Sosrokusuman

Ninndi Raras/25 minutes/2016/Indonesia/Documentary

SHOWTIMES:

TBY | FRI 02 DEC | 19.00 – 22.00

Synopsis

Film ini menceritakan Kampung Sosrokusuman, yang saat ini tinggal separuh. Hal ini disebabkan oleh setengahnya lagi telah dimiliki oleh pengusaha untuk perluasan hotel dan pusat perbelanjaan. Saat ini, Sosrokusuman tidak memiliki ruang publik untuk melakukan kegiatan bersama, karena lapangan tenis yang biasa digunakan untuk olahraga dan interaksi warga tak lagi ada. Bahkan warga tidak bisa saling bertemu karena terbatasi oleh seng. Mbah Ledjar dan warga Sosrokusuman lainnya menuntut dikembalikannya akses jalan dan fasilitas publik di Sosrokusuman.

This film tells about Kampung Sosrokusuman, whose ownership is now split into two; due to the hotel and supermarket expansion, one area is occupied by entrepreneurs, while the rest belongs to the society. Today, Sosrokusuman does not have any public space; the tennis court, the place for the community to interact and do sport, is now gone. Mbah Ledjar and other Sosrokusuman people demand to get back the street access and public facilities in their neighborhood.

Trailer

Director

Seorang penulis perempuan yang tinggal di Yogyakarta, Indonesia. Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Atmajaya Yogyakarta. Peduli pada persoalan identitas dan kehidupan anak-anak muda. Di usianya yang telah menginjak 27, Ninndi telah membuat empat film: Rahasia (2011), Gula-Gula Usia/Sweet Seventy (2014), Kitorang Basudara (2015), dan Sosrokusuman (documentary, 2016).

A young female writer who was born in Yogyakarta, Indonesia. An alumna of the Faculty of Social and Political Sciences, Atma Jaya University, Yogyakarta. Has a great concern on the issues of identity and the lives of young people. Today at the age of 27, she has made four films: Rahasia (2011), Gula-Gula Usia/Sweet Seventy (2014), Kitorang Basudara (2015), and Sosrokusuman (documentary, 2016).