Focus on Djenar Maesa Ayu

Djenar Maesa Ayu Melawan

 

Seberapa banyak pembuat film perempuan di Indonesia? Seberapa banyak peran kunci yang mereka pegang sebagai tim utama baik sebagai sutradara, produser, penulis, penata kamera, penata gambar, dan/atau yang lainnya? Iya, akan terkejut kita menyadari begitu sedikitnya perempuan yang berkarya dalam dunia film Indonesia. Tak heran, di dunia film internasional sendiri pun kondisinya tak jauh beda, seolah dunia film hanya dimiliki oleh para laki-laki. Jika tak percaya, coba Anda cek dalam ingatan sendiri, berapa banyak perempuan keluar sebagai nama sutradara favorit? Ah, tentu saja, bisa jadi banyak, namun tentu Anda tahu yang saya maksudkan.

Djenar Maesa Ayu menjadi istimewa tidak hanya karena ia seorang perempuan. Ia begitu kuat dan berkarakter, terbuka dan merdeka; dan yang terutama ia amat berani untuk ‘telanjang’ dan membuka dirinya di hadapan publik melalui karya-karyanya. Tidak, tidak, yang saya maksudkan bukan bugil. Yang saya maksudkan adalah ia begitu berani membuka dirinya lebar-lebar, mengeksplorasinya begitu dalam, hingga kita hampir selalu yakin, tokoh-tokoh dan kisah-kisah yang ia ceritakan melalui karya tulis cerpen, novel, maupun film selalu bersumber pada hidupnya sendiri, pada pribadinya, pada pengalamannya yang beragam dan berkelok, terutama pada ketidakadilan yang ia dan orang-orang di sekelilingnya alami. Paling tidak itu kesan dan pemahaman yang saya dapatkan dari menikmati karya-karyanya dan sedikit dari perkenalan dengannya secara pribadi.

Tahun ini kami begitu beruntung mendapat kesempatan untuk memutar keempat film yang telah ia buat dalam program Fokus. Djenar memulai kariernya sebagai produser, penulis, dan sutradara dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet, yang merupakan adaptasi dari cerita pendek miliknya yang berjudul sama. Sedang film kedua dan ketiganya, meski berjudul sama dengan cerita-cerita pendek yang pernah ia tuliskan, SAIA dan NAY, bukanlah sebuah karya adaptasi, melainkan lebih seperti sebuah autobiografi dari pengalaman hidupnya sendiri yang kemudian difilmkan. Sementara film keempatnya, hUSh, tidak berdasar pada cerpen dan merupakan karya mockumentary yang disutradarai bersama Kan Lume, sutradara independen dari Singapura. Menarik sekali, bukan?

Iya, ia mengadopsi dan mengadaptasi cerita dari hidupnya menjadi karya tulis dan juga karya film. Kedua medium ini begitu berbeda ritual dan perlakuannya, begitu berbeda cara distribusi dan pola konsumsinya; namun Djenar mampu membuat karya-karyanya selalu muncul dan terdengar, dengan tentu saja selalu low-budget dan merdeka. Mereka Bilang, Saya Monyet (2008), bercerita tentang penulis yang mengalami pelecehan seksual di masa kecilnya, telah diapresiasi berbagai festival film internasional, di antaranya Singapore International Film Festival, Tallinn Black Nights Film Festival, dan Asian Hot Shot Film Festival. Meski tidak sukses secara komersial di Indonesia, film ini memenangkan penghargaan Penulis Adaptasi Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, dan Pemeran Pembantu Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2009. SAIA (2009) diangkat dari kumpulan cerpen berjudul sama, bercerita tentang pengalaman seksual yang begitu personal dan berani. Penonton dihadapkan pada satu peristiwa panjang dan tak mampu berbuat apa pun selain berhenti dan menatap, bahkan ketika sang tokoh perempuan mengalami kekerasan seksual. NAY (2015) bercerita tentang seorang wanita yang panik dan marah ketika menyadari dirinya hamil dan pasangannya tak mau bertanggung jawab. Sepanjang perjalanan di dalam mobil ia berdialog dengan dirinya sendiri karena orang-orang di luar hidupnya tak mampu membantunya sedikit pun. Saat dirilis di bioskop layar utama Indonesia selama beberapa hari, film ini sempat mengguncang jagat film Indonesia, karena dengan sadar ia ‘mencuri’ cara yang pernah dipakai film lain untuk menceritakan ceritanya sendiri. Film NAY memenangkan penghargaan NETPAC Award di festival kami pada tahun 2015 lalu. hUSh adalah film kolaborasi pertamanya dengan sutradara lain, diputar perdana sekaligus masuk dalam program kompetisi kami tahun ini. Film dengan gaya dokumenter ini begitu liar dalam menceritakan seorang perempuan dari Bali yang mengadu nasib di Jakarta sebagai penyanyi. Film ini seperti sedang menggugat stigma dan kultur kemasyarakatan Indonesia pada umumnya yang masih begitu merendahkan posisi perempuan.

