Tuesday, December 5, 2017 | 13.00 – 15.00 | PERPUSTAKAAN PUSAT UGM

David Hanan

David Hanan

Speaker

After teaching literature at Monash University, and taking a Postgraduate Diploma in Film Studies at University College London, he pioneered Film Studies courses at Monash University. In the 1980s, he was the honorary company secretary of the Melbourne International Film Festival; and as their Southeast Asian consultant, he set up links between Indonesian filmmakers and Australian film festivals and filmmakers. He was the editor of Film in South East Asia: Views from the Region (Hanoi: Vietnam Film Institute & SEAPAVAA, 2001). He has successfully supervised nine PhDs, mainly on Asian cinemas (Indian, Chinese, and Southeast Asian); done translations for subtitles for a dozen Indonesian films; initiated film preservation projects; and is currently the curator of “Between Three World DVD” based at Monash, that distributes Indonesian films internationally. In 2000, he introduced a unit in video production at Monash.

 

Setelah menjadi pengajar sastra di Monash University, dan meneruskan kuliah pascasarjana jurusan Kajian Film di University College London, ia mempelopori jurusan Kajian Film di Monash University. Tahun 1980, ia menjadi sekretaris kehormatan pada Melbourne International Film Festival; dan sebagai konsultan untuk region Asia Tenggara, ia menghubungkan para sineas Indonesia dengan festival film dan sineas di Australian. Ia adalah penyunting buku Film in South East Asia: Views from the Region (Hanoi: Vietnam Film Institute & SEAPAVAA, 2001). David Hanan telah membimbing sembilan mahasiswa  PhD, yang utamanya membuat penelitian mengenai perfilman Asia (India, Cina, dan Asia Tenggara), menerjemahkan subtitle untuk banyak film Indonesia, memprakarsai proyek pemeliharaan film, dan saat ini dipercaya sebagai kurator untuk “Between Three World DVD” di Monash, yang mendistribusikan film Indonesia di kancah internasional. Tahun 2000, ia memperkenalkan sebuah unit produksi video di Monash.

 

Lisabona Rahman

Lisabona Rahman

Speaker

Lisabona Rahman started out as a film critic, writing for The Jakarta Post’s Sunday edition between 2005-2007. She then went to work as the founder and programmer of Indonesia’s first dedicated programmed cinema, kineforum Jakarta Arts Council, between 2006-2011. Since 2011 she has been specializing in moving image preservation and curatorial.

 

Lisabona Rahman memulai kariernya sebagai kritikus film untuk The Jakarta Post edisi Minggu sejak tahun 2005 hingga 2007. Selanjutnya ia mendirikan dan menjadi programmer di kineforum Dewan Kesenian Jakarta, bioskop Indonesia pertama yang menawarkan beragam program seputar film, sejak tahun 2006 hingga 2011. Sejak tahun 2011, ia mengkhususkan diri untuk kerja preservasi dan kurasi gambar bergerak.

 

Eko Prasetyo

Eko Prasetyo

Speaker

Eko Prasetyo is the Program Director of Center for Law and Human Rights Studies (PUSHAM) Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Born in Pacitan in 1972, he mostly spends his time in Resist Book, an independent publisher based in Yogyakarta. A person who is famous with his book Orang Misikin Dilarang Sekolah! founded the Social Movement Institute (SMI), a movement to support marginalized labours, farmers, fishermen, and religious communities. With SMI, Eko struggles to open up people’s mind especially college students to be more critical on the social issues among the society. Eko tries to initiate an uprising through his writing. He writes in the same spirit as the ones of Wiji Thukul’s: striking, threatening, and “cornering”. His other works are Orang Kaya di Negeri Miskin, Assalamualaikum: Islam Itu Agama Perlawanan!, and Pengumuman: Tidak ada Sekolah Murah!. His writing style is considered light and often comical; he presents criticism and provocative persuasion to eradicate injustice. In his works, he never complicates the theory as he believes that in a rebellious action, influencing the readers is the most effective effort.

 

Eko Prasetyo adalah Direktur Program Pusat Studi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PUSHAM) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Pria kelahiran Pacitan tahun 1972 ini banyak menghabiskan waktunya di Resist Book, penerbit buku indie di Yogyakarta. Sosok yang terkenal dengan bukunya yang berjudul Orang Misikin Dilarang Sekolah! ini mendirikan Social Movement Institute (SMI), sebuah pergerakan yang membela masyarakat buruh, tani, nelayan, serta religius yang termarjinalkan. Lewat SMI, Eko berupaya menyadarkan masyarakat terutama mahasiswa agar kritis terhadap isu-isu sosial yang ada di lingkungan masyarakat. Eko berusaha melakukan pemberontakan dengan menulis. Ia memilih menulis dengan semangat serupa Wiji Thukul: memukul, mengancam dan menyudutkan. Karya-karya lainnya adalah Orang Kaya di Negeri Miskin, Assalamualaikum: Islam Itu Agama Perlawanan!, dan Pengumuman: Tidak Ada Sekolah Murah!. Gaya menulis Eko sangat ringan dan sering kali komikal; ia menghadirkan kritik pun ajakan yang provokatif untuk melawan ketidakadilan dalam kehidupan. Dalam karya-karyanya ia tak banyak membawa teori rumit, sebab menurutnya dalam sebuah sikap perlawanan, dibutuhkan upaya untuk memengaruhi sikap para pembaca.

 

Budi Irawanto

Budi Irawanto

Speaker

Budi Irawanto is a Senior Lecturer at the Department of Communication Studies, Faculty of Social and Political Sciences, Gadjah Mada University. He completed his research on cultural politics of contemporary Indonesian and Malaysian cinema for his PhD program in the Department of Southeast Asian Studies at the National University of Singapore in 2015. He wrote two books on Indonesian cinema and contributed articles to the Asian Cinema journal and an edited volume of Asian Documentary Today (2012) published by Asian Network Documentary (AND) and Busan International Film Festival. Since 2006, he has served as the director of Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), a premier Asian film festival in Indonesia. He also served as NETPAC jury president at the Berlin International Film Festival and Cinemalaya (Philippines Independent Film Festival), president jury at the Yogyakarta Documentary Film Festival (FFD), jury member at the ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia and the DMZ International Documentary Film Festival (Korea).

 

Budi Irawanto adalah seorang Dosen Senior di Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada. Ia menyelesaikan penelitiannya tentang politik budaya perfilman kontemporer di Indonesia dan Malaysia, untuk program PhD-nya di Jurusan Kajian Asia Tenggara di National University of Singapore pada tahun 2015. Ia menulis dua buku tentang perfilman Indonesia dan menyumbangkan artikel untuk jurnal Asian Cinema dan untuk satu edisi suntingan Asian Documentary Today (2012) yang diterbitkan oleh Asian Network Documentary (AND) dan Busan International Film Festival. Sejak tahun 2006, ia menjabat sebagai direktur Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), sebuah festival film Asia terdepan di Indonesia. Ia juga menjabat sebagai presiden juri NETPAC di Berlin International Film Festival dan Cinemalaya (Festival Film Independen Filipina), presiden juri di Festival Film Dokumenter (FFD) Yogyakarta, anggota juri di ChopShots Documentary Film Festival Southeast Asia, dan DMZ International Documentary Film Festival (Korea).