THE FACES OF INDONESIAN CINEMA TODAY

Adaptasi dan Restorasi

 

The Faces of Indonesian Cinema Today berisi film pendek dan panjang Indonesia terkini. Rancangan program ini ditujukan bukan hanya sebagai jembatan antara sinema Indonesia arus utama dan alternatif, melainkan juga antara sinema Indonesia arus utama dan Asia. Platform pemutaran pendek-panjang film Indonesia menjadi koridor yang khas untuk program ini. Sebagai gagasan, kami berusaha untuk membaca fenomena industri film di Indonesia dengan cara menyejajarkan dan mencari resonansi gaya serta keberagaman tema, baik film pendek maupun film panjang Indonesia arus utama. Sebagai laku, platform pendek-panjang sengaja kami pancangkan untuk mempertemukan penonton film pendek dan penonton film panjang Indonesia arus utama dalam rangkaian gagasan pemutaran.

Tahun ini, kami menangkap bahwa fenomena industri film di Indonesia bergerak dalam dua kata kunci: adaptasi dan restorasi. Dalam konteks adaptasi kami menempatkan Cado-cado (Ifa Isfansyah), My Stupid Boss (Upi Avianto), Rudy Habibie (Hanung Bramantyo), Moammar Emka’s Jakarta Undercover (Fajar Nugros), dan Warkop DKI Reborn (Anggi Umbara). Lima film panjang tersebut, bagi kami, punya capaian yang berbeda-beda.

Cado-cado adalah eksplorasi cerita tentang cita-cita paling populer di Indonesia: menjadi dokter. Kendati menjadi cita-cita paling populer, namun profesi dokter jarang mendapatkan eksplorasi ilmiah dan profesionalnya di antara wajah-wajah sinema Indonesia. Untuk eksplorasi profesi yang berbeda, My Stupid Boss dan Rudy Habibie adalah dua film yang perlu kami baca. My Stupid Boss adalah komedi dalam ruang, situasi, dan relasi antara kepala administrasi dengan bosnya yang sangat menyebalkan dan bodoh. Tik-tok adegan dan dialog dalam My Stupid Boss perlu digarisbawahi sebagai sesuatu yang sangat hidup. Sedangkan Rudy Habibie mengeksplorasi proses dan masa muda Bacharuddin Jusuf Habibie sebelum menjadi profesor dan salah seorang yang kemudian penting di dunia politik Indonesia.

Dua film adaptasi lagi kental asosiasinya dengan dinamika kota Jakarta: Moammar Emka’s Jakarta Undercover dan Warkop DKI Reborn. Jika Moammar Emka’s meng-cover Jakarta dari Jakarta yang “undercover”, Warkop DKI Reborn dihadirkan untuk merekam Jakarta hari ini dengan pola komedi yang tengah berkembang: meme.

Film-film tersebut, masing-masing akan dibuka oleh salah satu dari film pendek Indonesia berikut: Ang (Michaela Clarissa Levi), Andro & Jini (Nurullita Marla), Amelis (Dery Prananda), Worked Club (Tunggul Banjaransari), dan Singsot (Wahyu Agung Prasetyo). Ang adalah animasi pendek yang hangat dan berisi. Andro & Jini adalah cerita pendek tentang pelarian diri dua anak dari sesuatu yang tak mereka inginkan. Amelis adalah film pendek alternatif yang sangat efektif dalam menyampaikan kritik atas infrastruktur yang tak memadai. Worked Club adalah narasi acak tentang pembantu rumah tangga yang naik kelas dalam bingkai sinema. Sedangkan Singsot adalah horor komedi yang ditata dengan sangat apik.

Selanjutnya, di aras restorasi, tahun ini Indonesia memiliki Tiga Dara (Usmar Ismail) dalam bentuk restorasi. Restorasi Tiga Dara, bagi kami, hadir kembali dalam wajah baru film Indonesia. Ia menjadi sejarah restorasi film Indonesia lama di tahun ini, sebagaimana film pendek pembukanya nanti, Prenjak (Wregas Bhanuteja) adalah sejarah bagi prestasi film pendek Indonesia di Cannes.

