Tribute to Abbas Kiarostami

Catatan Program Tribute to Kiarostami

 

Sosok sutradara terkemuka Iran, Abbas Kiarostami (1940-2016), dan karyanya tidak hanya dikagumi oleh audiens internasional, tetapi juga dipuji oleh sutradara di seluruh dunia. Misalnya, sutradara Akira Kurosawa pernah menyatakan, “Kata-kata tak bisa mengambarkan  perasaan saya tentang  film-filmnya… Ketika Satajit Ray wafat, saya amat berduka. Tetapi setelah menyaksikan film-film Kiarostami, saya bersyukur kepada Tuhan yang telah menganugerahi kita sosok yang bisa menggantikannya.” Begitu pula, sutradara kondang Perancis Jean-Luc Godard menyatakan, “Sejarah film diawali dengan D.W. Griffith dan diakhiri dengan Abbas Kiarostami.”

Lahir di Teheran pada 22 Juni 1940, Abbas Kiraostami adalah seorang seniman mumpuni yang dikenal sebagai sutradara film, penyair, dan pelukis. Ia mulai membuat video untuk iklan televisi sebelum memproduksi sejumlah film meski dalam kondisi politik yang sulit. Sebelum pecah Revolusi pada 1979, Kiarostami  adalah kepala Pusat Pengembangan Intelektual Anak dan Pemuda (Kanoon) yang memproduksi film-film pendek edukatif untuk anak muda. Film panjangnya  Where is the Friend’s Home? (1987) secara cerdas menyampaikan kritik lewat pengamatan yang cermat akan kondisi sosio-kultural di Iran. Film ini merupakan bagian dari Trilogi Koker bersama dengan film And Life Goes On [a.k.a. Life, and Nothing More](1992) dan Through the Olive Trees (1994). Utamanya, filmnya yang meraih penghargaan, Taste of Cherry  (1997), dengan indah menunjukkan kerapuhan hidup dan keniscayaan kematian. Inilah sebentuk film yang filosofis sekaligus meditatif ihwal pertanyaan abadi umat manusia Lebih jauh, filmnya yang bertajuk Close-Up (1990), adalah sebuah mahakarya metasinema sebagai renungan tentang film dan pembuat film yang membaurkan batas  fakta dan fiksi, seni dan hidup.

Sensibilitas humanis disertai pesan politik yang halus, kita tahu, telah menjadi penanda khas karya Kiarostami. Bekerja di bawah tekanan sensor yang ketat, Kiarostami justru melahirkan karya luar biasa yang mengulik problem kemanusiaan universal. Lebih jauh, film-film Kiarostami menjadi bukti ketajaman daya visual dan sensitivitasnya yang tak lazim terhadap orang lain. Keterampilan terbaik dari Kiarostami adalah menangkap momen—adegan atau gambar—yang tampak akrab lantas menyulihnya menjadi sesuatu yang menyentuh, puitis, misterius, dan pada akhirnya indah. Tak mengherankan jika film-film Kiarostami memiliki pesona dan resonansi yang kuat pada penonton di seantero dunia.

Sepanjang kariernya, Kiarostami telah melahirkan tak kurang 40 film yang terdiri dari film panjang, dokumenter, dan film pendek, yang hampir semuanya dibuat di Iran. Namun, sejumlah film terakhirnya disyut di luar Iran dan dengan bintang-bintang bukan orang Iran; umpamanya Certified Copy (2010) yang dibintangi aktris terkenal Perancis Juliette Binoche disyut di Italia, film Like Someone in Love (2012) melakukan syut di Jepang, dan Kiarostami diberitakan sempat merencanakan pembuatan film di Cina. Karena itu, kami merancang program Tribute to Abbas Kiarostami; kami akan memutar filmnya yang terakhir, Take Me Home (2016), yang disyut di Italia bagian selatan dengan mengkesplorasi beragam lanskap di area itu.

