang dengan hewan kartun konyol dan lucu yang saya buat.

Dan begitulah, ia menjadi tembok saat saya berjalan ke dalam Serambi Societet yang apik nan klasik. Tembok yang asing, kasar, terlalu putih, terlalu besar, yang memohon-mohon: bawa aku, sembunyikan ketelanjanganku.

It became a wall. A pretty big wall. When I came to Yogyakarta I had no idea what and how I would contribute with my drawings to the festival. That was part of the idea of the project. I would come for a longer time, when I arrived it was still October, and would take the time to figure it out. I was thinking of making an exhibition and making the drawings on the spot. I thought one or two drawings would be enough for an exhibition in the end.

I had an idea for a subject, a theme, based on an earlier visit. Years ago, I came with my youngest daughter to Yogyakarta and we paid a visit to the animal market. My daughter is vegetarian and likes animals and she thought it was a quite cruel place. I have a bit strange interest in zoo and I thought the market was fascinating. So, I went to the market again and concluded: this is it. This is the most special place of this city. Not that I claim to know the city that well, but it is hard to imagine there is something else as amazing and shocking at the same time.

From the start, I did not just want to draw funny or cute animals. The terrible sides of the market should also be there. I asked around for a good photographer and was lucky to find the talented Swesthi Charika. She made collages with the caged animals that counter balance the silly and playful cartoon animals made by me.

Well, yes, it became a wall when I walked into the nice and classic Societet Foyer and saw this alien, rough, too white, too big wall that asked me: please take me. Hide my nakedness.

Gertjan Zuilhof