Korean Cinema Showcase

KOREAN CUTS: DARI BUSAN KE JOGJA

 

Sinema Korea dan Indonesia memiliki pertautan yang erat. Pengaruh sinema Korea itu tampak pada sejumlah sineas muda Indonesia yang mulai mengubah wajah sinema Indonesia dengan menawarkan keragaman gaya, genre, dan tema, serta tidak lagi terikat oleh konvensi lama. Tentu saja, proses transformasi dalam sinema Indonesia ini terus berlangsung hingga kini dan melahirkan banyak inovasi dan kreativitas baru yang didukung oleh kebijakan perfilman yang kondusif serta etos kerja khas kalangan sineas.

Kita tahu, sinema Korea tidak saja sukses secara komersial, tetapi juga senantiasa mencuri perhatian juri dan publik dalam pelbagai festival internasional. Ini menjadi ilham penting bagi sineas Indonesia. Oleh karena itu, program kolaborasi antara Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan Korean Cultural Center (KCC) yang sudah berlangsung selama lebih dari dua tahun belakangan ini telah memberikan pengaruh terhadap perkembangan sinema Indonesia, terutama memberi ilham bagi kalangan perfilman di Indonesia untuk terus mengasah kreativitasnya agar mampu melahirkan karya yang diperhitungkan serta disegani.

Pemutaran khusus film Korea terbaru dan populer akan digelar untuk publik Indonesia di JAFF tahun ini yang sebagian berasal dari Festival Film Indonesia-Korea dengan program yang memang berkualitas. Pemutaran ini tidak hanya memberikan gambaran selintas tentang perkembangan sinema terbaru Korea, tetapi juga pengetahuan perihal aspirasi, budaya, dan wajah masyarakat kontemporer Korea. Film-film yang akan diputar adalah film yang berhasil membawa sinema Korea ke peta sinema global, antara lain: One Way Trip (Jeong Yeol Choi, 2016), The Wailing (Na Hong Jin, 2016), Worst Woman (Kim Jong Kwan, 2016), dan Train To Busan (Yeon Sang Ho, 2016).

Tahun ini kami juga menjalin kerja sama dengan Busan International Short Film Festival (BISFF) dengan memutar film-film pendek terpilih dari Korea. Program ini tidak hanya bermanfaat bagi penonton film di Indonesia, tapi juga referensi baru bagi pembuat film-film pendek di Indonesia pada khususnya. Jinna Lee sebagai Direktur Program dari BISFF menyeleksi beberapa film yang pernah diputar dalam BISFF untuk dipertemukan dengan penonton film di Indonesia. Di samping itu, kami menyelenggarakan seminar yang antara lain membincangkan ihwal pendidikan film di Korea sebagai pelengkap program ini.

 

Budi Irawanto


 

KOREAN CUTS: FROM BUSAN TO JOGJA

 

Korean and Indonesian cinemas share a close link. The influence Korean cinema has on several young Indonesian filmmakers has transformed the face of Indonesian cinema by offering diverse styles, genres, and themes, as well as the liberation from old conventions. Indeed, the transformation process on Indonesian cinema has persisted until now and created many innovations as well as new creative works supported by the conducive film policies and the distinctive work ethic among filmmakers.

We know that the Korean cinema is not only commercially successful, but it has also continued to steal the jury’s and public’s attention at various international festivals. This has become an important inspiration to Indonesian filmmakers. As such, the ongoing collaboration between Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) and Korean Cultural Center (KCC) for the past couple of years has resulted in influencing the growth of Indonesian cinema, especially in inspiring Indonesian filmmakers to hone their creativity so as to create works that are considered as well respected.

A special screening of the recent and popular Korean films will be held for the Indonesian public during this year’s JAFF, some of which came from the Indonesia-Korea Film Festival, which has high-standard programmes. This screening will not only provide a glimpse into the latest growth of Korean cinema, but also, knowledge regarding the aspirations, culture and face of the contemporary Korean society. The films that will be shown are those that have successfully placed Korean cinema onto the map of global cinema, namely: One Way Trip (Jeong Yeol Choi, 2016), The Wailing (Na Hong Jin, 2016), Worst Woman (Kim Jong Kwan, 2016) and Train To Busan (Yeon Sang Ho, 2016).

This year, we are also collaborating with Busan International Short Film Festival (BISFF) to screen selected Korean short films. This program is not only useful for the Indonesian audience, but it can also provide a new point of reference for short filmmakers in Indonesia. As the Program Director of BISFF, Jina Lee has selected several shorts which have been screened in BISFF to reach Indonesian audience. Aside from this, we will be holding a seminar to discuss the film education in Korea, thus, completing this program.

 

Budi Irawanto

 

One Way Trip

Choi Jeong-Yeol/93 minutes/2015/South Korea/Fiction

Worst Woman

Jong-kwan Kim/94 minutes/2015/South Korea/Fiction

Train to Busan

Yeon Sang-ho/118 minutes/2016/South Korea/Fiction