Yang Lina, seorang sineas dokumenter menunjukkan kepiawaiannya sebagai filmmaker yang patut diacungi jempol dalam film berdurasi 124 menit, Spring Tide. Mengambil latar di negara China, Yang Lina mengangkat isu antara cinta dan benci dalam sebuah keluarga, basis terkuat dalam pembentukan karakter seorang individu sebagai manusia. Dalam keluarga, kita diajarkan tentang bagaimana cara menyikapi manusia lain; dalam keluarga, sosok seorang Ibu biasanya lekat dengan peran sebagai pendengar yang baik, pencerita ulung, dan samudera luas akan ilmu dan pengalaman. 

Melalui Spring Tide, Yang Lina dengan lemah gemulai menceritakan betapa kalut nan peliknya hubungan antara Ibu dan anak perempuan dalam sebuah keluarga. Guo Jianbo, seorang wanita berumur 40-an hidup satu atap dengan Ibu dan anak perempuan satu-satunya. Sebuah keluarga disfungsional yang berisi tiga perempuan dalam satu bingkai rumah tangga. Jianbo bekerja sebagai jurnalis kawakan mengawali film ini dengan adegan investigasi pada seorang guru yang menjadi tersangka pelecehan seksual pada muridnya. Ketika ia sedang mewawancarai sang tersangka, Jianbo menjadi sangat emosional lalu menampar dan melemparkan dompetnya ke wajah si tersangka. Adegan pada bagian ini mungkin menjadi adegan satu-satunya dalam film yang paling berhasil menangkap emosi Jianbo. Ibu Jianbo adalah wanita yang mempunyai masalah psikologis dalam ketidakmampuannya mengatur amarah. Hal tersebut kemudian berimbas pada kepribadian Jianbo, ia tumbuh menjadi wanita yang sangat pandai menyimpan amarah dan emosinya karena perilaku Ibunya yang dominan dan abusive semasa kecil. Bahkan, hingga saat Jianbo sudah memiliki anak yang tinggal dengannya dan ibunya, Ibu Jianbo tidak sungkan melemparkan kata-kata kasar pada Jianbo dan anaknya. Dalam shot yang dominan dilakukan dalam rumah, film ini menggambarkan relasi Jianbo dengan Ibunya yang dekat namun bersekat. Sekat tersebut seperti sebuah kaca tinggi yang saling berbenturan ketika tercipta dialog antara Jianbo dan Ibunya. Guo Wanting, anak Jianbo yang berusia sembilan tahun tumbuh di antara sekat-sekat tembus pandang tersebut. 

Saat menonton film ini, kita dapat merasakan benturan-benturan yang terjadi ketika ada tiga perempuan dengan generasi yang berbeda-beda hidup bersama. Ibu Jianbo adalah seorang aktivis terpandang dalam komunitas tempat mereka tinggal, ia terkenal ramah dengan tetangga-tetangganya. Dalam beberapa adegan pula secara gamblang diceritakan mengenai perbedaan generasi dapat membentuk kepribadian seseorang. Ibu Jianbo hidup dalam romantisme masa Mao Zedong, ketua Partai Komunis dan juga pendiri negara Republik Rakyat China. Jianbo yang bekerja sebagai jurnalis secara eksplisit menggambarkan sosok wanita berwawasan luas hal ini dimanifestasikan melalui banyaknya koleksi buku-buku milik Jianbo di kamarnya. Guo Wanting, lahir dan tumbuh dari didikan dua wanita yang memiliki perbedaan generasi tersebut. 

Drama kehidupan antara ketiga perempuan yang hidup bersama tersebut menjadi sangat menarik untuk ditonton ketika ketiga tokoh tersebut juga dengan luwes melukiskan wujud-wujud emosi yang kita rasakan sebagai manusia. Spring Tide telah berhasil lolos sebagai seleksi resmi di kompetisi Shanghai International Film Festival 2019 dan akan ditayangkan dalam Special Program: Shanghai International Film Festival 2019 dalam perhelatan 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’. Jangan lewatkan kesempatan untuk meresapi emosi yang gamang, meluap-luap, amarah, cinta dan kesedihan yang disuguhkan dalam Spring Tide. (2019)

 

Ditulis oleh Bonivasios Dwi | Disunting oleh vanis