Selain itu, kami juga akan mempertontonkan dokumenter indah tentang Abbas Kiarostami yang bertajuk 76 Minutes 15 Seconds with Abbas Kiarostami yang  disutradarai Seifollah Samadian. Judul dokumenter ini persis merujuk usia hidup Kiarostami: 76 tahun 15 hari. Dokumenter ini tak hanya menangkap momen-momen langka yang tampak seperti film panjang “di balik layar”, tapi juga menunjukkan metode kerja Kiarostami dalam membuat film.

Kami percaya program ini akan menjadi kenangan akan kebesaran Kiarostami sekaligus keindahan karyanya.

Budi Irawanto

Notes on Tribute to Abbas Kiarostami

 

The stature of Iranian film director Abbas Kiarostami (1940-2016) and his works have not only been widely adored by international audiences, but also, highly praised by film directors across the world. For instance, the Japanese film director Akira Kurosawa once said, “Words cannot describe my feelings about his films… When Satyajit Ray passed on I was very depressed. But after seeing Kiarostami’s films, I thanked to God for giving us just the right person to take his place.” Likewise, French film director Jean-Luc Godard remarked, “Film begins with D.W. Griffith and ends with Abbas Kiarostami.”

Born in Tehran on 22 June 1940, Kiarostami was an accomplished artist and recognized as filmmaker, poet, and painter. He started making a video for TV commercial before producing several films though in the difficult political condition. Prior to the 1979 Revolution, Kiarostami was a head of Iran’s Center for the Intellectual Development for Children and Young Adults (Kanoon), which produced educational short films for the youths. His feature Where is the Friend’s Home? (1987) launched social critiques cleverly with meticulous observation of the real socio-cultural conditions in Iran. This film was part of the Koker Trilogy, along with And Life Goes On [a.k.a. Life, and Nothing More] (1992) and Through the Olive Trees (1994). In particular, Kiarostami’s award-winning film, Taste of Cherry (1997), brilliantly shows the fragility of life and finality of death. This is a philosophical and meditative sort of film dealing with perennial human questions. Moreover, Close-Up (1990) is a meta-cinematic masterpiece of Kiarostami that meditated on film and filmmakers blurring the lines between fact and fiction, art and life.

As it is well known, the humanist sensibility with political subtleties has been a distinctive mark of Kiarostami’s films. Working under the strict film censorship in Iran, Kiarostami has made remarkable works dealing with universal human problems. Furthermore, Kiarostami’s films are evidence of his visual acuity and uncanny sensitivity to other people. The great skill of Kiarostami was taking moments—scenes or images—that feel familiar and transforming them into something charged, poetic, mysterious, and finally quite beautiful. Unsurprisingly, his works have strong appeal and resonate to the global audiences.   

In his entire career, Kiarostami has produced at least 40 films comprising features, documentaries, and shorts, which are mostly made in Iran. But his last few films were shot outside Iran with non-Iranian actors, such as Certified Copy (2010) starred by French famous actress Juliette Binoche which was shot in Italy, Like Someone In Love (2012) shot in Japan, and he reportedly planned to make a film in China. Therefore, in order to pay a tribute to Abbas Kiarostami, we will be screening Kiarostami’s last film Take Me Home (2016) that was shot in south Italy exploring the different landscapes in that area.

Furthermore, we will also be showing a wonderful documentary on Abbas Kiarostami entitled 76 Minutes 15 Seconds with Abbas Kiarostami directed by Seifollah Samadian. The title of this documentary refers to the exact age of Kiarostami: 76 years and 25 days. This intimate documentary captured rare moments, which looked like “behind the scenes” features, but it also shows Kiarostami’s work method in making his films.

We believe this program will be a reminiscent of the greatness of Kiarostami and his beautiful works.

Budi Irawanto

76 Minutes and 15 Seconds with Abbas Kiarostami

Seifollah Samadian/76 Minutes/2016/Iran/Documentary

Take Me Home

Abbas Kiarostami /16 Minutes/2016/Iran/Fiction