Meski memiliki perbedaan yang cukup signifikan, tetapi praktik seni teater sangat berhubungan erat dengan perfilman. Keterkaitan antara seni pertunjukan (teater) dengan film itulah yang menjadi tema dalam program Public Lecture (kuliah umum, red.; berikutnya disingkat Publec) sesi pertama yang diselenggarakan di Ruang Seminar Perpustakaan Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Senin (4/12). Salah seorang pemateri, Rukman Rosadi, membawakan materi keterkaitan seni pertunjukan teater dengan film, baik di dunia maupun di Indonesia. Selain Rukman, Publec hari itu juga diisi oleh Tony Rayns, Garin Nugroho, dan Nor’ Anira Haris yanh memaparkan penelitiannya. Namun, Garin Nugroho berhalangan hadir.

Menurut Rukman, perkembangan film di dunia sangat erat kaitannya dengan seni pertunjukan teater. Ia menukil nama salah satu tokoh seni teater realisme, Konstantin Stanislavski. Bisnis perfilman dunia, bahkan Hollywood, berutang besar pada metode yang dikembangkan oleh tokoh seni pertunjukan Soviet itu. Selain metode Stanislavski, Rukman juga mencontohkan pertunjukan Chaplin sebagai film yang berdasarkan seni pertunjukan teater. “Kita bisa bilang, itu seni pertunjukan yang punya pengaruh besar pada film. Jelas, bahwa mime adalah bagian dari seni pertunjukan,” kata Rukman.

Meski memiliki keterkaitan, ternyata penerimaan masyarakat terhadap dua produk seni itu sangat berbeda. Rukman berkata bahwa masyarakat masa kini lebih memilih meluangkan waktu untuk pergi ke bioskop daripada gedung teater. “Usaha yang dilakukan oleh dua pelaku juga sangat berbeda. Kalau di teater kita latihannya enam bulan dan pentasnya sekali, [sedangkan] film paling panjang hanya sebulan tapi bisa dilihat abadi, kapan saja,” ujar dosen ISI Yogyakarta itu.

Kemunculan sinema di Indonesia pun dimulai dari seni pertunjukan. Rukman mengutip Lutung Kasarung sebagai judul film yang muncul di Indonesia pada tahun 1920. “Lutung Kasarung itu mulanya adalah sandiwara panggung. Itu film pertama di Indonesia,”ungkap Rukman.

Tradisi seni teater dalam perfilman di Indonesia terus berlanjut pada masa selanjutnya. Tokohnya, antara lain Teguh Karya dan Arifin C. Noer. Untuk tokoh sinema Indonesia pada masa modern, Rukma mencontohkannya dengan Garin Nugroho dan Hanung Bramantyo. Lebih lanjut, Rukman juga berujar bahwa sutradara yang memiliki pengetahuan dan metode kerja dalam teater berkemungkinan untuk menciptakan film yang bermutu lebih besar daripada mereka yang tidak punya dasar seni pertunjukan.

Tema Publec hari itu cukup menarik antusiasme hadirin untuk ikut serta dalam diskusi. Pemateri lain, Tony Rayns, membawa materi tentang perkembangan film di Jepang yang berangkat dari seni pertunjukan tradisional, seperti Kabuki; dan Nor’ Anira Haris mengangkat hasil risetnya tentang konten kanak-kanak dalam film animasi Upin & Ipin. Meski tanpa kehadiran Garin Nugroho, para penonton melemparkan banyak pertanyaan kepada pemateri.

Achmad FH Fajar