Ritu Sarin & Tenzin Sonam yang telah bekerja sama selama lebih dari 30 tahun dalam industri film membuat satu film feature bertajuk The Sweet Requiem yang dirilis pada tahun 2018. Bersama bantuan dari kerabat mereka berdua, film ini diproduksi dengan  bantuan Ritu Sarin. Dari awal tahun perilisan, film ini telah memperoleh 2 buah penghargaan yaitu NETPAC Award pada Kolkata International Film Festival 2018 dan berhasil menyabet juara dalam nominasi Audience Award di Aurangabad International Film Festival 2019, kedua festival film tersebut diadakan di India. Selain itu, film ini juga masuk seleksi resmi di 16 festival film kelas internasional dan tiga di antaranya adalah Toronto International Film Festival 2018, Hawaii International Film Festival 2018, dan London Human Rights Watch Film Festival 2019.

Film ini membutuhkan waktu yang panjang dalam kurun waktu pembuatannya, 7 tahun. The Sweet Requiem terinspirasi dari kejadian nyata pada bulan September 2006 di mana seorang pendaki asal Rumania yang berhasil merekam kejadian brutal penembakan yang dilakukan tentara penjaga perbatasan China terhadap sekelompok warga Tibet yang mencoba melintasi perbatasan Nangpa-La antara Tibet dan Nepal menuju India. Kejadian tersebut memantik Ritu Sarin & Tenzin Sonam untuk menggali pengalaman yang dialami warga Tibet ketika memutuskan untuk menyeberangi perbatasan untuk melarikan diri ke India. Tibet selama 60 tahun telah mengalami pendudukan dari negara China dan selama 60 tahun itu pula banyak sekali warga Tibet yang melarikan diri membawa anggota keluarga mereka menuju India. Dibalik kisah panjang pendudukan yang dilakukan China terhadap Tibet, menyisakan luka besar bagi warga Tibet sendiri ketika China melakukan cultural genocide terhadap Tibet. Penderitaan yang dialami oleh warga Tibet ini menggema ke seluruh dunia namun dunia seperti tidak peduli atau bahkan pura-pura tidak ingin ikut campur dengan masalah tersebut. Diantara carut-marutnya hubungan antara China dan Tibet itu India sebagai sebuah negara tetangga kedua negara tersebut mendapat banyak pujian dan penghargaan dari lembaga internasional ketika India memberi penampungan bagi para warga Tibet yang melarikan diri ke India. 

Dolkar, tokoh utama dalam film ini adalah seorang perempuan berumur 26 tahun yang tinggal di daerah penampungan warga Tibet di Delhi, India. 18 tahun lalu saat Dolkar berumur 8 tahun ia bersama Ayahnya melakukan perjalanan menantang maut untuk melarikan diri ke India. Dalam kisah perjalanan panjang tersebut Ayah Dolkar ditembak mati oleh tentara perbatasan China. Dalam usianya yang masih sangat belia Dolkar dihadapkan kenyataan yang begitu menyakitkan mengenai ingatannya dalam perjalanannya melarikan diri dari Tibet ke India sambil berharap akan kesejahteraan hidup yang lebih baik di tempat penampungan warga Tibet di Delhi, India. Pengalaman dan ingatan-ingatan negatif akan kisah perjalanannya melarikan diri ke Delhi tersebut muncul lagi secara bertubi-tubi ketika hadirnya figur lain dalam film ini yang bernama Gompo. Gompo adalah seseorang yang bekerja sebagai pemandu jalan warga Tibet yang ingin melarikan diri menuju India. Saat Dolkar kecil, Gompo adalah pemandu jalan yang dibayar ayah Dolkar namun saat perjalanan tinggal sedikit menuju perbatasan Gompo meninggalkan Dolkar dan ayahnya serta sekelompok warga Tibet yang lain.

Seiring kenangan buruk yang muncul kembali dalam benaknya, Dolkar dipertemukan lagi dengan Gompo di kawasan penampungan warga Tibet di Delhi, India. Film yang mengulas drama kehidupan ini akan mencampur-aduk perasaan khalayak yang menontonnya. Dolkar yang dikuasai ingatan-ingatan buruk akan masa lalunya tersebut menggiring dirinya untuk mengikuti kehidupan Gompo di Delhi. Menceritakan luka masa lalu, keluarga, cinta dan konsekuensi akan pilihan yang kita pilih dalam hidup secara sempurna dirangkai tanpa adanya bagian yang rumpang. Film ini bisa anda tonton dalam program Asian Perspectives – Features di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2019 dengan tema kali ini Revival. (2019)

 

Ditulis oleh Bonivasios Dwi | Disunting oleh vanis