Tokyo Monogatari

(Tokyo Story)

LAYAR KLASIK

Director: Yasujiro Ozu

Duration: 139 minutes

Production: 1953

Country: Japan

Category: Fiction

SCREENING


TBA

SYNOPSIS


An old couple of husband and wife go to Tokyo to visit their children since all of them are busy and do not have any time at all spared to take care of their parents. It is only their daughter-in-law named Noriko, now a widow of their son whom was lost at the Pacific War, who surely takes effort to look after both of them. This film portrays the Japanese society post-World War II, during which the young generations left their homes to pursue education and career in the city. The experiences of two different generations, parents and children, developing in each shell until it gets to the point where the appropriate question is how will such inter-human relationship take place in the future then? Tokyo Monogatari is probably the most famous Asian film across the globe. The film will be played through the 16 mm celluloid film with an analogue projector.

Sepasang suami-istri yang sudah tua berangkat ke Tokyo untuk mengunjungi anak-anaknya. Semua anak sibuk, tak sempat memperhatikan ayah ibu mereka. Hanya menantu mereka, Noriko,  janda dari anak lelaki yang hilang saat Perang Pasifik, yang meluangkan waktu menemani. Film ini adalah potret masyarakat Jepang pasca Perang Dunia Kedua, di mana muda-mudi pergi meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pendidikan dan pekerjaan di kota. Pengalaman dua generasi berbeda, orang tua dan anak, berkembang sendiri-sendiri hinggal akhirnya menimbulkan pertanyaan bagaimanakah masa depan hubungan antar manusia ini nantinya? Tokyo Monogatari barangkali adalah film Asia paling terkenal di seluruh dunia. Pemutarannya kali ini menggunakan film seluloid 16 mm dengan proyektor analog.

TRAILER


DIRECTOR


Yasujiro Ozu

Yasujirō Ozu (1903-1963) mulai berkarya sejak periode film bisu. Dalam periode akhir film bisu, sekitar pertengahan 1930-an, Ozu mulai mengembangkan film-film yang berfokus pada kehidupan modern sehari-hari dan kritik sosial. Ia menciptakan gaya khas dengan penempatan kamera pada posisi rendah, sejajar dengan orang yang duduk di lantai. Dirinya juga sengaja menghindari aspek-aspek melodrama dalam pengadegaan sehingga menghasilkan cerita yang intens tetapi sangat halus.

Yasujirō Ozu (1903-1963) mulai berkarya sejak periode film bisu. Dalam periode akhir film bisu, sekitar pertengahan 1930-an, Ozu mulai mengembangkan film-film yang berfokus pada kehidupan modern sehari-hari dan kritik sosial. Ia menciptakan gaya khas dengan penempatan kamera pada posisi rendah, sejajar dengan orang yang duduk di lantai dan dengan sengaja menghindari aspek-aspek melodrama dalam pengadeganan sehingga menghasilkan cerita yang intens tetapi sangat halus.

Contact: 

Japan Foundation Jakarta

pkj@jpf.or.id