Gertjan  Zuilhof, beberapa kali namanya “sliweran” di perhelatan JAFF tahun ini. Kehadirannya pun meramaikan perhelatan ini dengan karya Drawing Exhibition nya yang bisa dinikmati di Societet Taman Budaya sejak hari pertama hingga nanti berakhirnya festival ini. Tak hanya itu, dalam program Public Lecture, Zuilhof juga didapuk untuk mengisi sebuah workshop dengan pokok bahasan Curating & Programming.  Selain dikenal sebagai sejarawan seni, Zuilhof memang berprofesi sebagai kritikus film dan programmer festival film. Hampir sepanjang hidupnya, Zuilhof bekerja untuk International Film Festival Rotterdam, tetapi saat ini ia juga menjadi programer dan kurator independen.
Sebagai programer untuk Asia Tenggara, ia telah mengunjungi Indonesia beberapa kali dalam satu dasawarsa terakhir.

Workshop ini digelar di gedung Societet Taman Budaya, Jumat (2/12) dan diikuti oleh 50 peserta. Pokok pembahasan tentang bagaimana mengkurasi film dan membuat program film  ini dimulai dengan cerita pengalaaman Zuilhof dalam memulai pekerjaannya.

Zuilhof memulai ceritanya. Pada saat kuliah dia pernah menghabiskan masa 1 semesternya dengan menonton banyak film di bioskop lokal, kemudian dia mulai menulis apa yang menarik dari film itu, sehingga banyak yang ingin menonton. Namun pada satu titik dia berfikir sebaliknya, dia ingin menulis bagian kurangnya / kritik untuk film tersebut. Melalui tulisannya banyak yang  melihat Zuilhofsebagai orang yang pintar dalam menulis kritik  film untuk majalah mingguan.

Bagi banyak orang pondasi dari pekerjaan programming adalah menonton film, namun bagi Zuilhof yang paling krusial adalah strategi. Salah satunya yang penting adalah memiliki akses ke filmmaker, membangun relasi dengan mereka memberikan kita kesempatan untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh filmakker tersebut. Selain itu, seseorang yang berniat untuk menjadi seorang programmer dalam dunia film dan festival harus menyadari bahwa dunia ini bukanlah dunia yang baik-baik saja. Sinergi kerja di dalamnya juga dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Orang yang kita kenal intelegen, cerdas, jujur, ternyata tidak juga. Kesadaran ini menjadi alasan untuk meneruskan atau menyelesaikan begitu saja.

Menurut Zuilhof, menjadi kurating pun tidak cukup dengan hanya berbekal bakat, namun harus memiliki “kenikmatan” dalam menjalaninya serta mau mengasahnya terus menerus. Dalam dunia Curating & Programming, bukan penemuannya yang penting tapi bagaimana proses penemuannya itu yang terpenting.

Sesi workshop diakhiri dengan pemutaran film yang merupakan bagian dari program JAFF yaitu Chinese Independent Films yang berjudul WELCOM  karya Zhu Rikun dan MAN’S WORLD karya Han Tao.

Ayub Rohede