Program Public Lecure kembali dilangsungkan. Pada seri kelima dari tujuh kuliah umum yang ada, masalah pengarsipan menjadi topik pembicaraan. Bertempat di Ruang Seminar Timur Fisipol UGM, kuliah umum bertajuk “Problems and Prospects of Film Archive in Indonesia” sukses digelar pada Jum’at (2/12/2016).

Kuliah umum kali ini diselenggarakan oleh JAFF bekerja sama dengan Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM dan menghadirkan tiga pembicara yang akan mendedah kondisi tiga lembaga arsip film yang berbeda. Adalah Tee Pao Chew (Juru Arsip di Asian Film Archive), Budi Wibowo (Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY), dan Budi Irawanto (Dosen Departemen Ilmu Komunikasi UGM dan Direktur JAFF) yang didaulat menjadi pembicara dalam kuliah umum yang dihadiri lebih dari 50 orang ini. Sedangkan Novi Kurnia (Kepala Pogram Pascasarjana Ilmu Komunikasi UGM) ditunjuk sebagai moderator yang akan memandu jalannya kuliah umum.

Acara resmi dibuka dengan sambutan dari Dr. Erwan Agus Purwantto, M.si., Dekan Fisipol UGM. Dalam sambutannya Agus mengatakan bahwa menjadi juru arsip bukanlah sebuah pekerjaan prestisius. Meski begitu, dengan menjadi juru arsip seseorang telah menjadi agen perawat budaya dan sejarah. “Mengarsip film sama dengan merawat budaya dan sejarah suatu bangsa,” ujar Erwan

Ada beberapa hal yang menjadi fokus perbincangan tentang seluk beluk dunia pengarsipan film. Beberapa hal tersebut adalah: siapa yang bertanggung jawab dalam mendokumentasi dan mengarsip film? Siapa saja yang bisa mengakses koleksi arsip? Dan apa sajakah yang menjadi persoalan pengarsipan di era digital?

Tee Pao Chew membuka pembicaraan dengan membagikan pengalamannya bekerja di Asian Film Archive Singapura selama lebih dari delapan tahun. Perkenalan Tee dengan dunia pengarsipan film dimulai pada tahun 2009. Ketika itu ia telah setahun lulus dari kuliah di jurusan Studi Media dengan konsentrasi film. “Saya sangat tertarik berkecimpung di dunia perfilman, namun bukan pada proses produksi, melainkan lebih kepada aspek-aspek teoritis dan akademis film,” jelas Tee. Ketertarikan itu yang membawanya magang di Asian Film Archive (AFA). Dan sejak itu Tee terus mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya di bidang pengarsipan.

Selain karena ketertarikan pada dunia film, ada alasan lain yang cukup mengusiknya hingga ia memutuskan menjadi seorang juru arsip film di AFA. “Pengarsipan adalah hal terakhir yang dipikirkan dalam suatu proses produksi film. Padahal ini sangatlah penting. Itulah mengapa saya tidak ingin membuat film dan memutuskan membantu para pembuat film mendokumentasi dan merawat karya mereka,” tuturnya.

Meski pendokumentasian film amatlah penting, namun prosesnya tidak selalu mudah dilakukan. Bicara tentang pendidikan para juru arsip, misalnya, hingga kini belum ada pendidikan khusus yang ditujukan bagi para calon juru arsip. “Pengarsipan tidak ada pendidikan formalnya. Saya baru benar-benar belajar tentang arsip justru ketika sudah bekerja. Kami (para juru arsip) belajar dengan mengerjakannya,” cerita Tee. Untuk memperbahurui pengetahuan, pengarsip biasanya mengahadiri lokakarya dan pelatihan singkat baik di dalam maupun di luar negeri.

Selain masalah pendidikan, Tee juga menganggap kesadaran masyarakat untuk mengunjungi tempat pengarsipan masih sangat kecil. “Orang-orang cenderung hanya membuka arsip jika memang benar-benar membutuhkan,” ujar Tee. Tak hanya koleksi arsip yang belum dipergunakan secara maksimal, datangnya era digital pun turut menambah tantangan yang harus dipecahkan para juru arsip. Film semakin cepat hilang di era digital, sebab biasanya hard drive hanya bertahan hingga lima atau paling lama sepuluh tahun. “Penting untuk tidak menyimpan semua dokumen Anda di satu tempat saja,” pungkas Tee.

Seusai presentasi Tee Pao Chew, Budi Wibowo melanjutkan pembicaraan mengenai seluk beluk dunia arsip film. Kali ini Budi memberikan perspektif dari badan arsip yang dikelola oleh pemerintah daerah. Ada banyak hal yang menjadi ganjalan, namun diantaranya duai hal inilah yang dianggap Budi paling serius dan perlu segera mendapatkan penanganan: ketiadaan depot arsip yang memadai dan kurangnya kesadaran pembuat film untuk mengarsipkan karyanya.

Penyimpanan arsip video dan film membutuhkan tempat dan media khusus. Sayangnya, Badan Arsip dan Perpustakaan (BPAD) DIY belum meiliki hal itu. “Kita memerlukan gedung khusus yang tak mudah terbakar dan juga anti gempa. Sayang sekali bila kekayaan budaya dan intelektual harus musnah untuk sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah,” jelas Budi. Tidak hanya itu, gedung tersebut harus disesuaikan dengan iklim Jogja yang hanya mengenal dua musim, sebab temperature sangat berpengaruh pada kondisi film.

Selain persoalan sarana, hal lain yang mengkhawatirkan Budi adalah rendahnya kesadaran pembuat film, khususnya mereka yang berkarya di DIY. Budi amat menyayangkan rendahnya koleksi arsip film yang dimiliki BPAD, padahal pembuat film Jogja adalah yang termasuk paling giat berkarya. Ia pun membandingkan kondisi ini dengan arsip buku. “Penulis dan penerbit Yogyakarta lebih memiliki kesadaran untuk mendokumentasi hasil kerja mereka, dibandingakan pembuat film.

Memasuki sesi presentasi terakhir, Budi Irawanto menceritakan kondisi terkini Sinematek Indonesia (SI). Didirikan Misbach Jusa Biran dan Asrul Sani di tahun 1975 kondisi SI semakin menurun setiap tahun. Dari 2.714 koleksi Sinematek, sebagian besar dalam kondisi yang tidak layak. Kurangnya dana perawatan menjadi penyebab utama. Sebelumnya SI menerima pendanaan dari APBD Jakarta, namun sejak 2001 SI tidak lagi menerima dana terbut. Kondisi ini memaksa pengelola SI untuk menyewakan gedungnya demi menambah pundi-pundi uang. Ini tidak mengherankan sebab dana yang dibutuhkan sangat besar dan pemasukan tidak seimbang. Setiap tahunnya yayasan pengelola mengeluarkan uang sebesar Rp200.000.000, sedangkan mereka hanya mampu mendapatkan Rp100.000.000. Hal ini tentu bukan kondisi yang ideal. Menyitir Misbach Jusa Biran, Budi Irawanto berkata, “SI tak ubahnya manusia dalam kondisi koma. Meski masih mampu bernafas, kebanyakan anggota tubuhnya terus memburuk.”

Setelah presentasi Budi Irawanto berakhir dibuka beberapa sesi pertanyaan bagi peserta. Sesi tanya jawab sekaligus mengakhiri kuliah umum hari itu.

Erni Maria Angreini