Short 2016 from Culture Office of Yogyakarta

Pengantar: DIY Short 2016

 

Program ini disajikan lewat pemutaran enam film pendek yang produksinya didanai oleh Seksi Perfilman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tujuan dari program ini adalah menyampaikan pertanggungjawaban para pembuat film dan Pemerintah Daerah kepada publik DIY. Enam film pendek—tiga fiksi dan tiga dokumenter—yang diputar dalam program ini adalah film pendek yang telah dinyatakan lolos kurasi dan pitching pada April 2016 lalu.

JAFF mendukung dengan cara memberi ruang dan jembatan bagi enam film pendek dalam pemutaran perdananya. Happy Family, karya Eden Junjung, mengangkat dan menyambungkan isu pekerja, religi, dan desa-kota dalam satu jalinan narasi. Kleang Kabur Kanginan yang disutradarai Riyanto Tan menunjukkan perjuangan orangtua untuk mendapatkan secuil perhatian dari anak mereka yang merantau. Makbul Mubarak, sutradara yang aktif mengembangkan dan menjalankan Cinema Poetica, dalam film terbarunya Ruah mengangkat topik yang seperti tidak habis digali oleh film Indonesia: poligami. Kali ini isu poligami digambarkan dengan lucu dan mengejutkan.

Jamu: Saking Wingking Mengajeng karya Nur Wucha Wulandari menceritakan kisah seorang ibu rumah tangga sekaligus orang yang memenuhi sebagian besar kebutuhan keluarganya dengan membuat dan berjualan jamu. Film ini sangat menarik karena mampu menghadirkan optimisme terhadap kemungkinan kita menggali, dan mencari pendapatan dari, produk yang sudah diwariskan kepada kita. Jogja Kembali, film terbaru dari Aan Ratmanto, mengangkat dan mencoba menunjukkan narasi non-arusutama atas hadirnya Jogja Kembali di Yogyakarta. Terakhir, film dokumenter dari Ninndi Raras Sosrokusuman, mengangkat isu kontemporer yang digelisahkan banyak orang Jogja saat ini: kampung-dalam-kota dengan interaksi khasnya berhadapan dengan modal besar dalam bentuk hotel yang mengintervensi kehidupan mereka.   

Bagi kami, sebuah film dibuat untuk bertemu dan dipertemukan dengan penontonnya.

Program pemutaran ini sekaligus juga menjadi ruang untuk mencatat perkembangan film-film pendek DIY yang diproduksi dengan sistem kurasi dan pitching. Bagi kami, kualitas film yang diproduksi dengan dukungan pemerintah dan dana publik harus terus dijaga dan dipertanggungjawabkan pada publik itu sendiri.

Pasca-JAFF, kami berharap enam film pendek tersebut juga mendapat apresiasi dari publik yang lebih luas.

Selamat menonton,

Suluh Pamuji,

Programmer

Introduction: DIY Short 2016

 

This program is presented through the screening of six short films whose productions are funded by the Film Department of Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). This program serves as filmmakers and regional government’s responsibility to the public of DIY. The six short films—three fictions and three documentaries—screened in this programs are those managing to pass curating and pitching processes in April 2016.JAFF gives its support by providing space and bridge for these six short films in their premiere. Happy Family, a film by Eden Junjung, promotes and connects issues related to the working class, religion, and rural-urban relation in one string of narration. Kleang Kabur Kanginan by Riyanto Tan depicts parents’ struggle in begging a small fraction of attention from their far away son. Makbul Mubarak, a director actively develops and run Cinema Poetica, presents his latest film, Ruah, that promotes one topic that never stops attracting Indonesian filmmakers: polygamy. This time polygamy is told in a funny and surprising way.

Jamu: Saking Wingking Mengajeng by Nur Wucha Wulandari tells a story about a woman who is both a housewife and a person who fulfill most of her family’s needs by producing and selling jamu. The film is very interesting because of its capability in sparking optimism on the possibilities for us to explore and earn our living from a product that we have already inherited. Jogja Kembali, the latest work of Aan Ratmanto, promotes and tries to depict a non-mainstream narration on the event called Jogja Kembali that took place in Yogyakarta. Lastly, the latest documentary by Ninndi Raras Sosrokusuman, promotes a contemporary issue creating unrest among many Jogjanese now: village-within-a-city and its distinct intimacy standing before big capital manifested in hotels that intervene their life.

For us, a film is made to experience an encounter with the audiences.

This screening program also serves as a means to document the development of DIY’s short films produced under curating and pitching systems. For us, maintaining the quality of and being responsible for the films produced with governmental support and public funds are compulsory.

After JAFF, we hope that the six short films can be appreciated by a wider public.

Happy watching,

Suluh Pamuji,

Programmer

Happy Family

Eden Junjung/24 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Jamu Saking Wingking Mèngajèng

Nur Wucha Wulandari/21 min/2016/Indonesia/Documentary

Jogja Kembali

Aan Ratmanto/24 min/2016/Indonesia/Documentary

Kleang Kabur Kanginan

Riyanto Tan /22 min/2016/Indonesia/Fiction

Ruah

Makbul Mubarak/27 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Sosrokusuman

Ninndi Raras/25 minutes/2016/Indonesia/Documentary