Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) bekerja sama dengan Majelis Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial (MP3IS) FIS UNY menggelar public lecture (kuliah umum) bertemakan “Oceanic Culture in Asian and Pacific Cinema” sekaligus peluncuran buku Laut Bercermin (The Mirror Never Lies): Sebuah Catatan dan Tafsir Film, Rabu (30/11/2016) pagi. Dilangsungkan di Ruang Ki Hadjar Dewantara Gedung Dekanat FIS UNY, kuliah umum ini sekaligus membuka rangkaian program Public Lecture yang akan berlanjut hingga Sabtu (3/12/2016). Public Lecture adalah program yang rutin diselenggarakan dan selalu ada di perhelatan JAFF tiap tahunnya dengan misi mengeksplorasi sisi intelektual dan menjadi wadah pengkajian film. Tahun ini, program Public Lecture menyambangi beberapa kampus di Yogyakarta, seperti UNY, UMY, UGM dan UAJY. Selain keempat universitas tersebut, Public Lecture juga diadakan di Ruang Seminar TBY dan Gedung Societet TBY.

Public Lecture pertama mengangkat tema “Oceanic Culture in Asian and Pacific Cinema” yang sejalan dengan tema JAFF tahun ini, yaitu “ISLANDSCAPE”. Hadir pada kuliah umum Ian Conrich dan Kamila Andini sebagai pembicara, serta Dyna Herlina yang berlaku sebagai moderator. Acara dibuka dengan sambutan dari Prof. Dr. Ajat Sudrajat, M.Ag., Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta dan peluncuran buku Laut Bercermin (The Mirror Never Lies): Sebuah Catatan dan Tafsir Film yang ditandai dengan penyerahan buku oleh Dyna Herlina selaku editor kepada Dekan FIS UNY. Setelah itu, kegiatan kuliah umum pun dimulai.

Ian Conrich didaulat menjadi pembicara pertama. Ian merupakan Guru Besar Madya di University of South Australia serta Dosen Budaya Film dan Visual di University of Derby. Mengawali presentasinya, Ian menjelaskan bahwa peta yang banyak beredar saat ini adalah Peta Kolonial; peta yang membagi daerah bekas jajahan menjadi beberapa bagian menurut negara penjajah dengan wilayah cakupan besar, seperti Inggris, Belanda, dan Spanyol. Peta ini berbeda dengan yang kita pelajari di bangku sekolah. Pada peta yang kita pahami dan selalu diajarkan di sekolah, Indonesia berada di tengah  dunia dan memiliki posisi yang sangat strategis, namun pada Peta Kolonial, Indonesia ada di bagian paling timur dan menempati posisi yang sama sekali tidak strategis. Ini tentu berkaitan dengan hasrat negara-negara besar untuk berada di tengah dan menjadi pusat dunia. Kejanggalan lain adalah tidak dimasukannya Indonesia sebagai salah satu negara kajian studi tentang negara-negara Pasifik, padahal jelas sekali jika Indonesia merupakan negara kepulauan dan dikelilingi oleh lautan. Di antara negara yang kerap menjadi kajian studi tentang Pasifik adalah Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, dan Jepang.

Beranjak ke pembicaraan mengenai film bertemakan daerah Pasifik, Ian bercerita bahwa kebanyakan film Pasifik bukanlah produksi penduduk lokal, melainkan buatan industri film Holywood. “Mereka bahkan belum pernah mengunjungi negara-negara Pasifik,” jelasnya. Film Pasifik buatan Holywood sering dikaitkan dengan eksotisme dan mitos-mitos. Ini disebabkan ketidakpahaman para pembuat film Holywood tentang kondisi sosio-kultural daerah yang mereka jadikan film. Sedangkan, tak banyak pembuat film lokal yang mengangkat nilai-nilai lokal. Banyak rintangan yang menyebabkan tak banyak film lokal yang bersedia mengangkat lokalitas mereka.

Lebih lanjut Ian menjelaskan tantangan-tantangan yang dihadapi sineas lokal dalam mengekspos cerita-cerita khas mereka. “Pembuat film lokal terutama mereka yang berusia muda penting untuk diberi kesempatan menarasikan cerita mereka sendiri. Namun adalah hal memalukan jika seseorang membuat film dan tak ada yang menonton. Festival film menjadi platform yang tepat untuk mempertemukan film dengan penonton,” terang Ian. Walau begitu, festival film memiliki batasannya sendiri. Festival film biasanya bersifat lokal dan menampilkan karya yang dekat dengan (daerah) mereka. Ia juga berargumen bahwa film yang bagus semestinya juga ditonton di luar festival (bioskop). Meski begitu, bioskop pun menawarkan tantangan baru bagi pembuat film sebab bukan urusan sederhana untuk membuat film kita diputar di bioskop. “Kebanyakan bioskop dimiliki oleh korporasi besar dan  mereka memiliki semacam keharusan untuk memutar sejumlah film Amerika di bioskop, atau jika mereka meyakini penonton menginginkan film Amerika, maka mereka akan menampilkan film Amerika. Ketika film Amerika mendominasi layar bioskop, maka permintaan film Amerika pun akan semakin lebih tinggi lagi dan kesempatan bagi pembuat film lokal semakin menipis.” Jika berbicara dalam konteks film Indonesia, bahasa menjadi tantangan lainnya. “Untuk dibawa pada audien lebih luas (di luar negeri), film Indonesia perlu melalui proses alih bahasa terlebih dahulu. Film yang tadinya merupakan film arus utama di negaranya, di luar negeri tak lagi demikian.

Perfilman Selandia Baru, negara asal Ian, menghadapi hal sebaliknya. Film-film Selandia Baru mengahadapi dua hal. Yang pertama, banyak film yang dianggap film asli Selandia Baru, meski sebenarnya klaim itu masih bisa dipertanyakan ulang. Ian mencontohkan film fenomenal “Lord of The Rings” yang begitu dicintai rakyat Selandia Baru, sebagai film yang perlu dipertanyakan lokalitasnya. “Lord of The Rings diproduksi oleh sutradara, beberapa kru dan aktor Selandia Baru serta berlatarbelakang panorama Selandia Baru pula, tetapi film ini berbeda dari film Selandia Baru kebanyakan, bahkan naskahnya sendiri diadaptasi dari sebuah buku yang berlatar tempat di Inggris,” bubuhnya. Hal kedua, berkebalikan dengan kondisi yang dihadapi Indonesia, film Selandia Baru, seperti halnya film Kanada ataupun Australia yang berbahasa Inggris harus mampu bersaing dengan film-film Amerika.

Setelah Ian Conrich, Kamila Andini menceritakan kisah di balik pembuatan film bernuanasa Pasifik “The Mirror Never Lies”. Keputusan membuat film ini yang berlatar daerah Wakatobi dilandaskan kecintaanya pada olahraga menyelam dan laut. Tak hanya itu, filmnya pun mendapat dukungan dari pemerintah setempat dan WWF. Sejauh ini tak banyak film yang mengangkat tema serupa seperti yang dipilih dini.

Program Public Lecture diakhiri dengan foto bersama dan penandatanganan buku oleh para penulis buku Laut Bercermin (The Mirror Never Lies): Sebuah Catatan dan Tafsir Film.

Erni Maria Angreini