Asian Indigenous Film

Fri, 30 November, 10.00 | PENDOPO AJIYASA JNM

SPEAKERS:

GERTJAN ZUILHOF

GERTJAN ZUILHOF

Speaker

I was born in 1955, the year when the latest Dutch ship sailed back from Indonesia to Holland.
I have been a programmer all my life from the moment they asked me, as a first year student, to volunteer in the local art house cinema.

I have been a program director at the At the Rotterdam film festival for a long time, but at the moment I am contributing as a free programmer at various festivals in Beijing, Taipei, Georgetown and even Yogyakarta.
My travels bring me all over Asia, but occasionally also to Africa.

I also make drawings. Silly drawings. Since I want to avoid the word artist at all time, I prefer the word drawer. Not very commonly used, but it is English anyway.

The first time I visited Jogja, the ever-smiling Joseph Anggi Noen was running a program and Garin Nugroho asked me to talk to his students in his house at 7 AM with them still in pajamas. It was probably the third Jogja festival in 2008.

In recent years I visit Jogja more frequently with the highlight in 2016 when they did not stop me to draw graffitis at Taman Budaya Societet Militair building.
And perhaps I will come again next year.

Saya lahir pada tahun 1955, ketika kapal Belanda terakhir kembali ke Belanda dari Indonesia. Sepanjang hidup saya, saya berkecimpung di dunia programming. Semua bermula ketika saya, sebagai mahasiswa baru, ditawarkan untuk menjadi sukarelawan rumah kreatif dan sinema setempat.

Saya telah menjadi pengarah acara di festival film Rotterdam dalam waktu yang lama. Namun, saat ini, saya berkontribusi sebagai pengarah acara lepas untuk berbagai festival di Beijing, Taipei, Georgetown, dan Yogyakarta.

Perjalanan saya membawa saya keliling Asia, hingga ke Afrika.

Saya juga senang menggambar. Saya tidak mau dipanggil sebagai seorang seniman, saya lebih senang disebut sebagai penggambar.

Pertama kali saya mengunjungi Jogja adalah ketika Joseph Anggi Noen yang murah senyum mengadakan sebuah acara dan Garin Nugroho mengajak saya untuk berbincang-bincang dengan murid-muridnya di rumahnya pukul 7 pagi dengan mereka yang masih mengenakan baju tidur. Kala itu merupakan festival di Jogja untuk ketiga kalinya pada tahun 2008.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya lebih sering datang ke Jogja, di mana yang paling berkesan adalah pada tahun 2016, ketika mereka memperbolehkan saya menggambar mural di gedung Taman Budaya Societet Militair.

Kemungkinan besar, saya akan kembali lagi ke Jogja tahun depan.

KAMILA ANDINI

KAMILA ANDINI

Speaker

Kamila Andini was born in Jakarta, 6 May 1986. She studied Sociology and Media Arts in Deakin University, Melbourne, Australia. Her concerns on culture, woman empowerment, and environmental issue lead her passion to tell stories with the medium of film. In 2011, she released her debut feature film The Mirror Never Lies, which portraits the life of sea wanderer in Indonesian ocean. The film has traveled through more than 30 film festivals including Busan, Edinburgh, Seattle, and Berlinale International Film Festival, and achieved more than 15 awards around the festival circuits. Her two short films, Following Diana and Memoria, potrait woman issues both in the urban area of Jakarta and in post-conflict area of Timor Leste. She is currently in the post-production stage for her second feature film The Seen and Unseen, which was selected at the Cinefondation Residence program from Cannes Film Festival.

