Japanese Experimental and Documentary

Explore Contemporary Cinema in Japan

 

Program ini menampilkan 3 program dengan 4 film kontemporer terkenal di Jepang. Program-program ini terbuka untuk penonton umum. Pada saat yang bersamaan, mereka menanyakan pertanyaan dasar: Apa itu film? Apa itu sinematik? Apa itu kenyataan?

Gui aiuoe:S – A Stone from Another Mountain to Polish Your Own Stone karya Go Shibata adalah salah satu film paling tak biasa dan eksperimental dalam beberapa dekade terakhir ini. Shibata ,yang juga memainkan karakter utama berjanggut lebat, menyutradarai film seperti seorang musisi yang sedang menggubah lagu. Gui aiuoe:S adalah film dokumenter eksperimental tentang sebuah perjalanan, dengan kru film sebagai karakternya. Semua orang yang mereka temui selama perjalanan adalah warga lokal. dan semua yang terekam dalam film, termasuk cerita-cerita yang dikisahkan adalah apa yang sungguh terjadi. Ini adalah sebuah film dokumenter yang melampaui dunia film, melangkah mendekat ke dunia nyata, kemudian dicampur dengan bumbu fiksi; maka terciptalah sebuah film dengan rasa yang baru.

Beberapa sineas mencoba menggabungkan beberapa elemen-elemen yang berada di luar film untuk mengembangkan kemungkinan baru dalam film. Film dokumenter minimalis karya Sho Miyake, The Cockpit berfokus pada musisi hip-hop Jepang yang sedang membuat lagu baru sembari bermain dan berimprovisasi dalam suasana yang santai. Mereka menciptakan musik di sebuah ruangan kecil. Miyake memutuskan untuk memilih rasio framing yang paling klasikal, 1:1.33, untuk menunjukkan seberapa dekatnya mereka. Film ini menyajikan kombinasi apik dari tradisi perfilman dan kultur pop.

Touching The Skin of Eeriness karya Ryusuke Hamaguchi mengadopsi sebuah tarian kontemporer. Film ini menggambarkan interaksi fisik aktor-aktor dalam satu sesi pelajaran tari dan menyajikan sensasi ketegangan yang istimewa. Yang kemudian harus diperhatikan adalah rentetan kejadian aneh yang terjadi di café. Cara Hamaguchi memasukkan improvisasi dialog ke dalam adegan-adegan yang disutradarainya dengan halus mengekspos kerentanan tubuh para aktor, dan tiba-tiba nampaklah bahwa kenyataan sinematik adalah sesuatu yang sangat rapuh. Di sisi lain, Anda akan, pada saat yang bersamaan, menemukan bahwa tubuh aktor hanya nyata di dalam film.

Bangkok Nites karya Katsuya Tomita menggambarkan berbagai karakteristik dari orang yang hidup di provinsi-provinsi megapolis di dekat perbatasan Laos sudut timur laut Thailand yang terus tumbuh. Meski film ini adalah sebuah karya fiksi penuh, sebagian besar karakternya diperankan oleh orang-orang lokal yang bukan merupakan aktor profesional. Film ini dibuat oleh Kuzoku, sebuah kelompok independen beranggotakan sineas-sineas yang dijalankan oleh Tomita. Sebelumnya mereka telah menghabiskan beberapa tahun untuk menjalin kedekatan dengan masyarakat lokal dan menentukan posisi mereka di dalam cerita dengan cermat. Oleh karena itu, cara mengambilan gambar mereka sedikit mirip dengan yang dilakukan antropolog budaya. Mereka sukses mengintegrasikan sebuah sudut pandang unik. Sineas-sineas yang membuat film ini menyadari adanya luka yang ditorehkan oleh kolonialisme, sama seperti yang dilakukan oleh mantan prajurit Tentara Pertahanan Jepang di dalam film.

Film-film ini diproduksi, disutradarai, dan didistribusikan secara independen oleh para sineas Kuzoku. Satu hal yang menjadi wajar di antara mereka adalah kedekatan yang tidak hanya terjalin di dalam film tetapi juga di antara kru dan para aktor. Penggunaan kamera film dan peralatan digital kecil lainnya mungkin menjadi satu hal yang dapat menghapuskan sekat, sebuah metode yang sama dengan yang digunakan oleh sineas dokumenter yang terlatih. Sebuah cara baru pembuatan film telah tercipta.

Eijun Sugihara 

Jelajahi Film Kontemporer di Jepang

 

This program introduces 3 programs with 4 contemporary films that are prominent in Japan nowadays. They are open to any kind of audience. At the same time, they ask fundamental questions, what is cinema, what is cinematic and what is real?

Go Shibata’s Gui aiuoe:S – A Stone from Another Mountain to Polish Your Own Stone is one of the most outlandish and experimental movie over the last decade. The director, Shibata, who is performing a main character with a rich beard, directs the film like musicians improvise songs. Gui aiuoe:S is an experimental road documentary about their journey, with the film crews as the characters. All the characters they come across during the journey are all real people, and all the things captured on the film, including the stories told, are what actually happened there for real. A documentary, which extends beyond the realm of a movie and approaches the real world, is blended with fiction; a film is accomplished with a completely new feel.

Some filmmakers try to integrate some elements other than cinema to develop new possibility of cinema. Sho Miyake’s minimal documentary The Cockpit focuses on Japanese hip-hop musicians creating a new track while playing and improvising in a relaxed atmosphere. They make music in a tiny room. The Director Miyake decided to choose the most classical framing ratio, 1:1.33, to show how close they are. This film presents a beautiful mixture of a cinematic tradition and a pop culture.

Ryusuke Hamaguchi’s Touching The Skin of Eeriness adopts a contemporary dance. It depicts the physical interactions between actors within dance lessons, and provides a special feeling of tension. What we must see in the film is a strange sequence at a café. Hamaguchi’s way of Inserting an improvised dialogue in scenes directed delicately exposes the actors’ vulnerable bodies. It suddenly occurs that cinematic reality is such a fragile thing. On the other hand, you will, at the same time, discover that the actors’ bodies are real only inside the film.

Katsuya Tomita’s Bangkok Nites describes various characteristics of people living in an endlessly expanding megalopolis and northeastern provinces in Thailand, near the Laotian border. The film is a total fiction, however, most of the characters are performed by local people that are not professional actors. The film is presented by Kuzoku, an independent group of filmmakers organized by Tomita. Together, they had spent several years in advance to shoot the film to build a close relationship with local people who live there and put them properly in the story. Therefore, their way of filming is partly similar to a cultural anthropologist’s one. They were successful in integrating an irreplaceable point of view. The Filmmakers became aware of the scars left by colonialism, just like an ex-soldier of the Japanese Defense Army does in the film.

These films are produced, directed and distributed independently by the filmmakers themselves. What is common among them is the close relationship built, not only in the film, but also between those who shoot a film and those who are shot. The utilization of a light-weight movie camera and other digital equipments may be the one removing the wall, a method just like what a well-trained documentary filmmaker uses. A new way of filmmaking way is emerging.

Eijun Sugihara

Bangkok Nites

Katsuya Tomita/183 min/2016/Japan, France, Thailand, Laos/Hybrid

The Cockpit

Miyake Sho/64 min/2014/Japan/Hybrid

Touching The Skin Of Eeriness

Ryusuke Hamaguchi/54min/2013/Hybrid