Di hari keempat penyelenggaraan 11th Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Kamis (1/12/2016), program Public Lecture kembali dilangsungkan setelah hari sebelumnya Rabu (30/11/2016) digelar Public Lecture pertama yang berjudul “Oceanic Culture in Asian and Pacific Cinema” di Gedung Dekanat FIS UNY. Tak tanggung-tanggung, di hari Kamis lalu dihelat 3 kuliah umum sekaligus: “Asia Pacific Film Market” menghadirkan Ajish Dibyo (Produser Film) dan Ian Conrich (Dosen Budaya Film dan Visual di University of Derby) sebagai pembicara serta Firly Annisa (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UMY) sebagai moderator, diselenggarakan di Ruang Sidang Pasca UMY; “Beyond Cinema” menghadirkan Yasuhiro Morinaga (Penata Musik dan Suara), Eijun Sugihara (Kurator Yamaguchi Center for Arts and Media), dan Loeloe Hendra (Pembuat Film) sebagai pembicara serta Budi Irawanto (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi UGM) yang berlaku sebagai moderator, diselenggarakan di Ruang Seminar TBY; dan  “Discovering New Talents” yang akan dibahas lebih lanjut di tulisan ini.

“Discovering New Talents” adalah kuliah umum terakhir dari tiga kuliah umum yang diadakan di hari Kamis (1/12/2016). Dilangsungkan di Ruang Seminar TBY, program ini menghadirkan berbagai praktisi dan akademisi film handal dan berpengalaman. Mereka adalah Isabelle Glachant (Direktur Chinese Shadows dan Asian Shadows), Park Sung Ho (Festival Film Kamboja), Gertjan Zuilhof (Juru Program Festival Film), dan Tito Imanda (Pembuat Film, Akademisi dan Antropolog) sebagai pembicara serta Kurniawan Adi (Dosen ISI Yogyakarta) sebagai moderator.

Isabelle Glachant menjadi pembicara pertama pada kuliah umum yang dihadiri berbagai peserta lintas disiplin dan kota. Pada kesempatan tersebut ia membagikan pengalamannya selama menjadi produser. Isabelle menekankan pentingnya perjalanan dan kunjungan ke berbagai festival film karena di sanalah para pelaku industri film biasa bertemu. Keterlibatan pegiat film (terutama mereka yang berusia  muda dan belum berpengalaman) pada festival-festival film memungkinkan mereka untuk ditemukan oleh orang-orang yang tepat, seperti produser, sutradara, dll.

Festival film bisa menjadi sarana yang tepat bagi bakat baru untuk dapat ditemukan. Meski begitu, Isabelle menghimbau para peserta agar tidak sekali pun membuat film untuk festival film tertentu. “Festival film memang penting, tapi jangan pernah membuat film untuk festival,” tegas Isabelle. Ia menambahkan bahwa ketika sutradara telah berpikir untuk mengikuti festival tertentu, maka produksi film telah melenceng dari tujuan utamanya, orisinalitas dan ide tak lagi murni. Tak hanya itu, proses pengerjaan pun menjadi terburu-buru. “Pembuatan naskah dan proses syuting jadi serba tergesa-gesa, penyuntingan pun begitu.  Seharusnya tidak ada tenggat waktu untuk semua itu. Anda boleh berhenti jika sudah merasa puas dengan yang Anda kerjakan, bukan karena tenggat waktu,” beber produser yang telah memproduksi film cina sejak 2004 ini. Selanjutnya Isabelle mengatakan bahwa lebih baik mengeksplorasi lebih dalam siapa diri kita, apa yang sedang dan ingin kita kerjakan dibanding mencurahkan usaha untuk menyenangkan kurator dan juru program festival tertentu. “Care about your film first and the people later!”