Selamat menonton,

Suluh Pamuji & Ismail Basbeth

Tim Program

Adaptation and Restoration

 

The Faces of Indonesian Cinema Today contains Indonesia’s latest short and feature films. This program was designed to bridge not only Indonesia’s mainstream and alternative cinema, but also between Indonesia’s mainstream cinema and Asia. Indonesia’s short-feature screening platform is the quintessential corridor of the program. To come up with the idea, we tried to learn the phenomena of film industry in Indonesia by juxtaposing and looking for the resonance of style as well as variety of theme, both in Indonesia’s short and mainstream feature films. To present the practice, we intentionally staked the short-feature screening platform in order to bring together the spectators of short films and that of mainstream features within the series of the screening notion.

This year, we captured that the phenomena of film industry in Indonesia are moving around two key words: adaptation and restoration. In the context of adaptation, we dispose Cado-cado (Ifa Isfansyah), My Stupid Boss (Upi Avianto), Rudy Habibie (Hanung Bramantyo), Moammar Emka’s Jakarta Undercover (Fajar Nugros), and Warkop DKI Reborn (Anggi Umbara). For us, those features bring achievements being distint one another.

Cado-cado is an exploration of story on the most popular and aspired occupation in Indonesia: a doctor. Despite being the most frequently dreamt job, the explorations of scientific and professional aspects of medical doctor are rarely done among the faces of Indonesian cinema. Representing another exploration of different profession, My Stupid Boss and Rudy Habibie are two films we need to learn. My Stupid Boss is a comedy within particular space, situation, and relation between the head of administration and her infuriating and silly boss. The dynamics of scene and dialogue in My Stupid Boss should be underlined as something so lively. Meanwhile, Rudy Habibie explores the process and the youth of Bacharuddin Jusuf Habibie preceeding his life as a professor and later a prominent figure in Indonesia’s politics.

Two other adaptation films are strongly associated with the urban dynamics of Jakarta: Moammar Emka’s Jakarta Undercover and Warkop DKI Reborn. While Moammar Emka’s covers Jakarta from the “undercover” side, Warkop DKI Reborn is presented to record Jakarta nowadays within a currently developing comedy pattern: meme.

Each of those films will be preceeded by one of these Indonesia’s short films: Ang (Michaela Clarissa Levi), Andro & Jini (Nurullita Marla), Amelis (Dery Prananda), Worked Club (Tunggul Banjaransari), and Singsot (Wahyu Agung Prasetyo). Ang is a short animation which is warm and loaded with meanings. Andro & Jini is a short narrative about the escape of two youngsters from something they do not desire. Amelis is an alternative short film being very effective in delivering a critique towards inadequate infrastructure. Worked Club is a random narrative telling a story of a maid which steps to a higher level in the frame of cinema. While Singsot is a comedy horror with a wondrous arrangement.

In the realm of restoration, this year, Indonesia comes up with Tiga Dara (Usmar Ismail) in a restored form. Tiga Dara restored, for us, is present with a new face of Indonesian cinema. It becomes a historical restoration of Indonesian past cinema of the year; either does the short film for its opening, Prenjak (Wregas Bhanuteja) is a historical monument of the accomplishment of Indonesian short film in Cannes.

Happy watching,

Suluh Pamuji & Ismail Basbeth

Program Team

Amelis

Dery Prananda/05 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Andro & Jini 

Nurullita Marla/15 minutes/2016/Indonesian/Fiction

Ang

Michaela Clarissa Levi/4 minutes/2016/Indonesian/Animatio

Cado-cado

Ifa Isfansyah/104 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Moammar Emka’s Jakarta Undercover

Fajar Nugros/128 minutes/2016/Indonesia/Fiction

My Stupid Boss

Upi Avianto/108 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Prenjak

Wregas Bhanuteja/12 minutes/2016/Indonesian/Fiction

Rudy Habibie

Hanung Bramantyo/142 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Singsot

Wahyu Agung Prasetyo/14 minutes/2016/Indonesian/Fiction

Tiga Dara

Usmar Ismail/116 minutes/1957/Indonesia/Fiction

Warkop DKI Reborn

Anggi Umbara/110 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Worked Club

Tunggul Banjaransari/22 minutes/2015/Indonesian/Fiction