Yang selalu membuat saya takjub, meski bergerak secara mandiri dan hampir selalu didukung oleh dana pribadi ataupun dana patungan, Djenar selalu berhasil membuat orang lain ‘mendengar’ suaranya, suka maupun tidak. Tujuannya pasti, secara politis ia memberi ruang dan tempat yang pantas dan semestinya untuk suara-suara perempuan yang tertindas dan tersingkirkan di dalam karya-karyanya.

Merujuk kembali pertanyaan-pertanyaan di atas, jadi ada berapa banyak perempuan seperti Djenar Maesa Ayu?

Ismail Basbeth

Djenar Maesa Ayu Strikes Back

 

How many female filmmakers are there in Indonesia? To what extent do they hold the key roles within the A-team, as a director, producer, writer, camera person, director of photography, and/or other positions? Yes, we will be surprised as realizing that there is only a small number of female doing their works in Indonesian cinema. While not surprisingly, the same thing goes in the international world of cinema; it seems to suggest that cinema only belongs to male. Should you not believe, try to recall how many females have won the accomplishment as favorite director? There are, of course, many, but I am sure that you all know what I mean.

Djenar Maesa Ayu becomes special not merely due to her being a female. She is so strong and distinct, open and independent; and the most prominent thing is that she dares to be ‘naked’ and open herself publicly through her works. No, I am not addressing the state of being nude. I want to say that she is gallant to open herself as wide as possible, to explore it that far, that we almost always feel certain that her characters and narratives being told through her short stories, novels, and films are the fruits of her very own life, personality, and of her experiences that vary and wind, particularly around the injustices she and the people surrounding her encounter. Those are, at the very least, the impression and comprehension I acquired by enjoying her works and by slightly knowing her in person.

This year, we are fortunate to have the chance to screen the four films she made within the Focus program. Djenar initiated her career as the producer, writer, and director of the film Mereka Bilang, Saya Monyet, an adaptation of her short stories entitled the same. While her second and third films, despite being titled with the same titles of her short stories, SAIA and NAY, are not adaptations, but likely resemble an autobiography of her own life being filmed. The fourth film, hUSh, is not based on any short stories and is a mockumentary work directed in collaboration with Kan Lume, an independent director from Singapore. It is fascinating, isn’t it?

Yes, she adopted and adapted the stories of her life into writings and films. These two media are completely different in terms of rites and treatments, in terms of distribution and consumption pattern; nevertheless, with low-budget and independent manners, Djenar is capable of making her works prominent and heard. Mereka Bilang, Saya Monyet (2008), telling a story of a writer encountering sexual harassment in her childhood, has been appreciated in many international film festivals, namely Singapore International Film Festival, Tallinn Black Nights Film Festival, and Asian Hot Shot Film Festival. Despite being not quite successful commercially in Indonesia, the film won Penulis Adaptasi Terbaik (Best Adaptation Writer), Pemeran Utama Wanita Terbaik (Best Actress), and Pemeran Pembantu Wanita Terbaik (Best Female Supporting Actor) in Festival Film Indonesia 2009. SAIA (2009) is the screened version of an anthology of short stories under the same title, narrating a very personal and audacious sexual adventure. Spectators are confronted with a long event and could do nothing but stop and stare at it, even when a female character encounters sexual violence. NAY (2015) portrays a woman who gets panic and upset after figuring out that she is pregnant while her mate does not want to be responsible for it. Along her journey in a car, she has a conversation with herself since no one else can help her. At its release time in Indonesian primary cinema screens for several days, the film shook Indonesian cinema; the reason is that she consciously ‘stole’ a style that has been utilized in another film to narrate her own story. NAY achieved NETPAC Award in our festival last year. hUSh is her first collaboration project with another director; it will premiere and compete in our program for the first time this year. A film with documentary style, it is wildly telling a story of a woman from Bali trying her fortune to be a singer in Jakarta. The film is likely challenging Indonesian common society’s stigma and culture that still position female at a lower level.

What constantly amazes me is that even though she moves independently and is mostly self- or crowd-funded, Djenar always manages to make other people ‘listen to’ her voice, notwithstanding they like it or not. Her goal is certain, politically she is creating a worthy space for the voices of oppressed and marginalized women within her works.

Referring back to the questions I posed in the beginning, how many women resembling Djenar Maesa Ayu are there?

Ismail Basbeth

hUSh

Djenar Maesa Ayu & Kan Lume/90 minutes/2016/Indonesia/Fiction

Mereka Bilang, Saya Monyet!

Djenar Maesa Ayu/90 minutes/2008/Indonesia/Fiction

Nay

Djenar Maesa Ayu/80 minutes/2015/Indonesia/Fiction

SAIA

Djenar Maesa Ayu/80 minutes/2009/Indonesia/Fiction