Beranjak menuju Gertjan Zuilhof, ia mengawali sesinya dengan sebuah pernyataan, “Saya tidak setuju dengan istilah ‘penemuan bakat’. Istilah ini tidak tepat.” Baginya bakat tidak ditemukan. “Pembuat film tidak ditemukan. Mereka dilahirkan dan memutuskan menjadi pembuat film,” argumennya. Selain itu, penemuan bakat baru bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan saat ini. Yang masih menjadi persoalan adalah bagaimana cara memperbaiki sistem yang telah ada agar bakat-bakat baru dapat dikelola semaksimal mungkin.

Pembicara selanjutnya adalah Park Sung Ho. Ia mendedah berbagai aspek terkait penemuan bakat baru yang didasarkan pada pengalamannya berkecimpung dalam pencarian bakat baru saat mengelola Festival Film Kamboja. Bagi Park, seorang pembuat film dapat dikatakan berbakat ketika ia dapat memenuhi semua kriteria ini: jujur dalam berkarya; memiliki visi yang jelas, baru dan berbeda; rajin dan bekerja keras; dan kemampuan untuk bertahan secara mental maupun finansial.

Selain harus memiliki beberapa aspek seperti yang telah dijelaskan di atas, seorang pembuat film pun harus mengetahui bahwa bukan hanya mereka yang mencari wadah yang tepat, tetapi juga banyak pihak yang berharap dapat menemukan bakat mereka. Pihak-pihak itu adalah festival film; lembaga pendanaan film; produser; internet; dan tentunya audien. Semua unsur dalam dunia film tersebut memiliki alasan masing-masing mengapa industri ini harus selalu menemukan bakat baru. Produser, misalnya, mereka mebutuhkan bakat baru untuk dapat melanjutkan industry film itu sendiri. Sedangkan audien atau penonton menginginkan bakat baru untuk membawa kesegaran dan kebaruan dalam khazanah kekaryaan film di negara tersebut.

Tak hanya berbagi tentang kriteria pembuat film berbakat serta pihak-pihak yang ingin menemukan bakat baru, Park juga memberi beberapa tips dan strategi untuk dapat menjadi pembuat film handal. Strategi yang dimaksud Park adalah: melakukan penelitian secara terus menerus; mengembangkan jaringan dan relasi; menerima kenyataan bahwa industri ini memang keras dan sulit ditaklukkan; dan menjadi diri sendiri .

Jika ketiga pembicara sebelumnya merupakan produser dan pengelola festival film, Tito Imanda yang menjadi pembicara keempat sekaligus terakhir adalah seorang dosen Jurusan Media dan Komunikasi di Binus International. Tito banyak bicara perihal peran universitas dalam menemukan talenta-talenta baru. Baginya sekolah film yang baik adalah yang memiliki struktur dan infrastruktur yang baik. Sekolah film membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan pengalaman yang akan mereka butuhkan ketika telah lulus. Bukan hanya sekedar itu, sekolah film bagus juga akan memberikan jaringan dan relasi yang akan sangat membantu mahasiswa di kemudian hari.

Sekolah film berkualitas menjadi salah satu agen pencetak dan penjaring bakat-bakat baru. Pendidikan formal menjadi penting bagi pembuat film. Namun membuat sekolah film bukan perkara mudah. Diperlukan dana besar untuk membangun infrastruktur yang memadai serta usaha berkelanjutan dalam mengembangkan keterampilan tenaga pengajar. Tito pun mengatakan bahwa lulus dari sekolah film tidak menjadi jaminan seseorang akan mampu membuat film. “Lulus kuliah film terdengar lebih pasti, tetapi membuat film belum tentu,” ujar Tito yang sedang mengerjakan disertasi mengenai film kolaborasi dengan kelompok wayang orang di Gunung Merapi.

Setelah seluruh pembicara menyampaikan materi masing-masing, dibuka sesi pertanyaan bagi peserta yang hadir. Sesi tanya jawab berlangsung cukup seru dan interaktif. Hal ini dapat dilihat dari sesi tanya jawab yang dibuka hingga empat kali. Sesi ini sekaligus menutup acara di hari itu.

Erni Maria Angreini