Kamila Andini lahir di Jakarta, 6 Mei 1986. Ia menempuh pendidikan Sosiologi dan Seni Media di Deakin University, Melbourne, Australia. Perhatiannya akan kebudayaan, pemberdayaan perempuan, dan isu-isu lingkungan membawa passion-nya untuk berbagi cerita lewat media film. Pada tahun 2011, ia merilis debut film feature-nya The Mirror Never Lies, yang menceritakan kehidupan pengembara laut di Samudra Indonesia. Film ini telah mengunjungi lebih dari tiga puluh film festival, diantaranya Busan, Edinburgh, Seattle, dan Berlinale International Film Festival. Film ini juga telah meraih lebih dari lima belas penghargaan diberbagai festival. Dua film pendek Kamila, Following Diana and Memoria, menampilkan isu-isu yang berkaitan dengan perempuan baik di wilayah perkotaan seperti Jakarta maupun di wilayah paska-konflik seperti Timor Leste. Kamila sekarang sedang sibuk menggarap produksi tahap akhir dari film feature keduanya, The Seen and Unseen, yang telah terpilih di program Cinefondation Residence dari Cannes Film Festival.

TITO IMANDA

TITO IMANDA

Speaker

Tito Imanda is an anthropologist and a filmmaker. His master thesis from the Department of Media, Culture and Communication in New York University (2007), is about the political economy of the Indonesian film industry. In 2008-2013 he developed and managed a film school at a university in Jakarta. These days he is mostly in Yogyakarta and London, doing fieldwork for his PhD program at the Department of Media and Communication, Goldsmiths, University of London, with thesis topic: collaborative filmmaking with a wayang orang group from the foot of Mount Merapi, to reconsider the adaptation process from stage to screen, that happened in many places at the early cinema era.

Tito Imanda adalah seorang antropolog dan pembuat film. Tesis masternya di Departemen Media, Culture and Communication, New York University (2007) membahas faktor ekonomi politik industri film Indonesia. Tahun 2008-2013 dia membangun dan mengelola sebuah sekolah film di sebuah universitas di Jakarta. Saat ini dia melewatkan sebagian besar waktunya di Jogja dan London, sibuk menyelesaikan program doktor di Departemen Media and Communication, Goldsmiths, University of London. Tesis doktornya berfokus pada kolaborasi pembuatan film dengan kelompok wayang orang di kaki gunung Merapi, sebagai bagian dari pemahaman adaptasi orang panggung ke layar yang terjadi pada era awal kemunculan film di berbagai tempat di dunia.

MODERATOR:

NERFITA PRIMADEWI

NERFITA PRIMADEWI

Moderator

Nerfita Primadewi is a lecturer in Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Movie buffs from Yogyakarta probably are not that well-acquainted with her name, but Nerfita’s love in audio-visual art has begun since 1997 when she was still a student majoring in Television from ISI Yogyakarta.

Different from her colleagues, Nerfita Primadewi is more into art video and video installation. For all of her carrier, she has produced many works that have been exhibited internationally.

In between her activities as a lecturer, Nerfita Primadewi still spares her time to write. Complementary to her education background, most of her writings are articles about art and culture. Some of these articles have been published in Indonesia’s print medias.

Although she has a master degree in Art and Art Creation from ISI Yogyakarta, apparently Nerfita Primadewi is still not satisfied with herself. Currently, she is pursuing her doctoral degree in Art Studies in Graduate School of ISI Surakarta.

Nerfita Primadewi, seorang pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Namanya mungkin masih asing di telinga pecinta film Yogyakarta, namun kecintaan Nerfita di dunia seni audio-visual telah dimulai jauh semenjak tahun 1997, saat ia masih menjadi mahasiswi Program Studi Televisi di ISI Yogyakarta.

Berbeda dengan rekan-rekan sejawatnya, Nerfita Primadewi lebih banyak berkutat pada video art dan video instalasi. Sepanjang karirnya, Nerfita Primadewi telah melahirkan banyak karya dan telah dipamerkan hingga manca negara.

Di sela-sela kesibukannya sebagai dosen, Nerfita Primadewi masih menyempatkan diri untuk menulis. Tidak melenceng dari jalur pendidikannya, Nerfita sebagian besar menghasilkan artikel mengenai kesenian dan kebudayaan. Artikel-artikel tulisannya pun telah dimuat di beberapa media cetak Indonesia.

Menyandang gelar Magister Seni dalam bidang Penciptaan Seni dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, nampaknya tidak membuat Nerfita Primadewi cepat berpuas diri; saat ini Nerfita tengah menempuh program Doktoral Pengkajian Seni di Pascasarjana ISI Surakarta.