KETIKA LANGIT DAN BUMI TAK LAGI TERBAYANGKAN

Visualized by Andhy Pulung

KETIKA LANGIT DAN BUMI TAK LAGI TERBAYANGKAN

 

Apakah aku terlihat siang atau kabut atau debu-debu

Tak tahulah. Sungguh tak lagi terbayangkan

Tapi barangkali ketika itu di suatu senja yang asing

Aku pernah punya wajah buat dikenal. Wajahku

Barangkali ketika itu aku hendak mengenangnya

Sebagai tanda dari perkenalan yang diterima

Sebagai tanda dari percintaan yang selesai buat mencipta

Atau barangkali pernah pula ada perkenalan yang lain

Namun segalanya jadi lupa. Tak lagi terpikirkan. Pula

Bagaimana aku kan tahu sekiranya masih ada saat dan ketika

Masih meniti nafas dalam kesendirian yang lemas indera

Bahkan maut pun tak tersapa dan cintapun tiada bangkit

Hanya topan perasaan kehilangan yang melaju. Melaju

Kehilangan di daerah pengasingan. Terhantar di sini

Dalam segala tak lagi punya warna atau ungkapan

Ketika langit dan bumi tak lagi terbayangkan

 

1967

Andhy Pulung

Andhy Pulung merupakan alumni Institut Kesenian Jakarta. Karirnya di perfilman nasional bermula tahun 2000, sebagai penyunting film-film dokumenter. Sekarang, nama Andhy Pulung dikenal luas sebagai penyunting berpengalaman. Film-film yang pernah ia tangani: Opera Jawa (2006), Denias (2006), King (2009), Tanah Air Beta (2010), Hari Untuk Amanda (2010), dan lainya. Tahun 2011, ia mendapat kesempatan untuk menyutradarai film panjang pertamanya, Keumala.