Surat Untuk Bidadari

(A Letter for an Angel)

FOCUS ON GARIN NUGROHO


Director: Garin Nugroho

Duration: 118 minutes

Production: 1994

Country: Indonesia

Category: Fiction

SCREENING


SUN, 2 DES 2018 / CINEMAXX CINEMA A / 19:00

SYNOPSIS


In this Indonesian docu-drama, a little boy writes letters to angel whom he believes is real and is bewildered when he never gets a reply. The story is set in an Indonesian village. 9-year old Lewa is a hyperactive, temperamental boy who lost his mother when he was very young. He is good friends with Berlian Merah, a pretty young neighbor who cares for him. Her brother Malaria Tua is his best buddy. Lewa keeps to himself most of the time. He believes the land around him is cared for by an angel whom he frequently writes. He seldom attends class preferring to spend his hours playing with the eccentric Malaria upon the beach. When a group of fashion photographers visits the village for a shoot someone lends Lewa a Polaroid camera. Lewa then becomes obsessed with photographing everything he sees. In his zeal he accidently begins a bloody war between two villages

Seorang bocah laki-laki menulis surat untuk malaikat yang ia yakini nyata dan ia merasa bingung karena tidak pernah menerima balasan. Cerita ini berlatar di sebuah desa di Indonesia. Lewa, 9 tahun, adalah seorang bocah hiperaktif dan temperamental yang kehilangan ibunya ketika ia masih sangat muda. Ia berteman baik dengan Berlian Merah, seorang tetangga yang cantik dan peduli dengannya. Saudara Berlian, Malaria Tua, adalah teman baik Lewa. Lewa menyimpannya untuk dirinya sendiri. Ia percaya bahwa tanah di sekitarnya dirawat oleh para malaikat yang sering ia kirimi surat. Ia jarang masuk kelas dan memilih bermain bersama Malaria di pantai. Ketika sekelompok fotografer fashion datang ke desa tersebut, seseorang meminjami Lewa sebuah kamera polaroid. Lewa terobsesi dan memotret segala hal yang ia temui. Dengan semangatnya, ia secara tidak sengaja memulai perang di antara dua desa.

TRAILER


DIRECTOR


Garin Nugroho

After finishing high school in Semarang, Garin Nugroho went to Jakarta to learn about movie in the Faculty of Cinematography in Jakarta Arts Institute (graduated in 1985). Eager to learn more, Garin, who was born in Yogyakarta, studied in the Faculty of Law in the University of Indonesia (graduated in 1991). Garin started his directing career through documentary productions. People began to know his name after his first feature, Cinta Dalam Sepotong Roti (1990). The film instantly earned the title of Film Terbaik (Best Movie) in Festival Film Indonesia 1991. His second film, Surat untuk Bidadari (1992), brought him to the international stage. Starting from that moment, he gained an incredible fame paving his way to various international film festivals. In the sestercentennial celebration of Mozart (2006), he earned a place among the world’s six ‘innovative directors’ to make movies, an opportunity that gave birth to Opera Jawa. In the end of 2006, Garin co-founded Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Setelah selesai menempuh pendidikan sekolah menengah di Semarang, Garin Nugroho merantau ke Jakarta untuk belajar film di Fakultas Sinematografi, Institut Kesenian Jakarta (selesai pada tahun 1985). Pria kelahiran Yogyakarta ini merasa tidak cukup hanya belajar film. Garin juga mengikuti pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (selesai tahun 1991). Garin memulai karier sebagai sutradara lewat produksi film dokumenter. Namanya mulai dikenal setelah produksi film panjang pertamanya, Cinta dalam Sepotong Roti (1990). Film tersebut langsung mendapat penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 1991. Film keduanya, Surat untuk Bidadari (1992), membawa Garin ke dunia panggung film internasional. Sejak itu, namanya melejit dan merambah ke berbagai festival film internasional. Pada Perayaan 250 tahun Mozart (2006), Garin terpilih menjadi salah satu dari enam ‘innovative directors’ dunia untuk membuat film, yang kemudian melahirkan Opera Jawa. Di akhir tahun 2006,  Garin ikut mendirikan Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

Contact: 

Garin Nugroho
namakugareng@yahoo.com