HUKLA IN MOTION

The beauty of poetry lies in the freedom it offers.

Freedom for the poet to express their innermost thoughts, feelings, and deep-rooted beliefs in any manner they see fit, through words clear or abstract.

But also freedom for the reader to interpret the words; to let the words light sparks in the mind that bring up anything from memories, sounds, feelings, images, and stories.

The poems of my Father, Leon Agusta, have often triggered these sparks not just in his readers, but in artists of other disciplines. The poems have inspired songs, paintings, and even dance choreography. But for me, the poems always played out in moving images, in visual stories, be it narrative or images that carry me to a certain mood.

I always wondered what beautiful fires the words would light in the mind of other filmmakers and audio-visual artists.

That is the motivation and idea behind HUKLA IN MOTION:

To see what a hand-selected group of talented filmmakers and artists with an admiration for the poetry of Leon Agusta would be inspired to create.

The rules set out for the artists were very simple:

  1. The curator selects the poems and matches poem to artist.
  2. The final work must have a maximum duration of 10 minutes
  3. The original title of the poem must be kept as the title of the final work.

    Other than that, they were free to create any audio-visual work they wanted inspired by the poetry; be it a traditional narrative short film, a work of video art, or any form of experimental audio visual work. No concept approval or script approval needed from the initiators of the project. Full complete freedom.

    Creation will always inspire creation, beauty will always inspire more beauty, and art will remain a constant in the universe because of this endless chain of inspiration.

Keindahan prosa ada di dalam kebebasan yang ia tawarkan.

Kebebasan untuk para pujangga untuk mengutarakan pikiran dan perasaan terdalam, serta keyakinan-keyakinan fundamental mereka.

Juga kebebasan para pembaca dalam menginterpretasikan kata-kata; membiarkan cahaya kata-katanya memercik membawa berbagai memori, bunyi-bunyi, perasaan, gambaran, dan cerita-cerita ke dalam pikiran.

Puisi-puisi ayah saya, Leon Agusta, tidak jarang menimbulkan percikan ini dan tidak terbatas pada pembacanya, tetapi juga para seniman di berbagai bidang lain. Puisi-puisi ini menginspirasi pembuatan banyak lagu, lukisan, dan bahkan koreografi. Namun, bagi saya, walau narasi atau gambar-gambar bisa mengantarkan kita semua ke suasana hati tertentu, puisi-puisi malah semakin hebat kekuatannya jika dimainkan lewat dengan gambar-gambar yang bergerak, lewat media audio-visual.

Saya selalu berandai kata-kata yang sama akan menimbulkan percikan indah seperti apa yang ada di pikiran para pembuat film dan seniman audio-visual lainnya.

Itulah motivasi dan ide di balik HUKLA IN MOTION:

Untuk melihat hasil karya para pembuat film dan seniman bertalenta terpilih yang terinspirasi oleh prosa Sang Leon Agusta.

Aturannya sangat mudah:

  1. 1. Kurator memilih puisi dan memasangkannya pada artis.
  2. 2. Hasil akhir karya maksimal berdurasi 10 menit.
  3. 3. Judul akhir karya adalah judul puisi yang dijadikan inspirasi.

Lebih dari itu, mereka bebas untuk menciptakan karya audio-visual apapun yang mereka inginkan terinspirasi dari prosa yang dipilih; baik itu film pendek naratif tradisional, karya seni video, atau karya eksperimental audio-visual dalam bentuk apapun. Tidak perlu ada persetujuan konsep atau skrip dari inisiator proyek. Kebebasan diserahkan sepenuhnya pada kurator.

Suatu karya akan selalu menginspirasi karya lainnya, keindahan selalu menginspirasi keindahan selanjutnya, dan di tengah-tengah rantai inspirasi di semesta ini, seni adalah sesuatu yang konstan.

Paul Agusta

SCREENING

FRI, 30 NOV 2018 / CINEMAXX CINEMA A / 16:00

TUE, 4 DES 2018 / CINEMAXX CINEMA B / 10:00

LABIRIN

Anggun Priambodo

MANGSA-MANGSA

Bambang “Ipoenk” KM/ Videorobber

SUASANA

Fajar Martha Santosa

POTRET DIRI

Ismail Basbeth

DAN KEMBALI BERMIMPI

Jason Iskandar

NYANYIAN YANG KEMBALI

Rosalia Namsai Engchuan