Discovering New Talents

Thursday, December 1, 2016 | 12:30 – 14:30 | Ruang Seminar TBY

Gertjan Zuilhof

Gertjan Zuilhof

Speaker

Gertjan Zuilhof lahir di tahun 1955, saat musik rock and roll mulai melesat. Ia memulai karirnya dengan menggambar kartun untuk majalah SMA dan kemungkinan akan mengakhiri kariernya seperti itu juga. Ia bekerja sebagai sejarawan seni, kritikus film dan programer festival film.

Untuk Rotterdam Festival, ia mengerjakan beberapa proyek di Asia dan Afrika, seperti Forget Africa. Selain membuat beberapa program film, ia juga mengembangkan pamerannya sendiri. Pameran terakhirny adalah hasil kerja sama dengan seniman dan sutradara dari Burma/Myanmar.

Hampir sepanjang hidupnya, Zuilhof bekerja untuk International Film Festival Rotterdam, tetapi saat ini ia juga menjadi programer dan kurator independen.

Sebagai programer untuk Asia Tenggara, ia telah mengunjungi Indonesia beberapa kali dalam satu dasawarsa terakhir.

Ia gemar membuat gambar-gambar yang aneh. Pada tahun 2012, Ia memamerkan beberapa gambarnya di Rumata Art Space, Makassar. Saat ini di Yogyakarta, ia tengah mempersiapkan pameran keduanya di Indonesia yang akan memamerkan gambar-gambarnya yang konyol.

__________________________

Gertjan Zuilhof was born 1955, the year when rock and roll music really took off. He started his career by drawing cartoons for high school magazine and maybe somehow he will end his career by drawing cartoons too. He worked as an art historian, film critic and film festival programmer.

For the Rotterdam Festival, he did several projects in Asia and Africa like Forget Africa. Apart from making film programs, he developed his own exhibition. His most recent one was with artists and filmmakers from Burma/Myanmar.

Zuilhof worked for the International Film Festival Rotterdam for almost a lifetime, but is an independent programmer and curator at the moment.

As a programmer for South East Asia he visited Indonesia many times in the last decade.
He loves to make strange drawings. In 2012 he showed a number of them in Rumata Art Space, Makassar. He is now in Yogyakarta, preparing his second Indonesian exhibition that will show his silly drawings.

Isabelle Glachant

Isabelle Glachant

Speaker

Isabelle Glachant memulai kariernya sebagai jurnalis untuk stasiun TV Perancis, Canal +, dan mulai mengerjakan film Cina pada tahun 2004 sebagai Produser Eksekutif untuk Shanghai Dreams (Wang Xiaoshuai, 2005, Jury Price, Cannes). Sebagai Produser Pendamping untuk Lost in Beijing (LI Yu, 2007, Competition Berlinale), City of Life and Death (Lu Chuan, TIFF 2009), Produser untuk Love and Bruises (Lou Ye, TIFF 2011), Red Amnesia (Wang Xiaoshuai, 2014, Competition Venice), ia menjadi produser film seperti In Love We Trust (Wang Xiaoshuai, 2008, Silver Bear Best Script, Berlin), dan 11 Flowers (WANG Xiaoshuai, 2011, produksi kolaborasi Perancis-Tiongkok resmi pertama, TIFF 2011) Sebagai CEO untuk Chinese Shadows, perusahaan yang berfokus pada kolaborasi produksi antara Tiongkok dan Eropa, ia baru-baru ini memprakarsai sebuah perusahaan Penjualan Internasional, Asian Shadows, yang berfokus pada distribusi film-film Asia, mewakili film seperti Siti karya Eddie CAHYONO (Telluride, 2015), atau Paths of the Soul karya Zhang Yang (TIFF 2015). Ditunjuk sebagai Knight of the Art and Letters oleh Kementerian Budaya Perancis, Glachant juga menjadi perwakilan Cina dari Unifrance Films sejak tahun 2012

