Jogja Kembali

Aan Ratmanto/24 min/2016/Indonesia/Documentary

SHOWTIMES:

FRI 02 DEC | 19.00 – 22.00  | TBY

Synopsis

Dari dua peristiwa besar yang terjadi pasca-Agresi Militer Belanda II: Serangan Umum 1 Maret 1949 dan Peristiwa Jogja Kembali. Peristiwa kedua tenggelam dalam bayang kejadian pertama. Akibatnya, peristiwa ini dituturkan dan diwariskan dalam keadaan yang tidak utuh.

Selama ini narasi Jogja Kembali selalu berhenti pada tanggal 29 Juni 1949. Pada kenyataannya, Jogja Kembali hanyalah satu bagian dari penarikan tentara Kerajaan Belanda dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang berlangsung sejak 24 hingga 30 Juni 1949 dan ditutup dengan Proklamasi 30 Juni 1949 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Jogja Kembali adalah simbol pengalihan kekuasan dari Belanda ke Republik Indonesia.

There are two major events occurring after Dutch Military Agression II: Serangan Umum 1 Maret 1949 and Jogja Kembali. Among those two, the latter is drowned in the shadow of the former. As a result, it is told and bequeathed not as a whole.

Hitherto, the narration of Jogja Kembali always stops on 29 June 1949. In reality, Jogja Kembali is only an episode belonging to the withdrawal of the forces of the Kingdom of Netherlands from Yogyakarta Special Region lasted from 24 to 30 June 1949 and was concluded with 30 June 1949 Proclamation carried out by Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Jogja Kembali is a symbol of power transfer from the Netherlands to the Republic of Indonesia.

Trailer

Director

Aan Ratmanto adalah seorang mahasiswa pascasarjana yang belajar di Jurusan Sejarah di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Selain Jogja Kembali yang ia sutradarai, ia juga berperan dalam pembuatan film dokumenter lain berjudul Jas Merah Sang Garuda. Pada film dokumenter tersebut ia menjadi ketua tim riset.

Selain membuat film, ia juga menulis sejumlah buku. Buku-buku yang pernah ditulisnya antara lain adalah: Gelaran Almanak Seni Rupa Yogyakarta 1999-2000 (2009), Mengawal Transisi: Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Pemerintahan Transisi Republik Indonesia di Yogyakarta 1949 (2012), dan Pasukan Siliwangi: Loyalitas, Patriotisme, dan Heroisme (2012).

Aan Ratmanto is a postgraduate student studying in the Department of History in Gadjah Mada University, Yogyakarta. Apart from Jogja Kembali that he directs, he also plays a role in the making of another documentary film entitled Jas Merah Sang Garuda. In that documentary, he becomes the head of the research team.

In addition to making films, he also writes several books. Some of the books he has written are: Gelaran Almanak Seni Rupa Yogyakarta 1999-2000 (2009), Mengawal Transisi: Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Pemerintahan Transisi Republik Indonesia di Yogyakarta 1949 (2012), and Pasukan Siliwangi: Loyalitas, Patriotisme, dan Heroisme (2012).