LAYAR KLASIK

PROGRAM'S NOTE: LAYAR KLASIK
One of the blessings as well as the curse for us in Asia is tradition. It is a blessing that in Asia we live with such diverse, beautiful and inspiring tradition. When Asia came face to face with external values, tradition can become a fence that repels fusion and potentials of liberation. At the same time, values from the outside can alienate tradition, fixing it into a threat.

Cinema is the arena to appreciate, preserve as well as to propose critique on tradition. As the innovation of the 20th century, its nature is to be the champion of modernity. Thus, how do Asian
filmmakers cast tradition into film, treating this blessing and curse while building up a new tradition within this form?

Four films in the LAYAR Klasik program of this edition have different strategies.

In the latest, most contemporary work, Letter to an Angel from Garin Nugroho, tradition and modernity clash and coexist on the land of Sumba. In this film, recorded tradition and elements of engineered modernity actually are placed side by side and even intertwining, resulting in a critique against a time where power is exercised with blatant violence
.
Whereas Cherd Songsri, in his search to find the place of Thai local culture in film, set a Romeo-and-Juliet like story in a rural background and work with local music and costume within the logic of cinema. At the same time he is questioning the hirarchy of rural-urban dichotomy and the disempowered position of the rural folks vis a vis city folks.

In Ugetsu, Kenji Mizoguchi constructs a fantastic world set in 16th century Japan, using local traditional element especially in artistic sense to reveal the atrocities of war and greed that robs people of their humanity.

And finally, Tan Sing Hwat represents one filmmaker who strove to translate popular theater into
cinema, placing the tradition of moral tales in a new form using a cosmopolitan story from the 1001 Nights series which is familiar to many people.
The choice to place local artistic tradition in film is not without its risks. At least in the case of Letter to An Angel and Ugetsu, this decision have caused alienation. These films were disregarded at home while being praised abroad.

This program is an experiment of perspective. After several decades after these films were made, do these works still seem ’exotic’ in Asia, their own land? Or can we now see them as a part of a normal quilt of Asian civilization and therefore is close to our daily life where we proudly wear batik, eat sushi and watch silat action being incorporated into an international action flick?

These four films bring us the fact that bringing Asian tradition into a cosmopolitan world arena is
always an exciting challenge to take up. Enjoy experiencing and sharing the heritage of Asian cinema!

 

Lisabona Rahman

CATATAN PROGRAM: LAYAR KLASIK

Salah satu berkah sekaligus juga kutukan bagi kita di Asia adalah tradisi. Adalah berkah bahwa di daratan Asia kita hidup dengan tradisi yang begitu beragam, indah dan menginspirasi. Ketika Asia berhadapan dengan nilai-nilai yang datang dari luar, tradisi bisa menjelma menjadi pagar yang menolak perpaduan dan potensi pembebasan. Di saat yang sama, nilai yang datang dari luar juga bisa mengasingkan tradisi dan membekukannya menjadi ancaman.

Sinema, adalah gelanggang untuk menghargai, melestarikan sekaligus mengajukan kritik atas tradisi. Sebagai inovasi menjelang abad ke-20, fitrahnya adalah menjadi ujung tombak modernitas. Lantas, bagaimana pelaku sinema Asia menjelmakan tradisi ke dalam film, menyiasati berkah serta kutukan ini dan membangun tradisi baru di dalamnya?

Empat film dalam program LAYAR Klasik kali ini mengajukan taktik yang berbeda.

Dimulai dari karya yang paling mutakhir, Surat untuk Bidadari karya Garin Nugroho, tradisi dan modernitas bertumbukan di tanah Sumba hidup bersisian. Di film ini tradisi yang direkam dan elemen modernitas rekaan betul-betul diletakkan bersisian sulam menyulam, menghasilkan suatu kritik terhadap zaman di mana kekuasaan diterapkan dengan penuh kekerasan gamblang.

Sementara Cherd Songsri, dalam pencariannya untuk menemukan tempat budaya lokal Thailand di dalam film, menempatkan kisah Romeo dan Juliet ke latar pedesaan dan dengan demikian mengolah musik dan kostum lokal dalam logika sinema. Pada saat yang sama ia juga mempertanyakan hirarki desa-kota dan posisi rakyat pedesaan yang lebih kurang berdaya dibandingkan masyarakat kota.

Di dalam Ugetsu, Kenji Mizoguchi membangun dunia fantasi berlatar Jepang abad ke-16, menggunakan elemen tradisi lokal terutama dalam tata artistik untuk menampakkan kekejaman
perang dan keserakahan yang merenggut kemanusiaan.

Terakhir, Tan Sing Hwat mewakili salah satu contoh upaya pembuat film yang mengalih-bahasakan teater populer ke dalam sinema, menempatkan tradisi kisah petuah ke dalam bentuk baru dan menggunakan kisah kosmopolitan yang sudah dikenal banyak orang dari rangkaian kisah 1001 Malam.

Pilihan untuk menempatkan tradisi kesenian setempat ke dalam film bukan tidak ada resikonya. Paling tidak dalam kasus Surat untuk Bidadari dan Ugetsu, keputusan ini berakibat keterasingan karena kedua film ini dipandang sebelah mata di tanah sendiri sementara dipuja di negeri orang.

Program kali ini adalah semacam eksperimen perspektif. Apakah setelah berpuluh tahun sejak film-film ini dibuat, karya ini masih terasa asing atau ’eksotis’ di tanahnya sendiri yaitu Asia? Ataukah sekarang kita bisa melihatnya sebagai bagian jamak dari tambal sulam kehidupan peradaban Asia dan karenanya amat dekat dengan keadaan keseharian kita kini yang membanggakan batik, makan sushi dan nonton laga silat dikemas menjadi film aksi dunia?

Empat film ini membawa kita melihat bahwa menempatkan tradisi Asia ke kancah kosmopolitan dunia selalu menjadi tantangan yang asyik untuk dihadapi. Selamat menikmati dan berbagi warisan sinema Asia!

 

Lisabona Rahman

Aladin

Tan Sing Hwat/ 88 Minutes/ 1953/ Indonesia/ Fiction

Surat untuk Bidadari

Garin Nugroho/ 118 Minutes/ 1994/ Indonesia/ Fiction

Plae Kao (The Scar)

Cherd Songsri/ 133 Minutes/ 1977/ Thailand/ Fiction

Ugetsu Monogatari (Ugetsu)

Kenji Mizoguchi/ 97 Minutes/ 1953/ Japan/ Fiction