__________________________

Isabelle Glachant started as journalist for French TV station Canal + and began working on Chinese films in 2004 as Executive Producer of Shanghai Dreams (Wang Xiaoshuai, 2005, Jury Price, Cannes). Associate Producer of Lost in Beijing (Li Yu, 2007, Competition Berlinale), City of Life and Death (Lu Chuan, TIFF 2009), Co-Producer of Love and Bruises (Lou Ye, TIFF 2011), Red Amnesia (Wang Xiaoshuai, 2014, Competition Venice), she produced films like In Love
We Trust (Wang Xiaoshuai, 2008, Silver Bear Best Script, Berlin) and 11 Flowers (Wang Xiaoshuai, 2011, first official French-Chinese coproduction, TIFF 2011). CEO of CHINESE SHADOWS, a company that focuses on Coproduction between China and Europe. She recently started an International Sales company, ASIAN SHADOWS, that focuses on the distribution of Asian films, representing films

like Siti by Eddie Cahyono (Telluride 2015), or Paths of the Soul by Zhang Yang (TIFF 2015). Made Knight of the Art and Letters by the French Ministry of Culture, Glachant is also, since 2012, UNIFRANCE FILMS’ Greater China representative.

Park Sungho

Park Sungho

Speaker

Lahir di Seoul, Korea Selatan, tahun 1977. Belajar pascaproduksi dan teori film di Jurusan Sinema, Universitas Chung-Ang. Bekerja di Busan International Film Festival selama satu dasawarsa untuk membantu mempromosikan sinema Asia. Dari tahun 2008 hingga 2013 bekerja di Asian Film Academy untuk menemukan talenta-talenta baru. Setelah melakukan perjalanan selama dua tahun ke 40 negara sebagai wisatawan beransel (backpacker), sejak 2014 menetap di Kamboja untuk membantu para pembuat film di sana.

__________________________

Born in Seoul, South Korea in 1977. Studied post-production and film theory at Cinema department at Chung-Ang University. Worked at Busan International Film Festival for a decade to help promoting Asian cinema. From 2008 to 2013, worked at Asian Film Academy to discover new talents. After traveling around 40 countries for two years as a backpacker, he has settled in Cambodia to support the filmmakers in the region since 2014.

Tito Imanda

Tito Imanda

Speaker

Tito Imanda adalah pembuat film, akademisi, dan antropolog. Tesisnya membahas tentang industri film di Indonesia. Ia menyelesaikan gelar masternya di Jurusan Media, Budaya, dan Komunikasi, New York University pada tahun 2007. Setelah kembali ke Jakarta, ia aktif terlibat dalam kelompok kerja untuk perbaikan kondisi ekonomi politik film Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir dia lebih sering mengajar dan menjalankan pekerjaan manajerial sebagai ketua Sekolah Media dan Komunikasi di Binus International. Pada tahun 2010, ia telah membangun program studi Film yang merupakan sekolah film kedua di Indonesia yang menawarkan gelar sarjana. Saat ini dia melewatkan sebagian besar waktunya di Yogyakarta dan London. Ia sedang menyelesaikan program doktoral di Jurusan Media dan Komunikasi, Goldsmiths, University of London. Topik tesisnya adalah pembuatan film kolaborasi dengan sekelompok wayang orang dari Gunung Merapi.

__________________________

Tito Imanda is a filmmaker, scholar, and anthropologist. His master thesis is about the political economy of Indonesian film industry, at the Department of Media, Culture, and Communication, New York University in 2007. Coming back to Jakarta, he has been actively invovled in the working group dedicated to improve the political economy condition of Indonesian cinema. In several recent years, his activities include teaching and conducting managerial work as the chairman of School of Media and Communication in Binus International. He then founded the department of Film in 2010; which was the second film school in Indonesia offering bachelor degree. At the moment, he mostly stays in Yogyakarta and London. He is completing his doctoral program in the Department of Media and Communication, Goldsmiths, University of London. The topic of his thesis is collaborative filmmaking with a group of wayang orang (human puppetry) from Mount Merapi.